
Ariel berjalan semakin dekat, sedangkan aku memundurkan langkah. Aku gugup saat dia terdiam dan menatapku dengan raut wajah yang tidak bisa aku baca. Tidak ada tempat untuk mundur lagi, di halangi oleh dinding.
"Ka-kamu mau apa?" Aku menempelkan tubuhku di dinding, kedua tangannya sudah memblokir jalanku dan aku tidak punya kesempatan kabur.
"Aku ingin minta pertanggungjawaban darimu, kesalahan itu cukup fatal."
"Mengenai minumanmu, aku akan menggantinya. Dan … ciuman itu anggap bonus untukmu, lagipula kamu selalu menciumku, jadi kita impas!"
"Itu bukan impas, melainkan kamu mengambil kesempatan dalam kondisi yang mabuk."
Aku mendorong tubuh Ariel agar menjauh dariku, sangat tidak nyaman bila tidak ada jarak. "Apa kamu tidak bisa memaafkan orang mabuk? Aku melakukan itu tanpa aku sadari." Mencari pembelaan diri adalah jalan ninjaku, aku tidak ingin kesalahan sebab aku tidak salah sepenuhnya.
"Tetap aku tidak terima kamu mencoba untuk melecehkanku."
"Jangan sok dramatis, kamu diam-diam menyukai aksiku yang menggoda itu. Sekarang aku ingat semuanya, aku tidak bisa di salahkan. Kenapa kamu tidak mengambil tindakan saat aku mencium bibirmu? Kamu malah menikmatinya dan ikut dalam permainan itu. Jadi … kamu tidak bisa menyalahkan aku. Menyingkirlah!" dengan kekuatan penuh, aku mendorong tubuh pria itu sekuat tenaga hingga akhirnya aku lepas dari cengkeramannya.
Aku mengambil tas jinjingan dan pergi dari tempat itu, seraya menyisir rambutku menggunakan jemari dan merapikan pakaianku yang sedikit berantakan.
"Dia mencoba untuk menyudutkan aku, berandalan sialan." Umpat ku kesal.
__ADS_1
Aku melambaikan tangan mencegah taksi yang lewat, masuk ke dalam dan memintanya mengantarku pulang ke rumah.
Setibanya aku di rumah, semua orang malah memusatkan perhatiannya padaku, aku bingung mengapa mereka menatapku seperti melihat hantu saja.
"Turunkan pandangan kalian!" titahku berkata ketus.
"Kemana kamu semalam?"
Aku sebenarnya sangat gugup, tapi aku melawannya dan berpura-pura seakan tidak terjadi apapun. "Di kantor. Aku sudah mengabari kalian, tapi tetap saja kalian mencurigai aku."
"Jadi kamu tidur di kantor?" tanya Biru yang membuat aku jengkel, tatapan sangatlah tidak nyaman.
"Ya, lalu? Kamu pikir aku kemana?" cetus ku yang ingin melangkah pergi menuju kamar, tapi sialnya Biru malah menghalangi aku.
"Jangan mencoba untuk menceramahi aku! Minggir!"
"Jelaskan padaku dulu!"
"Menjelaskan apa? Tidak jelas."
__ADS_1
"Tadi malam aku ke kantor mu, tapi kamu tidak ada di sana. Security mengatakan kamu pergi dari siang hari bersama pria brondong, dan juga beberapa kesaksian para karyawan yang melihatmu pergi dengannya. Apa kamu menginap di rumah atau di apartemen pria itu? Pria yang memelukmu di hotel."
Kali ini aku tidak bisa membela diriku, terlanjur basah akibat bukti yang kuat.
"Aku … Aku."
"Aku tahu kamu mencoba untuk membela dirimu, Mba Iren. Tapi kali ini kamu tidak bisa menyangkal semua bukti yang aku dapatkan."
"Ya, aku menginap di tempatnya." Aku menghela nafas panjang, pasrah apapun pendapat mereka.
Aku menyerngitkan dahi menatap pasangan suami istri yang saling berkomunikasi, aku memilih duduk dengan santainya sembari minum segelas susu almond yang entah milik siapa.
"Aku sudah mendapatkan alamat pemuda itu, perbuatanmu ini sangat melewati batas kewajaran. Aku akan mengantarmu ke rumah itu!"
"Eh, apa maksudmu? Ini rumahku."
"Yang aku maksud adalah menikahkanmu, sudah dia kali kamu tertangkap basah bersamanya dan mau tidak mau kamu harus menikah." Putus Biru.
"Apa? Menikah? Apa kalian bercanda?" pekik ku histeris.
__ADS_1
"Tidak, kami serius dan ayah sudah tahu mengenai hal ini. Tidak ingin kejadian ini sampai terbongkar di luar, ayah akan menikahkanmu. Bersiaplah!"
"TIDAK!!"