Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Anya spikiater


__ADS_3

Aku segera beranjak dari kamar milik Ariel, sudah dua hari dia mencegahku keluar dari sini dan membuatku sangat bosan. Tapi dia sepertinya tidak peduli, apa aku ini tawanannya? Ah, entahlah … padahal aku hanya ingin bertemu dengan keponakanku yang baru lahir itu. 


"Kapan kamu membebaskan aku?" tanyaku pada Ariel yang sekarang berjalan menghampiriku?" 


"Hari ini." 


"Eh," aku tidak menyangka kalau dia mengatakan itu, berarti aku bisa bebas dan menghirup udara segar. 


"Tapi…." 


"Ck, ternyata pakai alasan." Umpat ku kesal di dalam hati, aku menarik ucapanku. 


"Ini tidak sulit, aku ingin mempertemukanmu dengan Anya." 


"Apa dia kekasihmu?" 


Ariel tertawa membuatku semakin bingung. "Bukan, dia temanku. Aku ingin memperkenalkanmu pada nya, sebab dia baru di kota ini dan tidak punya teman selain aku. Aku tidak mungkin menemaninya, kamu akan cemburu dan sakit hati nanti." Guyonnya. 


Aku menghela nafas jengah, dia terlalu percaya diri. "Aku tidak akan cemburu walau kamu menjalin hubungan dengan wanita lain." 


"Raut wajahmu terlihat jelas, tidak perlu berpura-pura." 

__ADS_1


"Terserahlah, aku ingin keluar dari sini."


"Bagaimana dengan permintaan ku? Kamu mau menemani Anya dan menjadikannya temanmu?" 


"Baiklah, hanya menemaninya saja, tapi bukan untuk menjadi temanku."


"Setuju, cari aman dan yang nyaman saja." 


Ariel membawa Iren untuk bertemu dengan temannya yang bekerja sebagai psikiater, pertemuan yang di sengaja demi kesembuhan sang wanita pujaan hatinya. 


Aku menatap seorang wanita yang usianya tidak jauh berbeda dengan Ariel, aku tersenyum di paksakan karena selama ini aku cukup kesulitan beradaptasi dengan orang baru. Dia mengulurkan tangan memperkenalkan dirinya, dan aku juga melakukan hal yang sama walau kaku. 


"Hai, namaku Anya. Kamu pasti Iren!" 


Ariel memberikan kode padaku, aku berjalan mengikutinya sedikit menjauh dari Anya. 


"Ada apa?" tanyaku.


"Aku ada urusan penting, jadi aku menitipkan Anya padamu." 


"Hei, dia temanmu bukan temanku. Jangan menyusahkan aku!" protesku, mana bisa dia memperlakukanku seenak udelnya saja. 

__ADS_1


"Ayolah, bantu aku sekali ini saja." Bujuk Ariel memelas, aku yang tidak tegaan itu terpaksa mengangguk menyetujuinya. 


Aku menghela nafas dan mengangguk pelan. "Baiklah, hanya kali__." Belum sempat aku meneruskan ucapanku, dia langsung memeluk juga mencium keningku, berlari begitu saja meninggalkan aku di cafe bersama


temannya yang masih asing itu. 


Sungguh, aku terdiam karena tidak tahu memulai darimana. Aku yang terkenal tertutup dan pendiam cukup membuatku kelimpungan beradaptasi dengan orang baru. 


Awalnya kami berbicara formal dan ternyata dia orangnya friendly, cukup mudah dia memberikan suasana nyaman saat pertama kali bertemu. Perlahan aku mulai nyaman dekat dengan Anya, kami bahkan yang tadinya terlihat asing dan kini malah terlihat seperti seorang teman. 


Beginikah rasanya punya seorang teman yang mengerti aku, dia memahamiku secara perlahan dan akupun juga nyaman berada pada Anya. Ya, pertemuan pertama yang cukup terkesan. 


"Aku bisa ilmu bela diri, mau mencobanya?" 


Aku merasa tertantang dengan perkataan Anya, ternyata dia juga bisa ilmu bela diri tapi bagaimana dia tahu kalau aku menguasainya? Sungguh membuatku pusing jika memikirkannya terlalu dalam. 


"Ayo, kebetulan aku ingin seberapa kemampuan yang sedari tadi kamu banggakan itu." 


"Aku akan mengalahkanmu, Iren. Tunggu saja!" 


"Belum di coba, belum tahu." 

__ADS_1


Keduanya memutuskan untuk pergi ke lokasi arena, tanpa mereka katahui sedari tadi Ariel masih berada di sana untuk mengawasi mereka. 


__ADS_2