
Aku menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, mempersiapkan diri untuk bertemu dengan ibuku yang mengalami depresi berat dan cukup sulit menyembuhkannya karena tekanan batin yang di berikan oleh ayahku. Walaupun aku sudah berdamai dengan masa lalu dna memaafkan ayahku, tetap saja luka itu masih membekas.
Perlahan aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan putih, menghampiri seorang wanita paruh baya yang menatap lurus dengan tatapan kosong. Rambut pendek di atas bahu sudah menjadi ciri khas ibu, walaupun dia tidak waras tapi selalu meminta orang untuk memotong rambutnya saat memanjang.
"Ibu, aku datang untuk mengunjungi Ibu." Ku dekap tubuh ibu dengan erat, air mata menetes dengan sendirinya. Aku sangat bahagia bisa memeluknya, namun ibu hanya diam dengan tatapan kosongnya.
"Aku akan mencoba mencari dokter khusus untuk ibu, agar ibu segera sembuh." Aku mencium pipi ibuku dan menangis.
Ehem
Aku mendengar seseorang yang berdehem, segera aku menyeka air mata dan menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang pria mengenakan jas putih, pria yang selalu merawat ibunya.
"Deno. Kirain siapa!"
"Maaf, aku datang di waktu yang salah. Aku akan datang lagi nanti."
"Masuk saja." Aku mempersilahkannya untuk masuk, tentu ingin mendengar kabar dan berita mengenai kondisi ibuku. "Apa ada kemungkinan ibuku bisa sembuh?" tanyaku penuh harap.
__ADS_1
"Kemungkinan untuk sembuh hanya tiga puluh persen, dan hal itu kamu harus membuat ibumu agar bisa berjuang. Karena percuma saja melakukan pengobatan kalau hati ibumu tidak menginginkannya."
Setidaknya aku masih memiliki harapan, bukankah tiga puluh persen itu jumlah yang cukup? Aku terus meyakinkan diri dan mengharap ibuku bisa sembuh total. Aku rindu masakan ibu, kasih sayang, cinta, dan omelan ibu. Hidupku terasa hampa, semangatku ikut pergi bersama ibu.
"Deno." Lirihku pelan.
"Hem."
"Apa kamu punya kenalan dokter yang bisa menyembuhkan ibuku?"
"Kamu tidak punya informasi dari dokternya?" tanyaku penuh harap, namun melihat Deno yang menggelengkan kepala membuatku putus asa.
"Aku akan mencoba mencari alamat dan kontak dari dokter itu."
"Iya, aku hanya ingin ibuku sembuh."
"Tidak ada yang tidak mungkin. Oh ya, aku dengar kamu memaafkan ayahmu."
__ADS_1
"Begitulah, aku sadar kalau menyimpan dendam hanya akan membuatku tidak bisa maju. Aku ingin bangkit dari keterpurukanku, berdamai dengan masa lalu dan menerima dua anak ayahku yang berbeda ibu sebagai adik. Ternyata mereka tidak buruk, aku selalu terhibur dengan mereka."
"Semua pasti ada hikmahnya. Kamu wanita yang sangat kuat, mandiri, dan juga tegar."
Aku tersenyum dan melihat kepergian Deno, dokter yang aku kenal sekaligus menjadi temanku. Dia sangat pandai membuka suasana agar lebih hangat, aku yang mengurung diriku dalam dunia luar perlahan mulai terbuka padanya karena sudah membantu merawat ibuku.
Brak
Aku yang tersadar dari lamunan saat mendengar benda yang di lemparkan pecah berderai di atas lantai, segera berjalan menghampiri ibu yang tiba-tiba saja mengamuk.
Aku menangis sambil memeluk ibuku yang terus menyakiti dirinya sendiri, tidak ada yang memahami penderitaanku melihat ibuku seperti itu. Segera aku berteriak memanggil Deno, dan pria yang sigap itu menyuntik sesuatu ke tubuh ibuku. Perlahan amukan mereda, namun tubuh ibuku lemah.
Aku membantu Deno meletakkan tubuh ibu di atas brankar, tangisan karena sedih melihat ibu begitu.
"Kamu sebaiknya pergi, biarkan ibumu beristirahat."
"Baiklah." Patuhku yang sebenarnya sangat sulit melangkah pergi meninggalkan ibu seorang diri, demi kebaikannya terpaksa aku pergi dengan luka di hati.
__ADS_1