Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Menjadi bibi


__ADS_3

Aku menatap jengah berada di situasi seperti ini, padahal aku ingin melihat bagaimana Luna berjuang melahirkan anaknya. Keberadaan Putih semakin membuatku kesal, dia yang menyukai wajah tampan tentu tidak melewatkan kesempatan emas baginya. 


"Mau sampai kapan diam begini? Cepatlah proses! Aku ingin menemani adik iparku." Cetus ku sambil melirik jam di tangannya. "Pasti Biru akan bersikap bodoh jika dia dalam keadaan panik, seharusnya aku ada di sana … kasihan Luna mendapatka suami payah." Batinku. 


Dengan sengaja aku mencubit paha Putih yang terus saja menatap polisi yang ada di hadapannya, raut wajahnya yang terlihat bodoh membuatku malu sendiri. "Berhentilah menatapnya begitu, lihat kondisi kita sedang berada dimana sekarang!" 


"Bilang aja Kakak iri, karena aku lebih cantik darimu. Jangan ikut campur, ini privasiku, oke!" 


Polisi yang di tatap oleh adik bungsuku itu semakin salah tingkah, dia sangat percaya diri dan membanggakan ketampananya yang memikat dua adik beradik hingga mereka memperebutkannya, sungguh narsis bila Iren tahu jalan pikiran polisi tamoan itu. 


"Ahh … lama sekali!" Aku beranjak dari tempat duduk. 


"Anda melanggar lalu lintas, tidak bisa pergi." 


Aku yang malas berdebat itu menyerahkan kunci mobil yang dia bawa tadi kepada polisi tampan. "Ambil saja mobil itu dan urusan kita selesai." Aku segera pergi dari tempat itu, saat ini Luna lebih membutuhkanku. 

__ADS_1


Baru beberapa langkah, aku ingat pada Putih yang masih saja belum puas menatap polisi tampan itu. Aku berdehem beberapa kali berharap dia mengerti kode isyarat dariku. "Kamu ikut denganku atau tidak?" ucapku yang sudah kesal di buatnya. 


"Gak ahh, aku mau di sini saja." 


"Akan aku beritahukan Biru, bahwa kamu lebih mementingkan polisi itu di bandingkan kakak iparmu sendiri." Aku tersenyum melihat raut wajahnya yang cemberut, langsung menarik tangannya saat dia berpikir lama. "Luna lebih penting, urus ini nanti!" 


Aku menghela nafas dan menyentil kening Putih, bisa-bisanya dia menggoda polisi itu membuatku semakin malu melihat ulahnya yang konyol.


"Kak Iren."


Di rumah sakit, aku dan Putih datang menghampiri Biru dan juga ayah yang sangat cemas menantikan hari ini. Dimana hari kelahiran anak pertama juga cucu pertama di keluargaku.


"Kamu sedang apa di sini? Luna membutuhkanmu sekarang!" ucapku pada Biru, bisa-bisanya dia meninggalkan Luna seorang diri yang hanya di temani dokter dan juga suster yang membantu persalinan. 


Aku sangat khawatir dan berdoa untuk kelancaran persalinan Luna, di tengah kecemasan tiba-tiba ponselku berdering. Aku melihat nama yang tertera Ariel yang tertera di layar ponsel, ku angkat karena pasti dia menunggu kedatangan kami. 

__ADS_1


"Kenapa kalian belum sampai juga? Apa terjadi sesuatu?" 


Aku menggaruk pelipis ku yang terasa gatal, merasa bersalah sekaligus bahagia karena pernikahan itu tidak terjadi dan aku masih punya kesempatan menjelaskan kesalahpahaman dari dua keluarga. 


"Luna melahirkan, jadi acara ini di tunda."


"Kalian di rumah sakit mana? Aku akan kesana." 


Aku mengirimkan lokasi dimana kami berada. "Sudah." 


Setelah sambungan telepon di akhiri, aku melihat dari dinding kaca. Tak terasa air mataku menetes melihat perjuangan Luna yang melakukan persalinan normal. Keringat yang membasahi baju menjadi saksi bisu perjuangannya menjadi seorang ibu. 


Aku tersenyum saat mendengar suara tangisan bayi yang sangat kencang, melihat Luna yang tersenyum melihat bayinya yang sudah lahir kedunia. 


"Anggota baru dalam keluarga, selamat datang ke dunia ini." Gumamku di dalam hati, tersenyum melihat penampilan Biru yang acak-acakan tak jauh berbeda dariku yang berwajah berantakan karena tadi sengaja menghapus riasan di wajahku. 

__ADS_1


__ADS_2