Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Mereka menyukaiku?


__ADS_3

"Gila ya kamu, langsung ngajak ketemu orang tua." Aku sangat kesal pada Ariel, bisa-bisanya aku tertipu oleh pemuda itu. Aku mengusap wajah dengan kasar, menatap sang pelaku yang tidak merasa bersalah sedikitpun.


"Kita sudah sepakat loh Mba, masa mau ingkar janji." 


"Kamu gak kasihan lihat papa dan mama mu sampai tahu kalau hubungan ini palsu." 


"Jangan sampai mereka tahu lah Mba, aku melakukan ini karena terpaksa. Untuk menghindari perjodohan, aku mau menikah dengan wanita yang setara denganku." 


Aku menyerngitkan dahi menatapnya. "Maksudnya?"


"Aku gak suka sama perempuan yang usianya di bawah atau setara sama aku, pengennya sih menjalin hubungan dengan perempuan yang lebih dewasa, seperti Mba Iren." Terang Ariel, dengan sengaja mengedipkan sebelah matanya ke arahku. 


Aku menghela nafas, tidak akan mudah tergoda hanya dengan kedipan mata saja. Bertambahnya usia juga memberiku banyak pelajaran, terutama mengenai masalah pria modus seoerti Ariel. 


Dengan sengaja aku membuka jendela mobil, ku biarkan semilir angin menerpa wajahku. Udara menghembus wajah juga rambutku, aku merasakan bebanku sedikit berkurang. 


"Aku traktir makan ya Mba." Tawarnya tanpa menoleh ke arahku, dia sibuk mengemudikan mobilnya. 


"Aku masih kenyang, aku mau pulang aja."


Tidak ada obrolan setelah itu, suasana hening membuatku merasa semakin tenang. Tak lama terdengar suara dering ponsel, dan segera ku ambil dari dalam saku. 


Tertera nama Daniel di sana, aku merasa heran karena Ariel dan Daniel mempunyai kesamaan dan juga hobi mengganggu. 


"Halo." 

__ADS_1


"Iren, kamu lagi dimana?" 


"Aku ada di luar, ada apa?" 


"Ada hal yang harus kita bicarakan mengenai bisnis." 


"Sekarang?" 


"Ya, sekarang. Ini sangat penting dan tidak bisa menundanya lagi." 


"Baiklah. Kirimkan saja lokasimu, aku akan kesana."


"Baik."


Aku sedikit panik jika ini berhubungan dengan pekerjaan, itu sangat tergambar jelas di wajahku. 


"Bisa antarkan saya ke alamat ini?" Aku menunjukkan alamat itu, sedikit menangkap ekspresinya yang terkejut namun dia segera memulihkannya. 


"Mau apa Mba kesana?" 


"Pekerjaan, ini penting!" 


"Aku ikut ya." 


"Ngintip mulu deh, gak usah ikut! Ini urusan pekerjaan." 

__ADS_1


"Ayolah Mba, masa tega ninggalin pacar sendiri." Rengeknya yang membujukku. 


"Eits, ralat … pacar pura-pura dan ada masa tenggangnya." 


"Walaupun begitu aku juga kekasihmu Mba, aku ikut!" putusnya yang hanya bisa membuatku menghela nafas. 


"Terserah." Pasrahku. 


Aku heran, mengapa Ariel tiba-tiba ingin ikut denganku. Tapi ya sudahlah, asal dia tidak mengganggu pekerjaanku saja. 


Senyum merekah di wajah Daniel perlahan berubah tersenyum kecut, melihat seseorang yang datang bersama Iren. 


"Kok dia ngikutin kamu terus?" 


"Oh dia, biarin aja."


"Memangnya kenapa? Gak boleh? Aku pacarnya, jadi sah-sah saja ikut dengan Iren. Ada masalah dengan itu?" 


Suara gelak tawa Daniel memecah suasana, aku penasaran mengapa dia tertawa sampai terpingkal-pingkal. 


"Eh bocah, kalau mau ngelawak jangan di sini." 


"Apaan sih, garing." 


Aku heran, pembahasan mengenai kerjasama malah berubah haluan. Entah mengapa dua pria itu tak pernah akur membuatku pusing berada di sekitar mereka. 

__ADS_1


Suasana semakin memanas, diam-diam aku pergi dari keributan itu menuju toilet. Aku menghubungi Luna karena tidak tahu situasi apa yang sedang aku hadapi, tapi aku terkejut mendengar pernyataannya kalau kedua pria itu sedang merebutkan aku. 


__ADS_2