Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Langsung di nikahkan


__ADS_3

Dua orang yang saling bertarung di menangkan oleh Ariel, dia menghubungi orang-orangnya untuk menyeret Daniel dari kamar itu. Segera menghampiri Iren, wanita itu terus mengipasi tubuhnya. Dia tahu kalau Iren di pengaruhi obat perangsang, berusaha sebisanya menghilangkan efek obat itu. 


Tubuhnya sulit digerakkan, Iren yang menarik tubuhnya yang sudah berada di atas itu, imannya sekarang sedang di uji coba. Dia menelan saliva dengan susah payah, efek obat perangsang menjadikan wanita itu liar, terus menggodanya. 


"Ini tidak benar." Ariel berdiri dan menarik tubuh Iren membawanya ke kamar mandi, tapi terkejut dengan aksi tak terduga. Tiba-tiba tubuhnya menempel di dinding, mau kabur tapi di tahan oleh kedua tangan wanita itu yang terlihat sangat seksi. 


Glug


Jakunnya naik turun, tubuhnya terasa panas yang menjalar di kala merasakan tangan lentik dan lembut menyusuri tubuhnya. Keimanannya benar-benar di uji kali ini, tak ingin dirinya melakukan hal itu tanpa meminta izin. Godaan selalu datang padanya, iman setipis tisu mulai tergoyahkan karena dia masih pria normal, seekor kucing di beri umpan ikan pasti akan melahap nya habis. Bukan karena niat dan moral, melainkan kesempatan seekor kucing yang di suguhi ikan segar. 


"Iren, sadarlah." Ariel mendorong tubuh wanita itu dan menggendongnya ala sekarung beras menuju kamar mandi, segera dia memerintahkan orang-orangnya untuk membawakan es batu dalam jumlah banyak. 


Usaha yang berakhir sia-sia, melihat pemandangan yang sangat indah. Iren yang perlahan menyingkap gaunnya ke atas membuatnya salah tingkah, segera dia mengusir bawahannya agar keluar dari kamar. 


"Aku sudah tidak tahan lagi, tolong bantu aku! Sentuh aku! Please!" rengek Iren yang sudah tidak bisa menahan rasa yang bergejolak di dalam dirinya, obat perangsang dengan dosis tinggi sudah tak mempan melakukan segala upaya. "Ariel, aku sudah tidak tahan." Bisiknya dengan manja, suara yang keluar terdengar seperti des*han cetar membangkitkan sesuatu. 


"Sial." Ariel yang berusaha menahankan hasratnya sudah tergoda sekaligus tidak tega melihat Iren yang tersiksa. 


"Please Ariel, aku sudah gak sanggup lagi, ini sangat-sangat menyiksa."


"Aku berjanji padamu, setelah ini aku akan menikahimu." 


"Terserah, ini sangat menyiksaku." Ujar Iren yang meliuk-liuk seperti ikan mujair, gaun yang tersingkap semakin menambah keseksiannya. Ariel sudah tidak tahan dan hasrat mengalahkan segalanya, memenuhi permintaan Iren yang terdengar menyiksa. 


Keduanya melakukan hubungan yang seharusnya tidak di lakukan, apapun alasannya tetap tidak di benarkan mengingat keduanya masih punya agama dan aturan. Melakukan hal terlarang memang mendapatkan kenikmatan tapi hanya sesaat, mereka tidak tahu apa yang akan menanti keduanya sudah melakukan hubungan terlarang. 


Plak … plak … plak


"Dasar anak kurang ajar, apa Papa mengajarimu menjadi pria brengsek?" Seorang pria paruh baya menunjuk wajah Ariel, tatapannya tak terlepas dari mangsa yang ada di hadapan mata. 


"Ini terpaksa, keadaan membuatku melakukan hubungan itu." Jelas Ariel menundukkan wajahnya, tidak berani menatap ayahnya yang sangat marah. Dia mengedarkan pandangannya pada mamanya yang terus menangis tanpa bisa melakukan apapun. 

__ADS_1


Plak


"Sia-sia aku mengajarimu agama, tidak punya adap dan sopan santun." Pria paruh baya itu menoleh ke ayah Bintang yang menangis mengenang nasib putri sulungnya, entah dia harus berbuat apa sekarang. "Bintang, tolong maafkan putraku." Katanya sambil menyatukan kedua tangannya, raut wajah penuh penyesalan terlihat sangat jelas. 


"Tidak ada cara lain, sebelum aib ini tersebar … kalian berdua harus di nikahkan hari ini juga!" 


Luna menatap kakak iparnya dengan kesedihan juga rasa simpati, Iren tidak bisa di salahkan sepenuhnya, melainkan Daniel yang punya konsep ide. 


