Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Kemarahanku


__ADS_3

Aku menatap diriku di depan cermin berukuran orang dewasa, aku melihat pantulan bayanganku yang ikut cemberut dan kusut. Aku kesal dan juga marah, semua orang ingin aku menikah dengan Ariel. 


Di saat cemberutku, wajahku terlihat cantik karena sudah di poles dengan sedikit make up agar terlihat lebih fresh. Gaun putih yang panjangnya di bawah lutut membuatku terlihat sangat cantik, beberapa aksesoris pendukung penampilan.


Aku sangat kesal dan juga marah, mengapa mereka yang menentukan hidupku. Mengapa mereka selalu memaksaku, padahal itu kesalahpahaman saja. Lagipula aku dan Ariel tidak melakukan hubungan intim, cuma berciuman saja. Apa ciuman itu di anggap kesalahan fatal dan mengira aku bisa hamil karenanya? 


"Wah, ternyata kamu sudah siap. Penampilanmu sangat cantik!"


Aku mengalihkan perhatian menatap ke sumber suara, seorang wanita sedang hamil besar itu masuk ke dalam kamar untuk memeriksaku. "Aku tidak ingin menikah! Kenapa kalian memaksaku? Lagipula aku dan Ariel tidak melakukan hubungan terlarang." Ucapku yang mengeluarkan uneg-unegku pada Luna. 


Luna tersenyum dan menyentuh pundakku dengan lembut, bukannya dia kesal karena aku sudah membentaknya tapi dia malah memperlakukanku sebaliknya. "Tidak akan ada yang percaya walau kamu membela diri sekalipun, mas Biru hanya mencemaskanmu." 


"Aku sudah dewasa, untuk apa mencemaskanku." 

__ADS_1


"Ms Biru sangat merasa bersalah karena ibunya telah merebut ayahmu di tangan ibumu, dia mencemaskanmu karena tidak selamanya bisa menjagamu. Kamu butuh seorang pria yang mencintaimu tanpa syarat. Dia sangat mencemaskan kakak perempuannya, mencari tahu semu identitas dari Ariel. Kami beranggapan kalau Ariel bisa menjagamu, dia sangat mencintaimu dan juga berpikiran dewasa." Terang Luna. 


Aku terdiam berusaha mencerna perkataannya, namun otakku yang dipenuhi rasa kesal dan juga marah menepis semuanya dan mengatakan kalau yang di katakan Luna adalah fatamorgana. 


"Setelah mereka mengendalikan kehidupan ibuku yang sekarang berada di rumah sakit jiwa, apa sekarang mereka juga ingin mengendalikan hidupku. Ini hidupku, Luna. Tidak ada seorangpun yang akan ikut campur!"


"Ini demi kebaikanmu." 


Tanpa terasa air mataku jatuh, aku segera menyekanya dan pergi dari ruangan itu. Langkahku terhenti saat melihat semua orang telah berada di ruang tamu, aku menatap mereka penuh kebencian. Rasa benci yang sudah lama terkubur tapi muncul ke permukaan setelah mereka bersikap seenaknya mengatur kehidupanku. 


"Kita harus berangkat sekarang! Mereka pasti sudah menunggu." 


Aku menatap Biru, Putih, dan ayah Bintang yang tersenyum. Aku benci mereka yang berusaha untuk mengatur kehidupanku, apa aku tidak punya hak dalam memilih?

__ADS_1


"Kalian sangat bahagia kalau aku menikah." 


"Tentu saja, akhirnya kamu melepaskan masa lajang mu dan menikahi pria yang tepat." Jawab Biru yang semangat. 


Aku tertawa membuat mereka bingung dengan sikapku. "Aku tidak ingin menikah, titik." 


"Kamu harus menikah, Nak." 


Semua orang menekan ku, mereka menjadikan aku seperti apa yang mereka inginkan. Aku menghapus kasar riasan make up yang menempel di wajahku, aku melemparkan vas bunga di hadapan mereka sampai-sampai anak Luna terkejut dan menangis. 


"Apa aku ini boneka kalian? Apa aku harus menikah hasil dari keputusan kalian tanpa bertanya dulu padaku. Apa Kalian pernah tahu apa yang aku inginkan? Sudah cukup ibuku yang tertekan olehmu, Ayah." Aku mengeluarkan semua yang ada di hatiku pada mereka, semua terdiam. 


"Kalian semua hanya menjadikan aku boneka kalian, sudah aku katakan itu hanya kesalahpahaman karena aku dan Ariel tidak melakukan apapun. Aku juga tidak ingin menikah, tapi kalian malah mengambil keputusan itu tanpa bertanya dulu apa yang aku inginkan." 

__ADS_1


__ADS_2