
Suara Luna menghentikan aksi Biru yang ingin menggagalkan malam pertama Ariel dan Iren, menghampiri suaminya langsung menarik telinga dengan geram.
"Apa sih Mas, masih aja dendam. Jangan ganggu pengantin baru!"
"Duh Sayang, sakit nih. Lepasin!" rengek Biru yang sudah seperti anak kecil.
Luna melepaskan jeweran sang suami dan menarik tangan agar menjauh, dia sudah mencium gelagat dari suaminya yang berencana menggagalkan pernikahan.
Di sisi lain, Ariel mengumpat adik iparnya yang sudah menjadi lebah pengganggu. Masuk ke dalam kamar dan melanjutkan aktivitas menyenangkan yang sempat tertunda.
"Siapa?" tanya Iren penasaran.
"Bukan apa-apa. Ayo kita lanjutkan!" Ariel kembali bersemangat, ingin sekali melakukan hubungan yang sudah sah.
"Tapi aku mengantuk, lain kali saja." Iren menarik selimut dan tertidur, acara sederhana juga melelahkannya.
"Sekali saja!"
"Tapi aku mengantuk."
"Kamu tidur saja, aku yang akan bekerja."
__ADS_1
Iren pasrah saat dirinya belum mengatakan apapun tapi sang suami brondongnya sudah menindih tubuhnya.
Malam yang begitu panjang bagi dua orang yang memadu kasih, indahnya surga dunia di jalani sepenuhnya. Pernikahan yang mendadak membuat mereka harus menerima takdir yang sudah di tetapkan.
****
Di siang hari, Ariel menyingkap gorden membiarkan cahaya masuk melewati jendela. Merenggangkan tubuhnya dan tersenyum menyapa, sekali menoleh dan melihat istrinya yang cantik. Dia tidak peduli apa perkataan orang lain, baginya Iren adalah separuh jiwa dan juga nafasnya.
"Terlambat sedikit saja maka aku pasti akan menyesal seumur hidup." Ariel berjalan menghampiri, duduk di sisi sang istri yang masih tidur dengan sangat pulas. Suara dengkuran halus membuat senyum terlukis di wajahnya, menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian kecil wajah dan kemudian mengecup kening dengan lembut.
"Jam berapa sekarang?" tanya Iren merenggangkan otot-otot yang kaku, di sertai nguapan."
"Hampir tengah hari."
"Ariel, ini sudah siang. Apa kamu tidak lelah bermain semalaman dan ingin melakukan sekarang."
Ariel menyeringai sambil menggigit pelan telinga istrinya sambil berbisik. "Kamu sendiri yang membangkitkan gairahku."
"Itu tidak di sengaja." Iren menarik selimut menyisakan bagian wajahnya saja. "Jangan sekarang, aku sangat lapar." Bujuknya.
Ariel yang hendak melakukan hubungan menyenangkan itu dengan terpaksa menundanya, tidak mungkin dia membiarkan istrinya kelaparan.
__ADS_1
"Bersihkan tubuhmu dan kita turun ke bawah!" titah Ariel yang sebenarnya menginginkan sang istri, tapi dia juga membutuhkan asupan energi untuk bertempur menaklukkan istrinya.
Keduanya sudah bersiap-siap, mereka berjalan bergandengan tangan dan menuruni beberapa anak tangga.
Putih melihat momen romantis kedua pasangan suami istri itu, dia mulai memikirkan pak polisi tampan.
"Pak polisi, tembak aku." Gumamnya tanpa sadar membuat Biru mendengar samar.
"Kamu bilang apa tadi?" selidik Biru menatap adiknya tajam dan menyelidik.
"Bukan apa-apa." Putih memutuskan untuk keluar menemui Yoga, pria berseragam coklat yang menarik perhatiannya.
Putih segera beranjak dan pergi, tapi sebelum itu dia sudah melihat penampilannya yang di rasa sudah cocok.
"Eh, kamu mau kemana?" tanya Luna yang sedang menyusui anaknya.
"Mencari jodohku."
"Apa?"
"Aku hanya bercanda, aku pergi dulu."
__ADS_1
"Ya sudah, hati-hati!"
"Siap komandan." Putih memberikan. hormat yang selalu dipraktekkan oleh anak sekolah saat acara penghormatan kenaikan bendera merah putih. "Abang tampan, aku datang."