Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Hobi baru Putih


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit terdekat, Ariel menggendongku masuk ke dalam. Ingin sekali aku menjelaskannya, tapi reaksinya sangatlah berlebihan. Kebodohan pria muda itu berhasil membuatku tertawa lepas, itu membuatnya penasaran. 


Dokter memeriksaku dan mengatakan kalau alergi ku tidak berbahaya, aku menggelengkan kepala karena dia cukup berlebihan. 


"Sudahlah, kamu mempermalukan dirimu sendiri." Aku segera beranjak dari atas brankar dan duduk di sebelahnya, rasa khawatir membuat hatiku berbunga. Tanpa sadar aku menggenggam kedua tangannya dan mengatakan itu baik-baik saja. 


"Apa anda yakin, Dokter? Coba pastikan sekali lagi!" 


"Aku sudah memeriksanya dan semua normal." 


Ariel terus berdebat, memintaku agar diperiksa sekali lagi. Aku yang tidak bisa melihat kekonyolannya itu, segera memberikan kode agar dia tidak bertindak lebih jauh lagi. 


****


Sementara di sisi lain, Putih sudah bersiap-siap dengan pakaiannya yang sesuai di usianya untuk memikat laki-laki yang lolos seleksinya. "Hah, aku sudah cantik dan sekarang mari kita ke melanggar lampu lalu lintas." 


Putih bersiul setiap kali kakinya melangkah pergi, hatinya sangat senang dan bahagia untuk bertemu dua polisi tampan pemikat hati. Entah berapa kali dia bolak-balik ke kantor polisi, seakan menjadi hobi baru untuknya. Dia melakukannya demi bertemu kedua polisi itu dan mengejar cinta mereka, berpetualang namun tidak pernah membuahkan hasil. 


Di sinilah Putih berada, menunggu salah satu polisi untuk menangani kasusnya. Dengan senang hati dia meneeima tak keberatan, tanpa tahu jika salah satu polisi tampan yang menjadi incarannya sudah membaca triknya dan berniat untuk menjahili. 


"Pak Broto!" panggil Yoga yang melambaikan tangan, ketika pria berseragam itu berhenti, dia mengejarnya dan menyamakan langkah kaki. 

__ADS_1


"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?" 


"Ada Pak, kebetulan sekali."


"Katakan saja, ada apa? Jangan sungkan!" 


"Bapak tahu Putih? Gadis cantik yang selalu keluar masuk dari sini, di sengaja melakukan itu karena ingin bertemu denganku." 


"Wah, ternyata Pak Yoga punya fans." 


"Tolong gantikan saya ya Pak." 


Putih celingukan mencari keberadaan dari pangeran tampan yang mengenakan seragam coklat, senyuman di wajahnya menghiasi wajah cantiknya. Namun di detik berikutnya senyumnya malah mengerucut saat melihat seorang pria perut buncit. 


"Loh … loh, kemana Yoga? Bukannya dia yang biasanya menangani kasus ku?" tanyaku yang sedikit shock, bukan pangeran tampan melainkan orang lain. 


"Hari ini dia tidak masuk."


"Eh, pantas saja." Putih yang kecewa memutuskan untuk pulang, semua berjalan tidak sesuai dengan rencananya. 


Putih meraih tasnya hendak pergi dari sana setelah menyelesaikan perkara yang sengaja di perbuat, dengan wajah sedih yang di tekuk, tidak bersemangat untuk melangkah. 

__ADS_1


 


Langkahnya terhenti saat seorang wanita paruh baya berteriak memanggil Yoga, hal itu membuat rasa penasaran yang tinggi. Putih mengikuti wanita paruh baya dan terkejut kalau lelaki impiannya telah membohonginya, baru saja dia hendak bergabung untuk meramaikan suasana, tapi langkah terhenti penasaran cukup kuat.   


"Mama?" 


"Kamu itu kenapa sih? Sesekali Mama datang tapi kamu berusaha menghindar." 


"Bukan begitu Ma, aku sedang bekerja." 


"Tugas apanya? Mama lihat kamu santai menikmati semua fasilitas yang ada. 


Yoga menatap ibunya dengan tanda tanya, karena tidak biasanya sang Ibu membawakan bekal entah apa tujuannya. Sebenarnya dia memberanikan diri untuk bertanya, tapi jawaban yang sebentar lagi akan dijawab membuatnya harus menguatkan mental. 


"Kamu tidak akan menikah? Lelucon macam apa itu. " 


"Gak ada yang cocok." 


Putih tersenyum bahagia dia berusaha untuk merebut hati calon mertua tanpa peduli dirinya sudah ketahuan. 


"Oo Oo aku ketahuan " 

__ADS_1


__ADS_2