
Aku diam sambil melirik Ariel, pertanyaan yang sebenarnya mengacu padaku. Aku berpura-pura bodoh dan menyeruput teh yang berada di dalam cangkir.
"Kami mencicil calon bayi." Ucap Ariel santai, menarik kursi dan duduk ikut menikmati makanan yang dia masak.
Byur!
Sekali lagi aku menyemburkan teh, dan tak sengaja mengenai wajah Putih. Senyuman di wajah gadis itu berubah cemberut, sedangkan aku menatap Ariel tajam berusaha tidak memperkeruh suasana yang sebenarnya sudah terlihat keruh.
"Apa kalian tidak malu membicarakan itu di hadapanku?"
"Memangnya kenapa? Kamu bukan anak kecil lagi."
"Ck, selera makanku hilang. Kalian lanjutkan saja!"
Aku melihat punggung Putih yang menghilang di balik pintu, segera mengalihkan pandangan pada pria di sebelahku yang tertawa menganggap itu lucu. Aku menginjak kakinya sekuat tenaga, melampiaskan kekesalanku yang pasti memunculkan kesalahpahaman lagi.
"Jangan memperkeruh suasana, itu akibatnya kalau kamu terus membuatku marah."
__ADS_1
"Ya baiklah, tidak akan aku lakukan lagi."
"Bagus."
Aku bersiap-siap untuk pergi ke kantor, pasti asistenku memerlukan aku namun dia segan untuk mengatakan kesulitannya padaku. Kali ini aku mengenakan rok pendek di atas lutut berwarna navy, atasannya memakai kemeja putih polos. Aku tidak ingin ribet dalam urusan apapun, seperti biasa menguncir rambut yang hanya sementara saja, di siang hari aku mengubah tatanan rambut panjang di cepol acak, karena menyukainya.
"Kamu pergi dengan pakaian seperti itu?"
Aku terlonjak kaget saat mendengar suara yang berasal di ambang pintu, ku lihat Ariel yang masih berdiri menyandarkan sebelah tubuhnya ke daun pintu, sedangkan tangannya terlipat ke depan dengan pandangan mata menyelidiki.
"Kamu mengejutkan aku."
"Ini gayaku, tidak perlu sok mengomentarinya." Ariel selalu saja membuat aku kesal padanya, apa dia tidak menyadari sudah menyinggung privasiku.
"Kamu lebih cantik menggunakan celana panjang atau rok panjang."
"Sudahlah, aku tidak ingin membahas ini." Aku berlalu pergi dan meninggalkannya sendiri, hari yang sangat sibuk tak ingin aku hancurkan mood yang sudah mulai aku tata kembali.
__ADS_1
Baru saja aku sampai ke kantor, seorang dokter yang menangani ibuku tiba-tiba saja menelepon dan membuatku sangat cemas dan juga panik. Sekali lagi aku menitipkan pekerjaanku pada asistenku, itu aku lakukan karena ibu jauh lebih penting dari apapun juga.
Aku berjalan perlahan mendekati ibuku, wanita yang sangat aku rindukan.
"Bagaimana dengan kondisi ibuku?" tanyaku pada dokter Arvan.
Aku semakin penasaran dan terus menatap dokter Arvan. "Bisakah kamu mengatakannya? Jangan diam saja! Aku takut terjadi sesuatu pada ibuku." Ucapku yang sedikit meninggikan intonasi suara.
"Syukurlah, ibumu sudah memperlihatkan perkembangannya."
"Apa maksudnya?"
"Ibumu sepertinya mendapatkan semangat baru setelah hari terakhir kamu datang kemari."
"Jadi ibu mendengarnya?" gumamku tampak berpikir keras.
"Ibumu mendapatkan semangatnya kembali untuk sembuh, dan jika di rawat dengan baik juga memberikan kasih sayang yang berlimpah, aku yakin nyonya Desi bisa sembuh.
__ADS_1
Kabar ini sangat membahagiakan aku, itu artinya ibu sembuh. Banyak hal yang aku pikirkan, mengenai pemulihan ibu, ternyata keajaiban itu benar-benar adanya. Aku menghamburkan pelukan pada ibu yang masih merasa linglung dan juga bingung.
"Bu, sebentar lagi kita akan bersama. Aku merindukan semua hal yang berkaitan dengan Ibu, mulai dari hal terkecil sampai hal yang terbesar."