Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Pacar pura-pura


__ADS_3

"Sudahlah, ini tidak penting." Ujarku yang menengahi permasalahan, tanpa melihat bagaimana kedua pria itu saling menatap sinis. 


Aku memutuskan untuk pergi menolak ajakan Daniel yang ingin mengantarku pulang, karena bagiku semuanya sudah cukup. Aku berbaring di atas sofa setelah melemparkan tas kecil yang selalu aku bawa sembarang tempat, pekerjaan membuatku sangat kelelahan. 


Aku celingukan saat tak merasa keberadaan Putih, entah kemana perginya gadis itu. Teringat aku pada Luna, istri Biru yang menjadi teman sekaligus sahabatku. Aku meraih ponsel yang ada di saku, mencari nama kontak Luna dan menghubunginya, semoga saja dia mengangkat telepon dariku. 


"Kak Iren, tumben meneleponku?" 


"Hem, aku tidak punya teman selain kamu. Apa kamu sibuk?" 


Belum sempat aku menunggu jawaban dari adik iparku itu, namun sepertinya ponsel di rebut dan aku tahu kalau suaminya Luna yang mengangkatnya. 


"Inilah akibatnya kalau niat baikku di tolak, mba malah mengganggu ku!" 


"Oh halo, memangnya aku gak boleh menelepon Luna?" 


"Boleh, tapi ingat timingnya." 


Tut … tut … tut


Aku melempar ponselku karena kesal, dua adik berbeda ibu selalu saja menyebalkan. 

__ADS_1


"Lebih baik aku ke perpustakaan saja." Gumamku yang berlari menuju kamar mengganti setelan pakaian formal menjadi santai. Menggunakan jeans berwarna denim, dan baju kaos putih polos. Tak lupa aku menguncir rambut, dan kacamata sebagai penunjang penampilan yang sejujurnya aku sendiri tidak terlalu melihat penampilan, apakah ini style yang cocok atau tidak. 


Di dalam perpustakaan yang besar, aku berjalan menuju di mana novel kisah cinta tersusun rapi. Ya, walaupun aku terlihat cuek mengenai realita, tapi tak bisa di pungkiri aku juga suka akan kisah cinta yang di karang penulis. 


Ada tiga buah novel romantis, aku membacanya dengan sangat serius tapi di menit berikutnya malah mendengar suara deheman.


"Kisah cinta? Ternyata mba diam-diam suka kisah cinta ya." 


Ya, kalian pasti tahu siapa pelakunya. Aku terperanjat saat hendak menoleh ke belakang, rupanya jarak yang begitu dekat hampir aku mencium bibirnya. 


"Hah, aku tak habis fikir. Kamu ini sebenarnya fans atau haters? Mengapa selalu ada di setiap tempat." 


"Siapa yang ngikutin mba, kepedean nih." 


"Mba." Panggilnya membuatku menatap wajahnya. 


"Apa?" 


"Gak apa-apa, hanya memanggil." 


Aku menghela nafas sambil menggelengkan kepala, tidak terasa tiga puluh menit sudah usai dan aku memutuskan untuk pulang dan meminjam beberapa novel untuk ku baca di rumah. 

__ADS_1


Beberapa langkah keluar dari perpustakaan, tiba-tiba tanganku di tarik seseorang dan langsung mengurung tubuhku. Aku mendongakkan kepala menatap si tiang listrik, walaupun usiaku lebih jauh di atasnya tapi tinggi dia membuat leherku sakit. 


"Sekarang apa lagi?" 


"Mba, bantuin aku dong. Please!" bujuknya. 


"Tolong apaan?" 


"Jadi kekasih pura-pura ku, gimana?" 


"Gak ahh … ogah." Tolakku. 


"Ayolah mba, masa mba tega lihat aku yang setampan dan juga baik hati ini menangis. Ini masalah darurat mba." 


Aku tidak peduli dengan permasalahannya, namun hatiku yang lembut itu juga tak tega menolaknya. "Sangat mendadak." 


"Bukan mendadak mba, tapi kepepet. Jadi pacar pura-pura aku ya, selama sebulan saja." 


"Apa untungnya bagiku?" Mana mungkin aku mau kerugian. 


"Masalah uang aku bisa kasih berapapun yang mba mau, asal mau bantuin aku menggagalkan perjodohan yang tidak aku inginkan." Terangnya yang bersemangat membujukku. 

__ADS_1


"Deal." Tidak bisa dipungkiri kalau aku juga wanita materialistis. 


__ADS_2