
"Ada apa denganmu?"
"Aku tidak ingin makan di tempat ini, semua orang menggosipkan itu dan itu sangat tidak nyaman."
"Hem, bagaimana kalau kita ke apartemen ku saja."
"Tidak, itu jauh lebih buruk." Aku menolak karena tidak ingin khilaf, apalagi Ariel selalu mencari kesempatan bila dia menemukan celahnya.
"Aku janji tidak akan macam-macam."
"Aku tidak percaya dengan perkataanmu!"
"Ayolah, di apartemen ku hanya ada kita berdua." Bujuk Ariel. "Dan aku bisa berdua denganmu tanpa ada halangan." Batinnya yang sudah memasang perangkap yang bagus.
"Tidak."
"Memangnya kamu punya solusi? Di tempat keramaian salah, di kesunyian juga salah."
"Baiklah." Ucapku menyetujuinya, aku sudah tidak sanggup menahan rasa lapar.
Untuk pertama kalinya aku berada di dalam apartemen seorang pria, aku terpukau melihat ruangannya yang sangat bersih juga rapi.
__ADS_1
"Ini apartemen sederhanaku. Duduklah di sana, dan aku akan menyiapkan makan siang."
"Mengapa tidak memesannya saja, itu lebih praktis dibandingkan memasak." Aku mulai protes padanya karena waktuku tidak banyak untuk istirahat, walaupun masalah kantor sudah diatasi tetapi aku masih ingin mengerjakan hal yang lainnya agar tidak menumpuk.
"lebih enak memasak sendiri daripada memesannya, aku janji tidak akan lama untuk memasak."
"Kamu yakin?"
"Ya."
Aku melihat dari beberapa meter kejauhan, ternyata dia juga bisa memasak. Di dapur dia begitu lihai dalam hal memasak, bahkan aku kalah darinya. Iya … sekali lagi aku kalah. Tapi aku tidak bisa mengklaimnya terlebih dahulu, belum mencicipi masakan yang dibuat olehnya.
"Tunggu apalagi, ayo kita makan!"
Aku langsung mengambil nasi dan juga makanan yang sudah di masak oleh Ariel, mencicipi masakan simplenya yang tidak membutuhkan waktu lama untuk memasak. Di suapan pertama, aku terbelalak karena rasa makanan yang di buatnya sangat lezat, keahliannya memasak tidak jauh berbeda dari Luna, adik iparku.
"Bagaimana rasanya?" tuturnya menanyakan pendapatku.
Aku memperagakan tangan sebagai bentuk sangat menyukai makanan yang di buat olehnya. "Ini sangat lezat, ternyata kamu pintar memasak."
"Dulu masakanku tidak selezat sekarang, tapi semenjak aku hidup mandiri memberiku beberapa keahlian seperti memasak misalnya."
__ADS_1
"Kamu sangat sempurna menjadi seorang suami, wanita yang mendapatkanmu pasti sangat beruntung," pujiku yang mengagumi masakannya.
"Aku tidak tertarik dengan wanita lain selain dirimu."
Seketika kedua pipiku merona, namun aku segera menepis perasaan itu. Aku tidak ingin menikah, dan akan tetap menjadi perawan tua.
"Mau menikah denganku? Aku punya beberapa keahlian, terutama urusan ranjang dan urusan perut."
Perkataan yang sangat ambigu membuatku langsung bisa mencernanya. Namun aku tidak ingin menunjukkan kalau aku ini payah, selalu saja di kalahkan oleh pria yang usianya sepuluh tahun di bawahku.
"Jangan sombong, aku tidak yakin denganmu. Dasar bermulut besar!" ledek ku sembari tersenyum mengejeknya.
Aku pikir dia tidak tersinggung, tapi aku salah saat dia berbisik di telingaku. "Mau mencobanya?"
"Siapa takut."
Kali ini aku benar-benar termakan omonganku sendiri, ucapan yang tidak bisa di tarik membuatku terjebak dalam masalah besar.
"Aku salah bicara, mati aku!" gumamku di dalam hati yang merutuki kebodohan ku sendiri.
"Aku tahu kamu mengerjaiku, ini terlihat sangat menyenangkan." Batin Ariel tersenyum jahil.
__ADS_1