Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Topeng badut


__ADS_3

Iren mencurahkan seluruh perasaan yang selama ini terpendam, melampiaskan kemarahan karena sudah mengatur kehidupannya. Dia ingin bebas, dan beranggapan kalau hidup adalah milik dia sepenuhnya.


Dengan sengaja make up di wajahnya di usap kasar dan berantakan, namun dia tidak peduli demi membuka suara atas hak yang dia miliki. 


"Ada apa denganmu?" tanya Biru yang menautkan kedua alisnya dengan penasaran. 


"Kami masih bertanya aku kenapa? Apa ada di antara kalian memikirkan apa yang aku inginkan, hah? Perselingkuhan dan pengkhianatan yang torehkan ayah pada ibuku menimbulkan luka cukup dalam, dan aku trauma menikah."


"Iren, ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Kami sangat mencemaskanmu," Ujar Luna yang mencoba untuk menenangkan Iren. 


"Jangan ikut campur, Luna. Kamu hanya orang luar, jangan sok menggurui ku."

__ADS_1


"Jaga bicaramu pada istriku!" hentak Biru yang tidak terima. 


"Apa? Berhentik berpura-pura peduli padaku, kulit aslimu sudah terlihat sekarang, dan kalian juga hanya bisa menyabotase aku."


"IREN." Ucap ayah Bintang yang berteriak karena kekacauan semakin meluas. 


Iren tertawa sedih dan bertepuk tangan, dia sekarang tahu mengapa keluarga dari wanita yang merebut ayahnya dekat dengannya. "Wow Ayah, bahkan kamu juga membentak ku demi membela putra kesayanganmu. Mengapa kalian mendekatiku dan begitu baik padaku, hah? Aku hanya ingin hidup tenang. Semenjak kalian hadir, selama itu pula aku tidak bisa mendapatkan kedamaian."


"Ini sudah cukup, Iren. Kamu keterlaluan!" Biru mengatur nafasnya menenangkan dirinya agar emosi tak meluap. 


"Jangan mengambil keputusan dalam kemarahan, Kak."

__ADS_1


"Diam! Kamu masih kecil, jangan ikut campur urusan orang dewasa." Ucap Iren menatap Putih. 


Rasa tekanan yang di berikan oleh orang sekelilingnya membuat Iren hampir frustasi dan depresi, awalnya dia bisa hidup bebas walau tidak menerima kasih sayang dari kedua orang tuanya. Setelah dia memaafkan semuanya dan mulai membentuk hubungan baru, dirinya malah di tekan menjadi seperti yang mereka inginkan. 


"Jadi kamu hanya menganggap kami berpura-pura?" tanya Biru pelan menatap Iren dengan raut wajahnya kecewa juga sedih. 


"Ya, aku berpikir dengan apa yang aku rasakan, itulah yang sebenarnya terjadi." 


"Ayah tahu, selama ini menelantarkanmu dan tidak pernah memberimu kasih sayang yang seharusnya kamu dapatkan. Kami memutuskan untuk mu menikah karena ingin hidupmu indah dan berwarna, tidak selamanya kami bisa menjagamu." Jelas pria paruh baya yang duduk di atas kursi roda, dia menangis karena di masa lalu membuat kesalahan fatal hingga putri sulungnya mencurigai niat mereka. 


"Jangan pernah berpura-pura di hadapanku, silahkan kalian boleh membenciku ataupun menghinaku. Tapi aku akan memegang prinsipku yang tidak ingin menikah, lebih baik aku hidup sendiri tanpa tekanan dari orang-orang egois." 

__ADS_1


Iren berlari masuk ke dalam kamarnya, menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur dan membenamkan wajahnya pad bantal. Dia berteriak dan meluapkan emosinya, menangis sepuasnya karena dirinya sangat-sangat lelah. 


"Aku tidak ingin memakai topeng badut untuk mereka," ucap Iren di iringi isak tangisnya yang pecah. 


__ADS_2