
Di malam harinya, aku tidak bisa tidur walau sudah mandi air hangat dan lilin aromaterapi. Ciuman itu masih terbesit di dalam pikiran, tanpa sadar aku menyentuh bibirku dan mengingat bagaimana permainan bibir kami bersatu.
"Sebaiknya aku berenang," monolog ku yang berusaha melupakan kejadian itu.
Byur
Air kolam yang sejuk terasa sampai ke tulang, berenang bebas menyusuri setiap sudut kolam terasa sangat menyenangkan.
Putih terbangun dari tidurnya merasakan ada suara yang berisik berasal dari kolam yang kebetulan kamarnya berjarak dekat.
"Kok ada suara di kolam renang? Mana tengah malam." Putih mengucek kedua matanya, beringsut dari tempat tidur menuju balkon. "Kak Iren?"
Iren yang tengah asik berenang, dia menoleh kebelakang dan berteriak terkejut melihat sosok wanita bergaun putih dengan rambut yang tergerai berantakan.
"Hantu," pekik Iren yang segera naik ke daratan. "Pergi kamu, aku tidak mengganggumu."
"Kakak kenapa? Harusnya aku yang berkata seperti itu. Malam-malam kok berenang, apa gak beku itu kulit."
Iren memicingkan kedua matanya melihat dengan jelas, sosok yang dikira hantu ternyata adiknya yang memakai pakaian putih dan rambut berantakan karena bangun tidur.
"Bukan urusanmu, masuk sana! Nanti kamu bisa masuk angin, aku yang repot." Ledek Iren membuat Putih cemberut.
****
__ADS_1
Hachi … Hachi … Hachi
Dengan cepat aku menutup hidung dan mulut, takut bersinku bisa menular pada orang lain. Aku terkekeh menasehati Putih tapi aku sendiri melanggarnya, sekarang aku terkena pilek karena tidak biasa mandi air dingin di malam hari.
Aku kembali bekerja, pilek tak akan mengurangi kinerja ku untuk menciptakan karier yang cemerlang.
Terdengar suara ketukan pintu mengalihkan seluruh perhatianku, dengan cepat mengelap ingus yang keluar dari hidung.
"Masuk!"
Seorang wanita berambut pendek datang menemuiku membawa berkas di tangannya, dia asistenku sekaligus tangan kanan yang mengatur urusan usaha tekstil keluarga.
"Apa apa?"
"Kapan dia kesini?"
"Baru saja."
"Apa saya boleh membawanya ke ruangan ini Nona?"
"Ya, suruh dia masuk. Jangan membuat rekan bisnis ku menunggu, demi keuntungan."
"Baik Nona."
__ADS_1
Sudah berdiri seorang pria tampan di hadapanku, hendak menanyakan hajatnya tapi bersinku kembali kambuh merusak suasana.
"Kamu sakit, kita ke rumah sakit!"
Belum sempat aku menjawab, Daniel lebih dulu menarik tanganku agar mengikutinya.
"Tidak perlu berlebihan, ini cuma pilek yang dalam beberapa hari sembuh."
"Tetap saja harus di obati."
Membawa ku secara paksa sangat keterlaluan, beberapa kali aku mencoba agar Daniel tak perlu bereaksi berlebihan.
"Ayo masuk!" perintah Daniel yang membantu Iren.
"Tidak perlu bersimpati padaku! Aku bisa mengatasinya." Jawabku sesantai mungkin.
Daniel menatap mataku dalam dan intens, memegang kedua bahu seperti meyakinkan aku pada keputusannya yang cepat.
"Karena aku menyukaimu, aku tidak ingin kamu sampai kenapa-kenapa dan sakit."
"Baik Ariel maupun Daniel sepertinya salah paham kepadaku, mereka tidak tahu kalau aku tidak akan pernah mempercayaiku." Batinku menghela nafas. "Maaf, aku tidak bisa membalas perkataan mu."
"Apa kurangnya aku? Aku tampan, kaya, dan mapan. Semua wanita menyukaiku, dan bahkan dengan sukarela menawarkan dirinya menjadi penghangat ranjangku. Tapi kamu wanita yang berbeda, sesuai dengan tipeku yang iin sederhana.
__ADS_1
"Aku tidak percaya laki-laki maupun membuka hatiku pada pria lain, itu hanya mengundang pengkhianatan yang aku sendiri sangat trauma dengan permasalahan perselingkuhan, dan juga sakit itu bika terikat."