
Di sepanjang perjalanan pulang, aku hanya terdiam juga tidak ingin menoleh pada Ariel, walau dia terus berusaha mencairkan suasana. Aku tidak bisa menyalahkannya, kesalahan juga terjadi karena ku yang mau di bawa pergi olehnya. Aku menghela nafas berat, ku pandangi pemandangan di luar jendela mobil yang lebih menarik di bandingkan pria di sebelahku.
"Sedari tadi aku membawamu berbicara, tapi kamu malah diam saja. Apa kamu pikir aku sedang bicara dengan patung," ucap Ariel.
"Ck, seharusnya dia tidak muncul saat video call berlangsung." Gumamku yang ternyata terdengar di telinga Ariel.
"Jadi masalah itu kamu mendiamkan aku? Aku tidak tahu akan terjadi seperti ini."
"Ya, karena ulahmu yang sembrono itu aku pasti mendapatkan masalah."
"Apa salahnya aku memeluk, toh bukan berhubungan badan."
"Ck, pikiranmu sungguh dangkal. Turunkan aku!"
Aku sangat kesal juga jengkel pada Ariel, masalah ini pasti sampai ke telinga ayah dan juga Biru.
"Ya Tuhan, apa yang akan aku katakan nanti? Semoga Putih belum memberitahukan mereka, akan aku tutup mulutnya bila memiliki kesempatan." Batinku berharap.
"Apa kamu tidak dengar? Turunkan aku di sini!"
__ADS_1
"Tidak, di sini sepi."
"Tidak perlu mencemaskan aku, aku bisa membela diriku sendiri."
Wajahku kembali ke mode jutek, menatapnya karena tidak mengindahkan permintaanku. Aku terus memaksanya, hingga sekarang aku bisa keluar dari mobil dan berjalan menjauh. Namun Ariel malah mengikutiku dari belakang, dan hal itu membuatku bertambah kesal.
Aku menoleh ke belakang. "Jangan mengikutiku, aku bisa menjaga diriku sendiri." Ucapku sedikit tegas.
"Aku tidak bisa meninggalkanku sendirian."
"Anggap saja kamu pergi sendiri, pergilah! Dan jangan membuat mood ku semakin kacau." Baru saja aku memberikan peringatan padanya, Ariel justru menggendong tubuhku seperti sekarung beras. "Kamu gila!"
"Ya, aku tergila-gila padamu."
Aku sudah berusaha agar terlepas darinya, tapi kekuatan Ariel lebih kuat di bandingkan aku.
"Sial." Aku menatapnya tajam saat ciuman itu di lepaskan, ku usap bibirku dengan kasar menghilangkan bekas bibirnya.
Sedangkan Ariel terlihat sangat senang, kesempatan yang tidak dia sia-siakan.
__ADS_1
"Berhenti mengambil kesempatan, bedebah kecil." Umpatku kesal.
"Benarkah? Tapi aku rasa kamu juga menikmatinya."
"Itu seperti pelecehan."
****
Sepasang mata menatapku dengan penuh menyelidik, tidak pernah aku berada dalam situasi seperti ini dan sialnya aku sudah seperti anak kecil yang di hukum ibunya.
"Sudah banyak pria kenalan kak Biru dan mengatur kencanmu, jadi ini alasannya mengapa setiap pria yang di kenalkan itu tidak pernah membuat Kak Iren puas! Dan ternyata Kakak punya kekasih."
Aku terkejut di bagian akhir, saat Putih bukan memarahiku tapi justru bersorak karena mengira aku akan melepaskan masa lajang dan menikah.
"Ini tidak seperti yang kamu bayangkan."
"Ini berita yang sangat luar biasa, akhirnya kakakku sebentar lagi menikah dan gelar perawan tua akan di buang."
"Aku bukan perawan tua! Tapi tidak ingin menikah."
__ADS_1
"Heh, itu terdengar sama saja. Aku akan beritahu ini pada kak Luna dan kak Biru, pasti pasutri itu bahagia."
"JANGAN!"