Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Mempunyai kesamaan


__ADS_3

Sesampainya mobil milik Ariel terparkir, aku terkejut saat kedua tangannya mengurung tubuhku. Tubuhnya sedikit membungkuk untuk menyeimbangkan tinggiku, hembusan nafasnya beraroma mint membuat jantungku berpacu dengan cepat. Aku memegang dada merasakan debaran yang tidak aku mengerti, Ariel terlihat seperti bocah tapi bila mode serius dia seperti pria dewasa. 


Aku mengerjapkan mata beberapa kali saat godaan itu datang, siapa yang bisa menolak wajah tampan dan tubuh kekar itu, seakan waktu berjalan dengan lama. 


"Ariel, lepaskan aku!" 


"Apa usiaku terlihat seperti seorang bocah sekarang?" ucapnya sambil mendekatiku, tidak ada jarak di antara kami.


Aku kembali berusaha mendorong tubuhnya, bahkan mempraktekkan ilmu bela diri yang selama ini aku pelajari. Namun, aku terkejut saat Ariel dengan mudahnya menangkis setiap gerakanku dan menggunakan teknik kuncian. 


Perlawanan yang terus aku lontarkan hingga berhasil keluar dari cengkramannya, bukan jalan damai di lewati melainkan adu kekuatan. Ya, aku menyerangnya dan dia berusaha menghindar dari serangan ku. 


Setiap kali aku menyerang dia selalu berhasil menangkis nya, mengunci pergerakanku hingga aku tidak bisa melawannya dan diam tak berkutik. 


"Masih ingin bermain-main, Sayang?" bisik Ariel semakin membuat bulu kudukku meremang. Aku hendak memberikan usaha terakhir dengan menghantam benda pusakanya, tapi aksiku malah di gagalkan. Tidak pernah aku mendapatkan lawan yang lebih kuat dariku, walaupun dia lebih muda tapi mempunya skill yang sangat jauh di atasku, terbukti aku kalah darinya.


Cup

__ADS_1


Dia mencium bibirku saat aku lengah, mencoba untuk memukul wajahnya tapi tanganku di tahan olehnya. Sekali lagi dia berhasil hingga aku menyerah dan pasrah. 


"Sudah menyerah?" tanyanya yang terlihat senyuman kemenangan di wajahnya, aku sangat kesal dan ingin sekali mencekik lehernya itu. "Boleh juga, tapi kurang power saat menyerang dan ada sedikit gerakan juga kuda-kuda yang belum matang. So, harus banyak-banyak belajar agar bisa mengalahkan aku." 


Aku terdiam seribu bahasa, sisi Ariel yang tidak aku ketahui, seakan dia memiliki kepribadian ganda. 


Di dalam mobil aku terdiam, dengan sengaja membuang muka ke luar jendela. Pemandangan kota yang sangat membosankan, tidak ada pilihan lain selain menikmati. 


Aku menoleh sekilas saat Ariel menyalakan musik, bisan yang aku rasakan perlahan memudar di kala mendengarkan irama lagu yang aku sukai. Ya, dia memutarkan lagi Avril Lavigne, menjadikan perjalanan terasa berwarna. 


"Aku menyukai semua lagu Avril Lavigne." Jawab ku tanpa sadar. 


"Benarkah? Sepertinya kita memang di takdirkan bersama, kita memiliki kesamaan." 


Melihat Ariel yang begitu semangat, akupun ikut andil karena dia juga menyukai semua lagu dari Avril Lavigne. "Dia ternyata asyik juga, ku kira hanya bocah pengganggu." Batinku yang kembali menilai pria yang duduk di sebelahku. 


Mobil berjalan dengan kecepatan tinggi, irama lagu membuat kami mengikutinya setiap lirik dan menjadi dekat. 

__ADS_1


"Wah, ternyata suaramu bagus juga." Puji ku. 


"Tapi suaramu yang lebih bagus. Eh, apa gak masalah aku panggil aku kamu? Maunya sih panggil sayang, tapi kanu pasti gak setuju." 


"Memang aku gak setuju, panggil mba membuatku minder serasa sudah tua." Jujur ku membuat Ariel tertawa. 


"Tapi panggilan sayang itu juga sangat bagus." 


"Tapi tidak bagiku." 


"Boleh ya," buju Ariel yang menatapku sekilas dengan pancaran mata seperti kelinci putih nan menggemaskan. 


"Gak, aku kamu lebih oke. Setuju atau tidak sama sekali!" tekanku yang tidak ingin berdebat lagi. 


"Baiklah, tidak ada pilihan lain." 


"Good boy." 

__ADS_1


__ADS_2