
Aku mengerjapkan mata beberapa kali di sertai menguap, aku mengucek kedua mataku agar pandangan semakin jelas. Menyusuri pandangan di dalam ruangan itu dan sadar kalau aku tidak berada dirumah, segera aku duduk dalam keadaan cemas juga khawatir. Kepalaku terasa sakit dan juga berat, mengeluh karena rasa sakitnya sedikit menyiksaku.
"Aku ada di mana?" lirih pelan ku, sembari mencoba mengingatnya. "I-ini kan di apartemen Ariel!" aku terkejut juga shock berada di dalam kamar. Aku celingukan mencari keberadaan pria itu dan bisa bernafas lega karena tidak menemukannya di dalam kamar. "Huuf … syukurlah dia tidak ada di sini."
Aku mencoba mencari serpihan memory mengenai kejadian tadi malam, dimana terakhir kalinya aku sedang minum wine dua gelas kecil saja. "Tunggu dulu! Aku hampir menghabiskan satu botol minumannya, apa dia akan tahu kalau aku sudah lancang meminum minumannya?" Aku menghela nafas kasar sambil menarik rambutku yang sudah kusut seperti kuntilanak kesetrum, aku kesal memikirkan tingkah bodohku dengan mencoba minum dan akhirnya keterusan.
Aku tidak mengingat apapun, kembali berusaha untuk mengingat tadi malam. Semakin aku mengingatnya, semakin kepalaku menjadi sakit. Terlintas bayangan aku yang mencium Ariel, dan menganggapnya hanya khayalan saja.
"Ck, dari mana bayangan itu bisa muncul? Heh, pikiranku sudah terkontaminasi olehnya. Aku minum terlalu banyak hingga bermimpi menciumnya," gumamku yang berpikiran positif untuk menenangkan diriku sendiri. Jujur saja, aku tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak, minuman alkohol itu membuatku sering bingung untuk membedakan.
__ADS_1
Segera aku beringsut dari tempat tidur menuju kamar mandi, untuk mencuci wajah karena tidak ada waktu untuk terus bersantai di apartemen milik Ariel. Aku harus pulang atau kedua adik yang menyebalkan itu memberikan pertanyaan yang aneh, hingga aku terjebak oleh mereka.
Di saat aku sudah bersiap-siap dan keluar dari kamar, kulihat Ariel yang tengah fokus menatap layar laptop dan ditemani oleh secangkir kopi di sebelahnya. Pikiran yang terus menghantuiku, aku beranikan diri untuk bertanya padanya apa yang terjadi padaku tadi malam.
"Akhirnya kamu bangun juga!"
"Apa kamu tidak ingin mengucapkan permintaan maaf?" tanya Arif yang menatapku dengan wajah datar.
"Untuk apa aku minta maaf? Aku rasa tidak melakukan apapun." Celetuk ku yang menutupi kesalahan.
__ADS_1
Ariel memutar kursinya dan menatapku serius. "Untuk minuman yang kamu minum. Bukan hanya itu saja l, masih banyak kesalahanmu yang kamu lakukan tadi malam."
"Memangnya apa yang aku lakukan?" Aku penasaran seberapa buruknya aku dalam kondisi mabuk, karena aku tidak mengingat apapun kejadian tadi malam hanya terlintas sebuah mimpi yang tidak ingin itu terjadi. "Mengenai minuman itu aku hanya penasaran bagaimana rasanya, aku berniat ingin minum dua gelas kecil saja, tapi aku malah ketagihan." Ucapku yang mencoba untuk mencari pembenaran.
"Pertama, kamu mencuri minuman ku secara diam-diam dan hampir menghabiskan satu botol. Kedua, kamu muntah mengenai tubuhku. Ketiga, kamu membuat kerusuhan hingga ruanganku berantakan, dan yang keempat … kamu menciumku."
Keempat poin yang dikatakan oleh Ariel berhasil membuat aku terkejut, yang aku pikirkan itu hanya mimpi buruk ternyata benar-benar terjadi. Serpihan ingatan yang aku lakukan tadi malam bagaikan video rusak, ya … aku mengingat kembali apa saja yang sudah aku lakukan tadi malam.
"Tolong aku, siapapun itu. Aku sungguh kehilangan wajahku di hadapan Ariel."
__ADS_1