
Ariel mencoba untuk berdiri dari duduknya dan menggendong tubuh Iren, tapi tidak semudah itu karena wanita mabuk itu malah memukul punggungnya. Tidak tahan dengan serangan itu, dia terpaksa menurunkan tubuh ramping dan mungil.
"Kami sedang mabuk, sebaiknya kamu beristirahat ke kamar." Ucap Ariel, sedangkan Iren membalasnya dengan menggelengkan kepala sembari tertawa.
"Tidak, aku tidak ingin tidur."
Ariel mengusap wajahnya kasar, lebih baik dia menghadapi beberapa para penjahat daripada menghadapi orang yang sedang mabuk. "Ayo kita ke kamar!"
Iren menepis tangan Ariel kasar dan menunjuk wajah pria itu sambil menengadahkan kepalanya karena dirinya seperti liliput. "Kamu dan aku? Aku tidak ingin tidur denganmu, kamu hanya bocah tengil yang sok berkuasa. Kesepakatan itu dibatalkan, kamu ingin uang? Baiklah, aku berikan." Dia mengambil tas jinjingannya, dan mengeluarkan beberapa ikat uang cash dan melemparkannya di hadapan Ariel.
"Jangan membual di saat kamu mabuk."
__ADS_1
"Aku tidak mabuk, hanya minum sedikit tidak akan mempengaruhi kesadaranku." Iren membungkukkan badannya dan berdiri berulang kali melakukan hal yang sama, bertepuk tangan dan tertawa mengiringinya.
Ariel memijat pangkal hidungnya, kepalanya pusing menghadapi Iren yang lepas kendali. Kembali dia menggendong ala sekarung beras secara paksa, tanpa peduli seberapa kuatnya sang wanita memberontak. Dia melemparkan tubuh Iren di atas tempat tidur, dan menatapnya khawatir.
"Sangat tidak romantis, aku yakin kalau wanita yang menikah denganmu akan menyesal." Iren terus meracau seperti burung beo tanpa berhenti, dia sangat bahagia melepaskan semua bebannya di saat mabuk.
Ariel yang sudah kehabisan akal dengan terpaksa mendekat dan dia sudah berada di atas sang wanita, pose itu terlihat sangat intim apalagi keduanya saling terdiam berkontak mata.
"Oho, jadi kamu ingin mengerjaiku lagi? Begitu rupanya, permainan yang sangat kuno." Iren menggenggam kerah leher baju Ariel dan menarik untuk lebih dekat darinya, beberapa saat dia terdiam kemudian tertawa yang dia sendiri tidak tahu penyebabnya.
"Kamu sangat tampan dan punya keahlian yang membuatku tertarik padamu, sikap mu jauh lebih dewasa di bandingkan aku. Kamu sangat sempurna, tapi sayangnya aku tidak akan memilih sebagai suamiku." Gumamnya yang terus mengoceh.
__ADS_1
"Boleh aku tahu alasannya?" Ariel memanfaatkan situasi dan juga kondisi, orang mabuk itu berkata benar karena dia melampiaskan apa yang terkubur di benaknya.
Iren tersenyum. "Karena aku tidak akan menikah Para pria itu sama saja, mereka hanya mencari kesenangan sesaat. Para pria itu bajingan dan juga keparat, mereka makhluk yang paling egois dan selalu menjadi pembenaran di saat ketahuan selingkuh."
"Tapi aku mencintaimu tanpa syarat."
Iren tersenyum dan mendorong tubuh Ariel, hingga kini posisinya dia yang berada di atas. "Kamu hanya bayangan bocah tengil, seharusnya tidak mengatakan kalimat keramat itu. Ibuku dulu menjadi korbannya, dan aku trauma hingga memutuskan untuk tak menikah."
Iren tertawa saat dia memegang perut sixpack milik Ariel, memainkan jemarinya dengan lihai membuat sesuatu di bawah sana ikut menegang.
Ariel menelan saliva dengan susah payah. "Dia sangat menggoda, andai imanku setipis tisu pasti sudah menyerangnya." Batinnya.
__ADS_1
Ariel sangat terkejut saat Iren mencium dan ******* bibirnya dengan lihai, ciuman itu langsung dia balas hingga keduanya menikmati permainan mereka.
Pikiran Ariel mulai tercemari dan perlahan tangannya kelayapan ingin menyusuri setiap inci tubuh wanita di atasnya. Namun, hal itu tidak terjadi saat Iren tidak sadarkan diri.