
Aku tidak sanggup dengan semua ini, impian yang aku bangun seakan sekarang sirna tak berbentuk. Aku sudah putuskan mengenai ini, dan tetap pada pendirianku.
"Ibu, tolong maafkan aku!" aku menyeka air mataku, keputusan yang menganggapku bodoh oleh sebagian orang. Aku sudah tidak tahan mendapatkan tekanan dari orang sekeliling dan memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan melompat dari jembatan gantung.
Aku menutup mata hendak melompat, tapi aksi ku malah di tahan seseorang. Aku sangat marah, ku tatap wajahnya dengan tajam melihat setiap incinya. "Mengapa kamu menahanku? Lepaskan aku!" aku memberontak dan berusaha terlepas dari cengkramannya, tapi pria itu cukup kuat untuk ku lawan kali ini.
"Ariel stop! Jangan menghalangi aku." Aku mendorong tubuhnya agar menjauh, aku merasa di manfaatkan oleh semua orang.
Aku menangis dan berteriak, sedangkan Ariel terdiam menatapku yang penuh simpati. Aku menarik rambutku dengan kasar, kedua tungkai kaki yang terasa tak sanggup menahan beban tubuhku, hingga tubuhku lemas dan pingsan.
Ariel dengan sigap menangkap tubuh Iren, dia yang sangat cemas itu mengikuti wanitanya dan sangat terkejut mengetahui semuanya. Dia marah pada dirinya sendiri, ternyata wanita yang sangat dia cintai mendapatkan tekanan sedari kecil dan begitu kelam masa lalunya.
Segera dia menggendong tubuh Iren dan memasukkannya ke dalam mobilnya, wajahnya terlihat sangat cemas juga khawatir.
"Jadi sifat dinginnya itu muncul karena tekanan dari orang sekelilingnya? Hah, aku sangat menyesal telah menambah bebannya dan membuatnya hampir depresi." Gumam Ariel yang merasa bersalah, segera dia menghubungi seseorang untuk menangani kasus ini. Ya, dia menelepon temannya yang bekerja sebagai psikiater, inilah hal yang diperlukan oleh wanitanya agar keluar dari masa lalu dan juga tekanan.
Ariel membawa Iren ke apartemennya, dia menatap wajah wanita cantik itu dengan seksama di sertai rasa simpati yang besar. "Maaf, aku tidak tahu."
__ADS_1
Seorang pria yang mengenakan pakaian casual masuk ke dalam apartemen itu, Ariel menyambut kedatangan temannya dan menceritakan segalanya.
"Jika tidak segera di bawa ke psikiater, cepat atau lambat dia akan menjadi depresi."
"Untuk itulah aku menelepon mu."
"Sedikit sulit menyembuhkannya, karena pada dasarnya sudah tertanam di dalam pikirannya. Kejadian yang membuatnya terpukul bisa kapan saja terlintas, dan itu sangat berbahaya."
"Apa kamu tidak bisa menyelamatkannya?" Ariel menatap temannya dengan harapan yang penuh, berharap Iren bisa di sembuhkan.
"Apa dampak jika membiarkannya, maksudku … membuatnya melupakan masa lalu dengan cara mengukir kenangan baru?"
"Itu tidak akan berhasil, kalau berhasil pun hanya kemungkinan lima persen saja."
Ariel menghela nafas kasar, ponselnya yang berdering segera dia angkat yang ternyata banyak panggilan masuk.
"Halo."
__ADS_1
"Ini aku, Biru. Apa kamu sudah menemukan Iren?"
"Hem, dia ada bersama ku."
"Baiklah, kalau begitu berikan ponselmu padanya, aku ingin mendengar langsung suaranya."
Ariel terdiam beberapa saat. "Dia tidak sadarkan diri!"
"Apa? Kirim lokasi mu, aku akan kesana untuk membawanya pulang."
"Sebaiknya kamu menjaga istri dan juga anakmu, Iren aman bersamaku."
"Baiklah, aku akan menelepon mu nanti!"
"Baiklah."
Ariel kembali menyimpan ponselnya, dia sekarang memahami sisi terburuk Iren yang ternyata membutuhkan orang yang mengerti dirinya. Segera dia menyeka air mata, jika terlambat sedikit saja maka dia akan kehilangan Iren untuk selama-lamanya."
__ADS_1