
Aku melihat kepergian Ariel yang menghilang di balik pintu kamar mandi, tidak sengaja mataku memandang benda pipih yang selalu aku bawa berada di atas nakas. Aku menepuk kening karena aku ceroboh untuk menghidupkan ponsel yang dayanya sudah habis.
Ku raih tas kecil yang selalu aku bawa, mengisi daya ponsel dengan power bank yang menjadi alternatif saat ini. Ku aktifkan ponsel dan sangat terkejut melihat banyaknya pesan masuk dan juga panggilan tidak terjawab. Ada empat orang yang menghubungiku berulang kali, Biru, Putih, Luna, dan Daniel.
Aku menghela nafas dan segera menghubungi Putih, aku sangat yakin kalau dia sangat mengkhawatirkan keadaanku yang tidak memberikannya kabar keberadaanku.
"Halo."
"Oh ya ampun … semalaman aku di buat khawatir olehmu, kakak kemana saja? Dan kenapa tidak pulang?"
Aku menjauhkan ponsel dari telingaku, ini sudah biasa terjadi kalau Putih pasti membuat telingaku sakit bila mendengar ocehannya seperti burung beo.
"Ponselku kehabisan baterai, dan lupa memberikan kabar." Jawabku.
"Oke."
Aku terkejut saat Putih mengalihkan panggilan lewat video call, aku sedikit waspada kalau sampai dia tahu aku menginap satu kamar dan satu ranjang bersama dengan pria asing, dan lebih konyolnya adalah pria itu lebih muda dariku. Aku langsung menolak panggilan video call nya, tapi hal itu malah membuatnya semakin curiga.
__ADS_1
"Jawab panggilan video ku, atau aku akan mengadukan kakak pada kak Biru!" kecam nya semakin membuatku berkeringat dingin.
Aku berlari menuju jendela, menyembunyikan diri dan juga fakta kalau aku tidur dengan pria asing. Segera aku mengatur penampilan sebelum menerima panggilan video call. Aku tidak mau berurusan dengan Biru, yang ada dia hanya memperkeruh suasana dan juga suasana hatiku.
"Hai!" sapaku yang tersenyum paksa.
"Jadi kakak ada di hotel?"
"Iya. Sekarang kami sudah tahu kalau aku baik-baik saja, kita akhiri panggilan video call nya ya!" bujukku yang ingin mengakhiri video call. Jujur saja aku tidak bisa mempercayai Ariel, tak ingin kalau masalah ini nantinya menjadi bumerang bagiku.
"Sepertinya kakak menyembunyikan sesuatu dariku!" selidiknya yang menatapku dengan menyipitkan kedua mataku.
"Bohong! Katakan, apa yang kakak sembunyikan. Dan … bayangan siapa itu?"
Begitu banyak pertanyaan yang diajukan Putih padaku, jangan sampai Ariel mendekat dan menunjukkan dirinya. Aku menoleh meyakinkan adikku yang sangat penasaran.
"Tidak ada siapapun di sini, hanya aku sendiri." Ucapku yang sedikit memelankan suara.
__ADS_1
"Benarkah? Tapi mengapa kakak memelankan suara?"
Aku sangat kesal pada Putih, aku sudah seperti tersangka. "Apa aku tidak boleh berbisik?" ketusku yang tanpa sadar meninggikan suara.
"Ya, lupakan itu. Kakak di hotel mana? Biar aku jemput karena ini amanat langsung dari kak Biru yang mengkhawatirkan kakak."
"Ahh … tidak perlu menjemputku, aku bukan anak kecil lagi. Sudah ya, aku mau siap-siap pulang."
"Hem, baiklah."
Belum sempat aku mematikan panggilan video call, tiba-tiba Ariel sudah berada di belakangku sembari memelukku, dan sialnya momen itu di tangkap oleh Putih.
Deg
Aku menelan saliva dengan susah payah yang seakan tersangkut di tenggorokan, ini tidak seperti dugaan Putih, dan entah kenapa tiba-tiba Ariel memelukku spontan. Aku sangat gugup dan tatapan Putih di layar monitor terus menyelidiki.
"Jadi kalian tidur satu ranjang dan satu kamar?"
__ADS_1
"Ya." Jawab Ariel singkat, padat, dan jelas. Ingin sekali aku mencakar wajahnya yang tidak ada masalah sedikitpun, aku merutukinya seribu kali karena setelah ini aku pasti di introgasi oleh adik-adik ku.
"Tamatlah riwayatku," batinku yang terpaksa menerima nasib sial.