
Hari weekend sudah tiba, aku memutuskan ingin menghabiskan hari libur dengan tidur di ranjang empuk. Aku tidak peduli pada kedatangan adikku dan istrinya, karena aku ingin menghabiskan waktu sendiri.
Aku menggeliatkan tubuh, membenamkan kepalaku pada bantal kesayangan, aku tidak menghiraukan beberapa kali ketukan pintu itu berbunyi.
Hah, sekarang cukup sulit mendapatkan ketenangan dan kedamaian setelah Biru dan Luna menginap di rumahku. Aku heran, mengapa Biru bisa meninggalkan pekerjaannya. Dan ahh ya, aku baru ingat kalau sekarang Luna istrinya sudah hamil besar.
Aku kembali membenamkan kepala dan menutup kedua telinga, suara berisik mengganggu tidur cantikku.
"Ada apa? Aku masih mengantuk." Dengan terpaksa aku membuka pintu kamar dan melihat seorang wanita cantik tengah memegang perutnya yang hamil besar, ingin aku memarahinya karena sudah mengganggu tetapi melihat kondisinya aku menjadi tidak tega. Sudah aku katakan sebelumnya, aku orangnya tidak tegaan, hatiku selembut kapas namun terlihat garang di bagian luar.
"Aku sudah menyiapkan sarapan, ayo turun! Bersihkan air liur yang menempel di sudut bibirmu." Kekeh Luna yang hendak melangkah pergi.
"Kamu sedang hamil besar, jadi jangan mengerjakan apapun di sini."
"Aku tahu, aku hanya ingin melakukannya. Ayo turun dan bersihkan dirimu!"
"Baiklah, aku akan menyusul."
__ADS_1
Aku menghela nafas saat melihat kepergian Luna, seorang janda beranak satu yang berhasil memikat Biru. Hubungan keduanya sangat harmonis, tapi aku tidak ingin menikah.
Aku menggunakan cara cepat walau terbilang jorok, karena di pagi hari air terasa sejuk dan aku malas untuk membersihkan tubuh. Aku menggunakan dua jari membuang kotoran mata dan menghapus iler yang menempel, rambut di ikat acak dan masih menggunakan piyama navy.
Aku menghampiri semua orang di meja makan, namun aku menjadi pusat perhatian. Aku seperti miss kecantikan sejati, melambaikan tangan dan tersenyum indah.
"Kamu lagi apa Mba?"
Sontak perkataan Biru membuatku mendelik kesal, menghancurkan khayalan tinggiku. "Bukan apa-apa."
"Sayang, apa kamu tidak menyuruhnya mandi?"
"Entah mengapa cuacanya dingin, jadi aku ingin menghemat air."
"Ck, bilang saja kalau Mba malas mandi."
Aku tertawa dan sangat suka wajah kesal Biru, dia yang menjengkelkan sangat pantas memasang wajah begitu.
__ADS_1
Aku menjulurkan lidah mengejeknya. "Biarkan saja, masalah denganmu?"
"Dasar jorok." Umpat Biru kesal.
"Biarin, wlee." Balasku mengejeknya. Kami sudah seperti anak kecil, sementara Luna menjadi penengah di kala kami begitu. Jangan tanyakan Putih, dia lebih tertarik bermain dengan anak bawaan Luna yang bernama Kanaya, bahkan dunianya seperti terikat pada gadis kecil itu.
Sebagai pemilik rumah yang baik, aku membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor. Tengah asyik mencuci piring, seseorang menghampiriku dan memegang pundak.
"Mau sampai kapan kamu tidak menikah."
"Aku tidak memiliki pikiran untuk menikah."
"Aku tahu masih ada trauma di hatimu, Mba. Aku dulu juga begitu, tidak ingin menikah lagi setelah mantan suamiku mengkhianatiku. Perjuangan dari mas Biru meyakinkan aku dan membuktikan diri dan juga cintanya. Asal menemukan pria yang tepat, dengan sendirinya trauma perlahan menghilang walau masih membekas."
"Tapi aku tidak ingin menikah."
"Kamu mengatakan itu karena belum menemukan cinta sejati dan pria yang tepat, aku berdoa untuk kebaikanmu, Mba."
__ADS_1
Aku terdiam dan tersenyum sambil mencerna perkataannya, alur yang berbeda namun masih ada kesamaan membuatku kembali berpikir.
"Apakah ada pria yang seperti itu?" lirihku sembari mengangkat bahu dengan acuh tak acuh, kembali melanjutkan mencuci piring.