"Aku belum siap menikah." 


"Cukup Iren! Apa kamu ingin aib ini tersebar luas? Bagaimana perasaan ibumu kalau sampai tahu hal ini." Sergah Biru yang sangat marah, menatap Ariel dendam dan ingin sekali dia memukul wajah pria itu yang sebentar lagi menjadi kakak iparnya, walau usianya lebih tua. 


Biru mengepalkan kedua tangannya, berjalan maju menghampiri Ariel, kedua tangannya terkepal, tak lupa gertakan gigi yang sedikit mengatup. 


"Sayang, kamu mau apa?" Luna dengan cepat menghentikan suaminya. 


"Aku ingin menghajarnya, rasanya tanganku gatal. Sekali saja Sayang, janji." Biru menatap istrinya dengan senyuman di paksakan, jika tidak di hentikan maka hatinya terpuaskan. 


"Tidak. Kembali ke tempatmu!" titah mutlak Luna, sedangkan Biru menghela nafas karena tak bisa melawan. Bukan tanpa sebab, siap-siap dia mengungsi ke kamar lain. 


Kedua keluarga sudah sepakat untuk menikahkan mereka, aib akan tersebar luas jika tidak di atasi sedari awal. 


Ariel menarik oksigen dalam dan mengeluarkan karbondioksida secara perlahan, menjabat tangan ayah Bintang dan meyakinkan dirinya sendiri yang sedari tadi sudah gugup. Walaupun pernikahan dadakan ini terjadi karena kecelakaan, tapi dia harus bertanggung jawab sudah membuka segel Iren. 


"Ternyata aku yang pertama kali mendapatkan keperawanannya," batinnya yang tersenyum diam-diam, hal itu di perhatikan oleh Biru yang tidak suka jika calon kakak iparnya bahagia. 


"Jangan senang dulu, lihat apa yang aku lakukan nanti." 


"Mas Biru tidak bisa berubah," gumam Luna yang menggelengkan kepalanya pelan. 


Setelah acara selesai, sekarang keduanya telah sah menjadi pasangan suami istri. Iren yang sedari tadi jengkel dengan pakaian yang di kenakannya sangatlah menganggu. 

__ADS_1


"Hah, kebetulan kamu masuk. Bantu aku buka resleting baju ini!" Iren melambaikan tangannya pada Ariel. 


Ariel berjalan mendekat dan berisi di belakang tubuh istrinya, perlahan menurunkan resleting baju pernikahannya dan membuatnya kembali di uji coba bermain hasrat. Tengkuk putih yang di tutupi rambut-rambut halus menambahkan keseksian dari istrinya, jakun naik turun menelan sesuatu untuk mencerna hasratnya agar tak bergejolak. 


"Kenapa lama sekali? Kamu gugup? Heh, padahal sudah mencicipinya menyeluruh, untuk apa sok juak mahal." 


"Eh." Otak mesum Ariel bekerja tiga kali lipat dari biasanya, menganggap perkataan Iren sebagai lampu hijau untuk bisa memiliki snag istri sepenuhnya.


Ariel mendekatkan wajahnya, kedua tangan sudah mendarat di leher dan juga telinga istrinya. Lampu hijau semakin menambah semangat, sekaligus mereka sudah halak melakukannya. 


Ariel yang sekarang hanya memakai pakaian bagian dalam penutup area sensitif itu hendak membukanya dan polos di hadapan istri, ini dari kesepakatan keduanya. 


Hendak melakukan penyatuan setelah semuanya tak tertahankan, tapi dia sangat terkejut saat pintu diketuk berulang kali. 


"Dasar pengganggu, tunggu disini!" 


"Memangnya aku mau lari kemana?" 


Ariel segera membuka pintu dan mengintip keluar, namun dia sangat kaget juga shock saat tangannya di tarik paksa keluar dari kamar pengantin. 


"Cuma pakai kol*r, mana gambarnya Doraemon." 


"Diam!" 


"Dasar bocah, ini rumahku dan seharusnya kamu patuh!" Biru mengambil kesempatan itu menyeret tangan kakak iparnya. 


Ariel menghela nafas jengah. "Dasar lebah pengganggu." 


"Kita harus berkenalan secara nyata." 


"Aku sudah mengenalmu, untuk apa berkenalan lagi." 

__ADS_1


Biru berusaha menggagalkan malam pertama, tapi sia menemukan kekesalan di wajah kakak iparnya membuatnya semakin bersemangat. 


"Jangan ganggu pengantin baru, seperti tidak pernah saja!" umpat kesal Biru sambil melihat kepergian dari kakak iparnya. 


__ADS_2