Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Bukan kekasih, tapi baby sitter


__ADS_3

Aku sangat terkejut kalau Ariel membawaku untuk datang ke rumahnya, aku mencium aroma ada yang tidak beres dari bocah itu. Aku cukup menyesal menerima permintaan konyolnya, semoga saja dia tidak memanfaatkan aku. 


"Pa … Ma, kenalin … dia pacarku." Ucap Ariel yang menatap kedua orang tuanya secara bergantian. 


Keduanya menatapku dari bawah sampai atas, melihat wajahku dengan intens dan sepertinya aku mengerti apa yang mereka pikirkan mengenai aku. 


"Dia pacarmu?" wanita yang masih cantik di usianya yang tidak muda itu menyerngitkan dahi, tentu saja dia penasaran bagaimana kami bisa menjadi sepasang kekasih yang usianya terpaut jelas. 


"Iya Ma, namanya Iren." 


"Halo Om … Tante," sapaku yang mengeluarkan senyum semanis mungkin, walau mereka lebih pantas aku panggil kakak karena masih terlihat muda. 


"Yaudah, silahkan duduk." 


Aku duduk setelah sang empunya rumah mempersilahkan, melirik Ariel yang ternyata menjebakku. 


"Sejak kapan kalian pacaran?" tanya si wanita paruh baya. 


"Satu Bulan." Jawabku

__ADS_1


"Satu tahun." Jawab Ariel yang serempak dengan perkataanku, jawaban berbeda justru membuat kedua orang tua yang ada di hadapan kami semakin mempertanyakan hubungan ini. 


"Kenapa jawabannya tidak sama?" 


"Maklum Ma, Iren merasa kalau hubungan kami berjalan satu bulan karena tak terasa, apalagi dia sibuk bekerja sampai tak tahu waktu." 


Oke, untuk point pertama sepertinya berlebihan. Tapi point kedua memang benar, kehidupan membosankan di usia matang.


"Benarkah? Jadi Iren, kamu bekerja di mana?" 


"Usaha keluarga di bidang tekstil, BintangCorp." Jawabku. 


Usaha yang di dirikan oleh ayahku yang sekarang berada di rumah sakit, di kembangkan oleh Biru dan aku melanjutkannya. Siapa yang tidak mengenal nama itu? Usaha di bidang tekstil yang berkembang pesat. 


"Benar, tapi bagaimana Om kenal dengan ayah saya?" tanyaku, karena sejujurnya aku tidak tahu apapun mengenai kehidupan ayah dahulu. 


"Dia itu teman lama saya, dan sekarang kami putus kontak." Ucapnya yang terdengar sedih. 


"Ternyata dunia ini sempit ya."

__ADS_1


"Hehe … iya Om." 


"Kamu jangan tersinggung ya, jujur saja saat melihatmu pertama kali saya tidak setuju. Sepertinya usiamu lebih dari tiga puluh tahun, Ariel masih berusia dua puluh tiga tahun. Jadi saya menganggap kalian tidak cocok." Terang pria paruh baya itu. 


"Jangan sungkan Om, saya tidak tersinggung kok." 


Obrolan yang semakin lama kian menghanyutkan kami, aku sampai lupa melihat jam yang ternyata sudah berada di rumah Ariel sekitar tiga jam lamanya. 


"Jadi gimana Pa? Masih mau jodohin aku?" Ariel tentu mengambil kesempatan itu, dia tak menyangka kalau kedua orang tuanya menyukai Iren. 


"Kami setuju kalian menjalin hubungan. Karena Bintang adalah rekan sekaligus temanku, aku memberikan restu jika kalian saling mencintai." 


Hah, aku merasa bersalah telah membohongi kedua orang tua Ariel, bukan kesalahanku sepenuhnya tetapi bocah tengil itu yang menjadikan suasana kian rumit. 


Aku terkejut saat Ariel tanpa tahu malu memelukku dengan erat, langsung saja aku mencubit pahanya dengan kuat. 


"Wah … kalian romantis sekali." 


"Iya harus dong Ma." Sahut Ariel bangga.

__ADS_1


"Nak Iren, tolong jaga Ariel ya. Usia kalian terpaut jauh dan itu pasti sangat sulit menyamakan pola pikir. Tahu sendirilah maksudku." 


"Iya Om, aku mengerti kok." Tentu saja dia mengatakan itu, sebab anaknya masih kekanak-kanakan. Kami terlihat bukan seperti sepasang kekasih melainkan aku sebagai baby sitter nya. 


__ADS_2