Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Usia bukanlah umur kedewasaan


__ADS_3

Aku tersenyum dan tertawa setelah sekian lama tidak melakukan itu, entah kapan terakhir kali aku tertawa lepas. Aku yang di kenal cuek dan jutek, jarang sekali berinteraksi dengan orang luar membuatku tidak punya teman. 


Ariel memelankan kecepatan laju mobilnya karena terbuai dengan tawa lepas dari Iren, dia terpesona karena kecantikan dari wanita itu terpancar di saat wajahnya terlihat ceria tanpa beban. Sejak pertama kali bertemu, dia sudah merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama, dia tidak pernah mematok usia karena cinta bukanlah diukur dari umur. 


"Aku sangat senang melihatmu bisa tertawa lepas, karena sebelumnya aku selalu mendapatkan wajah yang jutek Dan juga cuek."


Seketika Iren menghentikan tawanya dan menatap Ariel dengan seksama. "Apa aku seburuk itu?"


"Tidak. Bahkan aku menyukai sifatmu itu." 


Iren yang terdiam segera diambil alih oleh Ariel yang mengerti jika itu hal sangat sensitif, dia segera mengalihkan topik pembicaraan agar suasana tidak mencekam. "Bagaimana kalau kita ke pantai? Aku rasa tempat itu sangat cocok." 

__ADS_1


"Pantai sangat jauh dari sini, mengapa kamu malah memilih pantai? Padahal banyak tempat yang dekat." Tanya Iren yang menatap Ariel intens. 


"Karena aku setiap ada masalah selalu pergi ke pantai, suara deburan ombak yang menggulung sangat menyenangkan, ditambah lagi kaki yang basah oleh air laut pasang surut." 


"Baiklah … aku akan ikut, terdengar menyenangkan."


Ariel tersenyum dan semangat mengemudikan mobilnya, membawa mereka menuju pantai yang lokasinya cukup jauh. Andai saja waktu berhenti, karena dia tidak ingin hal ini cepat berlalu. 


"Dia wanita yang sangat unik, di matanya terpancar kesedihan yang mendalam, tapi aku tidak tahu apa itu. Tapi apapun itu, aku akan selalu berada di sisi mu, iya atau tidak tanpa di minta sekalipun." Gumam Ariel di dalam hatinya. 


"Kamu bahkan sangat cantik di saat tidur, selalu memasang wajah jutek dan juga cuek membuat aura redup di wajahmu." Gumam Ariel seraya menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Iren. 

__ADS_1


Sesampainya di pantai, Ariel tidak tega membangunkan Iren karena tertidur sangat pulas. Dia hanya menunggu sampai wanita itu bangun, sekaligus mencari kesempatan untuk menetap wajah cantik itu lama. Bahkan dia juga memotret dan terkekeh, saat melihat Iren yang tertidur dengan mulut yang meneteskan air liur.


"Walaupun dia tidur keluar oli di mulutnya, tapi aku tetap mencintainya, bahkan wajah cantiknya juga tidak berubah." Lirih Ariel terkekeh memotret beberapa kali, dan foto itu dipergunakan untuk seseorang agar tidak mendekati wanitanya. 


"Eh, kita sudah sampai?" suara serak Iren berhasil membuat Ariel menyembunyikan ponselnya, terkekeh melihat wanita di sebelahnya yang mengelap sisa saliva yang menempel di sudut bibir. 


"Iya, begitulah." Jawab Ariel mengangkat bahunya dengan santai. 


"Kapan kita sampai?" 


"Baru saja. Aku hendak membangunkanmu, tapi lebih dulu kamu bangun." Diam-diam Ariel tersenyum tipis tanpa diketahui oleh Iren, akhirnya dia perlahan mulai bisa menggenggam wanita itu. "Apa kita akan menunggu di dalam mobil?"

__ADS_1


"Ahh, kamu benar juga. Ayo! Aku sudah tidak sabar." Ajak Iren yang menarik tangan Ariel tanpa sadar. 


"Ayo." Ariel yang usianya jauh lebih muda namun sikapnya ternyata lebih dewasa daripada Iren, dia bahkan hampir meluluhkan wanita jutek itu dengan keahliannya. 


__ADS_2