
Aku menyambut tamuku dengan senang hati masuk ke dalam rumah, sekaligus menyampaikan permintaan maaf karena aku menggagalkan pernikahan. Dia menatapku serius, menunggu karena penasaran dengan apa yang ingin aku katakan padanya.
"Terima kasih, kamu datang ke sini bahkan sesuai perkiraanku." Ucapku yang di sertai kalimat sindiran.
"Jangan sungkan. Tapi apa yang ingin kamu katakan?"
"Aku tahu semuanya."
"Semuanya?" Ariel menelan saliva dengan susah payah, berpikir apakah rencananya gagal dan Iren tahu mengenai profesi Anya yang sesungguhnya. "Apa dia tahu mengenai Anya?" batinnya berharap cemas.
"Iya, aku tahu kamu mengikutiku ke rumah sakit jiwa dan mendengarkan semua keluh kesah yang seharusnya tidak kamu dengar. Dan aku hampir membunuh diri untuk ke dua kalinya, tapi sepertinya Tuhan tak membiarkan aku mati dengan sangat cepat."
"Huss, kamu ini bicara apa?" sela Ariel yang akhirnya bisa bernafas lega, ternyata rahasia identitas Anya belum di ketahui Iren dan bahkan dia dan keluarga pihak wanitanya yang mengatur skenario juga mengatakan kesukaan Iren.
Andai saja Iren tahu siapa Anya dan apa tujuannya, pasti dia tidak akan terima dengan penipuan sebesar itu.
"Aku mengatakan hal yang sebenarnya."
"Kalau kamu mati, bagaimana denganku?"
__ADS_1
"Eh." Kedua alis ku menyatu menatap Ariel.
"Kalau kamu tiada, aku akan jomlo seumur hidup. Kamu sudah di takdirkan bersama denganku, jadi kamu tidak perlu mencari alasan mengakhiri hubungan pernikahan kita."
Sontak kedua mataku terbelalak, hampir saja keliar dari tempatnya. Aku tidak menduga, Ariel tahu aku sengaja menciptakan drama hingga aku menghapus riasan yang menempel di wajahku.
"Ka-kamu tahu?"
"Apa kamu pikir aku ini bodoh? Dan tidak tahu apa yang ada di otakmu!"
Aku bertepuk tangan menatapnya dengan raut wajah terkejut bercampur ternganga. "Luar biasa." Pujiku sesaat. "Aku yakin Biru yang mengatakannya, dasar tukang adu. Awas saja kamu, onta!" gumamku pelan seraya mengepalkan kedua tangan.
"Ck, pasti itu hanya sebuah kecaman agar kamu bisa membuatku patuh padamu."
"Hah, ternyata kamu pintar juga."
"Apa kamu pikir aku ini bodoh? Bahkan aku lebih dulu mengecap pahit manisnya kehidupan."
"Usia tidak bisa mematok kepintaran seseorang, tapi aku percaya pada pengalaman." Ariel tertawa membuatku menatapnya mengintimidasi, dia mendekatkan wajahnya dan berbisik di telingaku. "Aku juga tahu ukuran pakaian dalammu."
__ADS_1
Aku terkejut dan menutup mulutnya. "Sttt … diamlah, dan jangan membahas itu lagi … itu sangat memalukan." Larangku sambil membuang wajahku ke samping sambil mengumpatnya, wajahku sekarang terlihat seperti udang rebus.
Ariel tertawa semakin membuatku kesal. "Sebaiknya kita melupakan ini, sebaiknya kita bermain truth or dare?"
"Aku tidak ingin bermain, itu sangat kekanak-kanakan."
"Alah, bilang saja kamu takut."
"Deal."
Diam-diam Ariel menarik kedua sudut bibirnya ke atas, dia sengaja ingin bermain truth or dare untuk mendapatkan tantangan.
Beberapa menit berikutnya, Iren kesal karena dia selalu saja kalah dan mencoba untuk tes kejujuran. Karena tidak ingin mengatakan apapun dan mengungkit masa lalu, dia lebih memilih tantangan.
Dengan sengaja Ariel meminta wanita itu agar mencium bibirnya, tak mau kehilangan kesempatan emas, dia menarik pinggang ramping untuk memperdalam ciuman yang semakin dalam penuh hasrat.
Iren merasa di manfaatkan mendorong tubuh Ariel, dia merasakan ada yang tegak dan menonjol tapi bukan keadilan.
"Oh ya Tuhan, apa itu tadi?" batin nya sedikit shock, sedangkan Ariel tertawa puas berhasil menjahili Iren.
__ADS_1