Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Pujian Daniel


__ADS_3

Di malam hari, aku sangat bosan berada di rumah. Keberadaan Putih juga tak akan menghilangkan kebosananku, bercerita panjang lebar hanya akan membuatku mengantuk. Itulah sebabnya aku tak datang ataupun berkeluh kesah padanya, karena hanya akan membuat telingaku panas mendengar ocehan yang tidak bermanfaat itu. 


"Hah, aku sangat bosan." Gumamku menghela nafas kasar, tidak ada yang ingin aku kerjakan saat ini. 


Beberapa lama aku sempat berpikir mengenai kegiatan apa yang dapat menghilangkan kebosanan, namun setelahnya aku mendapatkan ide untuk jalan-jalan menggunakan sepeda motor sport yang terparkir di gudang. Ya, sudah lama aku tidak menyentuh sepeda motor. 


Aku berjalan meninggalkan tempat itu menuju gudang, ku buka alas penutup dan memperlihatkan motor sport yang berwarna hitam metalik dan las berwarna merah menyala. 


"Sempurna." 


Aku kegirangan, dan menaiki motor sport yang tempat duduknya sudah di rendahkan sesuai dengan ukuran ku. Sebelum berangkat, aku memakai jaket kulit berwarna hitam dan celana panjang dengan warna yang senada. 


Aku memanaskan motor terlebih dulu dan memakai helm sebagai pengaman, sangat keren penampilanku yang serba hitam ini, aku semakin percaya diri. 

__ADS_1


"Kirain ada maling. Mau kemana malam-malam begini? Mana semuanya serba hitam lagi." 


Aku menatap ke sumber suara, ku lihat Putih yang entah dari kapan sudah berdiri di sana. "Kapan kamu sampai?" 


"Saat motor jelek itu bunyi, sangat berisik." Ucapnya sembari menutup kedua telinganya. 


"Tinggal tutup telinga, gampang kan. Hidup kok di persulit!" ucapku yang dengan sengaja menimbulkan suara berisik, terkekeh sebab tak mendengar apa yang di ocehkan Putih. 


Segera aku menancap gas dan berlalu pergi dengan kecepatan tinggi, bersantai berkeliling di malam hari sangat menyenangkan. Terpaan angin menghembus leherku yang putih mulus, semakin membuat perjalanan menyenangkan. 


Aku turun dari motor dan melempar helm yang ku kenakan, berhasil membuat seorang pria tumbang. Hal itu menjadikan aku pusat perhatian, beberapa orang mendekat hendak melecehkan aku yang notabene seorang wanita. 


"Daripada kamu babak belur, bagaimana kalau kamu menjadi pemuas kami? Kita akan bermain perlahan, bagaimana?" 

__ADS_1


Aku menatap datar pria itu, ku hadng tangannya yang hendak mencolek wajahku dan langsung ku berikan tamparan keras hingga menimbulkan bekas memerah. 


Kerena tak terima, satu persatu pria datang untuk menghajarku. Beruntung aku ahli dalam ilmu bela diri dan membela diriku dari beberapa orang yang mau mencelakaiku. 


Sekitar empat orang yang aku hadapi tanpa rasa takut, tentu saja aku menyukai hal ini sebagai bentuk rasa bosan. Aku menangkis dan menendang sebagai aksi serangan pada keempat pria itu, sedikit cedera tak menjadi masalah karena aku puas dapat mengalahkan mereka yang memutuskan untuk kabur. 


"Daniel?" 


"Kamu hebat banget, Ren." Puji pria itu yang ternyata adalah rekan bisnisku. 


"Mengapa kamu bisa di cegat mereka?" 


"Mereka itu rampok, aku mau menghajar tapi kalah jumlah. Tidak aku sangka kamu bahkan jago bela diri sampai bisa menghajar mereka semua, sangat-sangat keren." 

__ADS_1


"Hem, apa kamu tidak apa-apa?" 


"Hanya luka sedikit." 


__ADS_2