
Disinilah aku berada, menyusuri pinggiran danau hijau yang pemandangannya membuat sedihku sedikit berkurang. Aku tidak bisa berkata-kata, memendam rasa sedih ini sendirian. Dengan menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, aku merasa bebanku berkurang.
"Kemana aku harus mencari dokter terbaik untuk ibu?" gumamku memikirkan kondisi ibu.
Tiba-tiba ponselku berdering, segera aku meraih dari saku dan melihat siapa yang menghubungiku, tertera nama Ariel di layar ponsel.
"Hem, ada apa?"
"Mba kenapa?"
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, ada apa menelpon ku?"
"Ada acara reunian sekolah menengah atas, aku ingin mba ikut sebagai kekasihku."
"Apa kamu tidak malu mengenalkanku pada teman-temanmu, aku bahkan lebih cocok menjadi kakak atau bibi mu."
"Aku pernah bilang sama mba, kalau aku lebih suka wanita dewasa daripada seumuran atau di umurnya jauh di bawahku."
"Asal kamu siap mental." Kekeh ku, seakan kesedihanku hilang saat Ariel menghubungiku.
"Mba dimana? Aku jemput!"
__ADS_1
"Kapan acaranya?"
"Malam ini."
"Masih lama, jemput aku nanti malam saja."
"Aku jemput sekarang, titik."
Tut … tut
Aku berdecak kesal, Ariel bersikap semaunya dan mulai mengatur kehidupan bebasku. Aku menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan, menenangkan pikiran dan juga hatiku.
"Sabar Iren, ini cobaan." Monolog ku menyemangati diri sendiri.
"Sayang, kenapa kamu di sini? Maksudku, seharusnya aku ikut menemani." Ucap Ariel yang celingukan, melihat beberapa orang pria yang sedari tadi memperhatikan Iren. Demi membalas para pria yang berani menatap wanitanya, dengan sengaja memeluk dan mencium pipi Iren.
Cup
"Hei, apa yang kamu lakukan?" bisik Iren yang malu jika Ariel mencium pipinya di hadapan orang lain.
"Karena para tikus menatapmu, dan mulai sekarang aku memanggilmu Sayang. Bagaimana? Itu terdengar sempurna."
__ADS_1
"Jangan katakan kalau kamu cemburu."
"Apa masih kurang jelas?"
Aku menelan saliva dengan susah payah, tidak pernah terbesit di dalam pikiranku menjalin hubungan dengan pria yang usianya lebih muda, bahkan memikirkannya saja tidak pernah.
"Jangan menganggap ini serius, karena kita hanya pura-pura, simbiosis mutualisme."
Terlihat guratan rasa kecewa yang digambarkan oleh Ariel, tapi aku memang tidak ingin memberinya harapan ataupun membuka hatiku.
"Kenapa kamu tidak menyukaiku? Apa kurangnya aku?" Ariel menatap mata Iren dengan dalam, dan mencoba untuk mencari pembenaran ataupun rasa cinta yang ada di mata wanitanya, tetapi dia tidak menemukan yang membuatnya terlampau kecewa.
"Sudahlah … ini tidak akan berhasil." Aku langsung mematahkan semangatnya, agar dia tidak berharap banyak. Aku melangkahkan kaki menjauh darinya, tetapi dia mengikutiku dari belakang.
"Apa karena aku lebih mudah darimu?"
Aku menghentikan langkah dan menatap matanya. "Ya, itu salah satu alasanku menolakmu, sebaiknya kamu cari wanita yang sebaya atau usianya lebih di bawahmu."
"Zaman sudah berubah, umur bukanlah patokan dijadikan alasan untuk menolak, walaupun aku lebih muda tapi perasaanku tulus."
Aku menyeringai tipis mendengar ucapan Ariel, perkataan manis yang hanya akan berujung kepada penghianatan. Apalagi aku lebih tua darinya, jika sampai aku terikat mungkin banyak yang akan menertawakannya.
__ADS_1
"Lupakan masalah ini dan mari kita kembali kekeadaan seperti semula, hanya kekasih pura-pura selama satu bulan."