
Keduanya sangat dekat dn tampak akrab, Iren melupakan niatnya yang kembali ke kantor. Permasalahan di kantor sudah di selesaikan, sekarang dia bisa bersantai terlebih dahulu. Ya, Ariel mengajaknya bermain game online. Keduanya membentuk sebuah kelompok menjadi lima orang, tiga lainnya adalah teman mabar dari Ariel.
"Kamu yakin bisa memainkan game online ini?" tanya Ariel yang menatap Iren tidak yakin, pasalnya seorang wanita sangat jarang mabar ataupun sangat sedikit sekali peminat game online yang sebagian orang menganggap hobi itu menjadi beban.
"Sudah lama aku tidak bermain game online ini, tapi aku pasti bisa melakukannya, permainanku tidak akan berubah."
Keduanya tersenyum dan menatap layar ponsel masing-masing, memainkan game mobile legend. Karena sudah lama tidak memainkannya, Iren sedikit shock begitu banyak hero baru yang muncul. Dia yang tidak biasa menggunakannya dengan terpaksa memakai hero Fani. Ya, itu salah satu hero favoritnya dan selalu mendapatkan kill lebih banyak.
Keduanya nya bermain dengan asyik, tanpa mengetahui kalau jam terus saja berjalan. Game yang membuat candu tidak cukup hanya dengan memainkan satu kali saja, hal inilah yang membuat Iren tidak ingin melanjutkannya sebab dia menjadi pribadi yang malas untuk melakukan apapun, akibat otaknya sudah di pengaruhi game dan juga push rank.
Keduanya terus bermain sampai lupa waktu, hingga Ariel tidak sengaja mendengar suara nyaring yang berasal dari perut Iren, wanitanya sekarang kelaparan.
"Ada apa denganmu? Kita hampir saja memenangkannya." Gerutu Iren, Ariel yang tidak peduli itu menarik tangan wanitanya dan membawanya menuju meja makan.
Iren terdiam sambil menonton kegiatan Ariel yang saat ini tengah fokus ke layar pipih, bukan karena ingin bermain game online, tetapi memesan makanan dan hal itu sangat praktis dan berguna di keadaan darurat.
__ADS_1
Sambil menunggu, Iren tidak sengaja mengedarkan pandangannya pada jam di dinding. Dia sangat terkejut dan hampir tidak percaya kalau sekarang menunjukkan malam semakin larut. "Ya ampun, kenapa malam begitu cepat berlalu." Gumamnya.
"Itu karena kita asyik pada dunia kita sendiri."
"Aku ingin pulang saja!" Iren hendak beranjak dari duduknya, tapi di cegah oleh Ariel.
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau pulang."
"Aku bisa memesan taksi online, tidak perlu khawatir."
"Jangan membantah, ini sudah malam dan cuaca di luar sedang hujan deras."
"Tapi aku__."
__ADS_1
"Menginap lah di sini untuk semalam saja."
Iren tampak berpikir mengenai baik buruknya menginap di apartemen bersama seorang pria asing. "Aku perlu."
"Apa yang kamu khawatirkan? Ini bukan pertama kalinya karena kita sebelumnya pernah tidur dalam satu ranjang." Ariel yang tersenyum mesum membuat Iren refleks memukul lengan pria itu.
"Aku lebih percaya diri pada diriku sendiri, tapi aku tidak bisa mempercayaimu yang diam-diam mengambil kesempatan."
"Aku tidak akan menyentuhmu, tapi tidak menutup kemungkinan kalau kamulah lebih dulu menginginkannya dan aku dengan senang hati melayanimu."
Plak
"Berhenti berpikiran kotor atau aku akan menamparmu lagi," kecam Iren menatap pria di hadapannya dengan intens.
"Belum menikah saja kamu sudah tega menamparku, bagaimana setelah kita menikah. Aku sangat yakin kalau kehidupan kita akan segera bersinar cemerlang.
__ADS_1