Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Toko perlengkapan bayi


__ADS_3

Aku membawa banyak sekali kado untuk calon keponakanku, mulai dari yang kecil hingga besar. Jujur saja aku tidak mengerti dengan barang-barang keperluan bayi, karena tidak punya pengalaman mengenai itu. Cukup lama aku berada di sana dan hampir dua jam, mengirimkan semua itu langsung ke alamat rumahku. 


Aku tidak sengaja menyenggol seseorang, segera aku memungut barang bawaannya. 


"Maaf, aku tidak sengaja." 


"Tidak masalah." Jawabnya yang tersenyum ke arahku. 


Aku melirik perutnya yang sedikit membesar, sepertinya dia juga membeli perlengkapan untuk menyambut bayinya yang akan lahir. "Sekali lagi aku minta maaf, aku tidak sengaja menyenggol lenganmu." 


"Gak masalah. Aku maklumi." 


"Hem, aku Iren. Siapa namamu?" tanyaku sambil mengulurkan tangan sebagai perkenalan diri, karena melihatnya sama saja seperti aku melihat Luna, adik iparku. 


"Aku Maya." Jawabnya juga mengulurkan tangan. 


"Kamu mengingatkan aku dengan adik iparku yang juga hamil besar." 


"Hah, iya. Usia kehamilanku menginjak tujuh bulan." 


"Adik iparku hanya menghitung hari saja." 

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu. Senang bertemu denganmu, Iren." 


"Senang bertemu denganmu juga, Maya." 


Aku berlalu pergi meninggalkan tempat itu, sungguh aku merasa simpati pada wanita hamil itu. Dan hal ini semakin membuatku tidak ingin menikah, lihat saja wanita hamil besar itu yang pergi seorang diri ke toko keperluan bayi tanpa di temani oleh suaminya.


"Semua pria sama saja, mereka hanya tahu di masa senang dan lupa di masa sulit. Kasihan sekali Maya, dia pergi seorang diri tanpa suaminya." Monolog ku yang selalu kesal melihat seorang wanita yang di telantarkan, di tinggalkan oleh seorang makhluk yang bernama laki-laki.


****


"Apa semua ini?" 


"Hadiah." Dengan bangganya aku menunjukkan semua keperluan bayi yang sudah di bungkus kado, dan banyaknya memenuhi kamar Luna. 


Aku mendelik jengkel dengan pertanyaan yang seharusnya tidak aku jawab. "Apa aku tidak boleh memberikan kado untuk calon keponakanku?" Aku melihat Luna yang merasa sungkan. 


"Ini terlalu banyak, apa tidak berlebihan? Ini pasti merepotkan dan juga menghabiskan banyak uang." 


Aku kembali mendelik kesal, kesederhanaan dari adik iparku itu terkadang membuatku jengkel. Bagaimana tidak? Bahkan dia hidup sederhana dan hemat walau suaminya kaya raya dan pimpinan juga pemilik tekstil terbesar di Paris. 


"Itu semua untuk calon baby boy yang sebentar lagi melihat dunia." Ucapku bangga. 

__ADS_1


"Tapi Mba…." 


"Jadi kamu gak mau nerima nih?" ucapku yang mulai memasang wajah sedih. Hingga akhirnya dia menerima semua pemberianku, aku berlalu pergi dan menuju dapur untuk mengisi perutku yang keroncongan. 


"Buatkan aku satu ya Mba." 


"Aku juga Kak." 


Ucapan dari dua orang yang hampir serempak membuatku menoleh ke sumber suara, mendelik kesal melihat dua orang tersenyum tanpa bersalah menyuruhku membuatkan makanan untuk mereka. 


Aku meletakkan makanan di atas piring dan ku sajikan, juga di susun dengan rapi. 


"Kalian membuat aku kesal saja."


Kami bertiga makan dengan lahap, masakanku lumayan enak tapi tidak sebanding dengan masakan Luna yang sangat luar biasa dan cocok di lidahku. 


"Lumayan, walau gak seenak buatan istriku." Komentar Biru yang menjatuhkan ku. 


Aku segera mengambil piringnya hendak kubawa ke wastafel, tapi Biru lebih dulu mencegahku dan membujukku agar tidak membuang makanannya. 


"Aku hanya bercanda, jangan tersinggung dengan ucapanku!" 

__ADS_1


"Tentu saja hatiku baik, makanlah dan pergi dari hadapanku setelah itu!" ketus ku.


__ADS_2