Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Sesuai prediksi


__ADS_3

Menarik oksigen dan mengeluarkannya secara perlahan, aku tersenyum kala mendapatkan lawan yang sepadan. Aku mengagumi Anya yang ternyata berhasil menyeimbangkan permainan adu beladiri, aku seperti mendapatkan kehidupan baru. 


"Wow, itu tadi luar biasa." Puji Anya yang mengulurkan tangan. Aku tersenyum juga mengukurkan tangan, dia berhasil mengalahkan aku. "Karena aku yang menang, bagaimana kalau aku mentraktirmu?" 


Aku tertawa. "Harusnya yang kalah yang mentraktir yang menang, bukan sebaliknya, kebalik itu." 


"Gak apa-apa. Kamu mau makan apa?" .


Aku sempat berpikir karena tidak ada yang ingin aku makan. "Kamu yang nentuin, aku gak nurut aja." 


"Bagaimana dengan cemilan manis seperti roti bakar atau martabak? Apa kamu mau makan yang pedas-pedas, seperti seblak misalnya. Eh, tapi ini menu sederhana yang banyak di jual di pinggir jalan." 


Aku merasa Anya itu aneh, biasanya orang yang tinggal luar negeri paling anti dengan jajanan di pinggir jalan. "Kamu yakin mau makan itu?" tanyaku dengan kening yang berkerut. 


"I-iya, apa kamu tidak masalah? Atau kamu sendiri yang menentukan menunya, maklum seleraku desaan."


Aku tersenyum bukan untuk mengejeknya, sekali lagi Anya berhasil membuatku terkesan padanya. "Bukan kamu saja, aku juga tak masalah makan jajanan di pinggir jalan. Selera kita sepertinya sama, apa ini hanya kebetulan saja?" 


"Eh, benarkah? Kalau tidak ada masalah, sebaiknya kita berangkat berbulu kuliner jajanan di pinggir jalan." 


"Ayo." 


Anya melihat ke lain arah mencari posisi Ariel yang mengikuti mereka, dia mengangguk memberikan bahasa isyarat bahwa tidak perlu mengkhawatirkannya Iren yang perlahan mulai terbuka padanya. 

__ADS_1


"Hah, syukurlah Anya bisa membawa suasana dan cepat akrab dengan Iren. Sekarang aku tidak khawatir lagi," gumam Ariel yang langsung mengeluarkan ponsel dari sakunya. Tentu saja mengabari mengenai kabar Iren yang dekat dengan teman psikiater nya. 


****


Aku tersenyum sambil berbaring di atas tempat tidurku, mendapatkan teman satu frekuensi membuatku tahu nilai kehidupan. Aku tersenyum seperti bertemu dengan cinta sejati, tapi kehadiran Anya benar-benar membantuku melupakan tekanan yang aku terima. 


Tidak ada yang membahas mengenai aku yang hampir bunuh diri untuk kedua kalinya, bahkan aku pun juga tidak membicarakan hal itu. Ya, aku tahu apa saja yang aku lupakan, namun aku pura-pura tidak tahu. 


Aku mengambil ponsel yang ada di sebelahku, tapi hatiku dan pikiranku saling beradu antara ingin menelepon Ariel atau tidak. Hingga ku putuskan menghubungi pria itu dan mengucapkan terima kasih.


"Halo."


"Bagaimana? Kami membuat Anya nyaman kan?" 


"Apa itu artinya kamu sudah berteman dengannya?" 


"Hei, tidak seharusnya kamu menanyakan hal yang pribadi." 


"Aku cuma penasaran. Bagaimana denganmu?"


"Aku?" 


"Hem." 

__ADS_1


"Sudahlah, jangan membahasnya." 


"Oke. Tapi mengapa kamu menelponku malam-malam?" 


"Aku ingin bertemu denganmu, sekarang." 


"Baiklah, dimana kita akan bertemu?" 


"Aku sangat lelah jika harus bepergian."


"Bilang saja kamu ingin bermanja dariku, aku akan ke rumahmu. Pastikan kalau kamu sendiri di sana!" 


"He-hei … apa mak__."


Tut … tut … tut


Telepon terputus secara sepihak membuat aku kesal, semoga saja Ariel tidak membuat keonaran di rumahku. Aku merasa tidak bebas jika harus menelepon, aku butuh untuk membicarakan ini secara langsung. 


Kedatangan Ariel ternyata lebih cepat dari dugaanku, butuh lima menit bell berbunyi. Aku menatapnya bingung, bagaimana dia bisa datang dengan sangat cepat. 


"Apa kau terbang?" 


"Tidak." Jawab Ariel singkat yang diam-diam tersenyum, karena dia sudah berada di sana sebelum Iren meneleponnya sesuai dengan prediksi. 

__ADS_1


__ADS_2