
Setelah meminum obat yang di resepkan dokter, dan syukur rasa gatal dan panas di sekujur tubuhku perlahan menghilang. Ku lihat tatapan Ariel yang mengintimidasi layaknya seorang polisi menyelidiki seorang tahanan.
"Aku risih kalau kamu terus menatapku begitu." Celetuk ku yang membuka suara, suasana tegang yang di alami Ariel tidak berlaku padaku. Memang aku bersalah karena ceroboh membuat aku menjadi seseorang yang konyol.
"Kenapa kamu tidak memberitahu dengan elergi mu? Aku bisa memesan seafood tanpa kerang."
Ku lirik wajah Ariel sepersekian detik dan mengarahkan pandangan ke samping. "Kalau orang bersalah, pandangannya selalu di alihkan."
Aku kesal karena di balik musibah Ariel tidak memberiku apapun selain ceramah yang nantinya aku bosan bila mendengarnya. "Kamu seperti tidak pernah lupa," sindir ku yang merungut.
Cup
Aku sedikit terkejut, merasa aku di permainkan. Kedua mataku berkedip-kedip tidak percaya, mengapa pria itu selalu saja mengambil kesempatan menciumku.
"Kamu ini kenapa? Sudah berhentilah menciumku."
"Apa itu salah?"
Aku sedikit terkejut dengan perkataan beraninya. "Ya, tentu saja salah."
"Aku rasa tidak salah, aku hanya menciummu bukan berhubungan intim."
"Ck, tidak nyambung." Gumamku yang tidak ingin memperpanjang perdebatan. "Kamu harus tanggung jawab!" aku menatap Ariel serius dan sesekali melirik jam di dinding.
__ADS_1
"Aku siap kapanpun yang kamu inginkan." Ariel malah berpikiran lain, kedua kalimat sama namun arti yang berbeda bagi keduanya.
"Sepertinya kamu salah paham, antar aku pulang!"
"Ku pikir kamu siap menikah dengan ku."
"Dan itu tidak pernah terjadi."
Aku yang ingin pulang karena tidak nyaman berada di sisinya, aku takut perasaan berkembang dan berakhir nasibnya sama seperti ibuku, dan aku sebisa mungkin menghindarinya.
"Kenapa kamu malam diam? Antarkan aku pulang!" desakku.
"Perjalanan akan memakan waktu lama, kita harus menginap di hotel dan pulang di pagi harinya."
"Apa itu keputusan mu sendiri? Aku hanya ingin pulang, besok aku harus bekerja. Ini salahmu yang membawaku kesini."
"Hem." Dengan terpaksa aku dan Ariel mencari hotel atau penginapan di sekitar itu, berharap waktu berjalan cepat karena sekarang aku merindukan tempat tidurku.
Di hotel, Ariel mencoba memesan dua kamar sedangkan aku diam menemaninya.
"Maaf, tapi semua kamar penuh dan hanya tersisa satu kamar."
"Apa? Satu kamar? Apa tidak ada kamar yang lain?" kali ini aku membuka suara, melakukan protes karena tidak mungkin aku menginap satu ranjang bersama seorang pria.
__ADS_1
"Maaf, semua kamar penuh dan tersisa cuma satu. Tidak ada salahnya seorang kakak tidur dengan adiknya."
Aku menatap wanita itu dengan pandangan tidak percaya, aku di anggap sebagai kakak dari Ariel hampir membuatku tersedak ludah sendiri.
"Baiklah, siapkan kamar itu."
"Apa?" aku menatap Ariel intens. "Sebaiknya kita cari hotel atau penginapan lain saja."
"Hari semakin malam, daerah sini banyak wisatawan dari luar dan dalam negeri. Apa kamu ingin kita tidur di mobil?"
Aku menghela nafas tak punya pilihan, akhirnya setuju satu kamar dengan Ariel.
Aku tidak percaya, kalau kamar memiliki ukuran cukup untuk dua orang dewasa.
"Kamu tidurlah di ranjang, dan aku tidur di sofa."
"di sofa kecil itu?" sofanya bahkan sangat kecil, apa dia bisa tidur di sana?
"Kecuali kamu mengizinkan aku tidur di sebelahmu, perjalanan jauh membuat tubuhku pegal."
Dia berusaha menyinggung sisi dalamku, aku orangnya tidak tegaan itu terpaksa membiarkannya tidur satu ranjang denganku.
"Kamu boleh tidur di sebelahku, asal tidak boleh keluar dari batas yang aku tentukan."
__ADS_1
"Baiklah."
Aku benci senyumannya itu, terlihat dia hanya mengacuhkan syarat, dan semoga saja dia tidak melanggarnya kalau tidak? Aku usir dia dari tempat tidur.