Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Ke hotel?


__ADS_3

Aku melihat semua orang bergegas masuk ke dalam ruangan, aku hanya menunggu di luar saja melihat momen mereka. Aku masih ingat bagaimana mereka menjadikanku sebagai boneka, jujur aku bahagia telah menjadi bibi tapi kebahagiaan itu hanya sesaat dikala keluarga dari Ariel datang menemui untuk menanyakan kabar Luna.


Namun pandangan mereka tertuju padaku, dan aku tahu apa penyebabnya. Aku segera merapikan rambut dan juga mengusap wajahku, mungkin aku akan terkejut tidak mengenali wajah ku sendiri di depan cermin, lebih tepatnya berantakan seperti kuntilanak beranak di dalam kubur. 


"Apa yang terjadi padamu?" tanya Ariel yang menyodorkan sapu tangannya untuk menghapus riasan di wajahku yang telah aku rusak sebelumnya. 


"Bukan masalah besar." Jawabku yang menatapnya sekilas, jujur saja aku marah padanya karena tidak menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. 


Ariel tahu kalau Iren sangat marah padanya, tapi apa dayanya saat ini yang juga sudah berusaha menjelaskannya. "Aku ingin bicara padamu!" ucapnya yang langsung menarik tangan wanita itu. 


Aku sangat terkejut tanganku di tarik olehnya, tidak ada waktu untuk menjelaskan apapun padanya, aku marah juga kesal. Membawaku menjauh dari semua orang benar-benar membuatku ingin menjitak kepala kepalanya. 


"Kenapa kamu menarikku menjauh dari semua orang?" 


"Aku ingin menjelaskannya padamu, aku sudah …." 


"Aku tidak butuh penjelasanmu! Bukankah ini yang kamu inginkan? Jadi untuk apa menunjukkan kesedihan pura-pura di hadapanku." Jawabku ketus, menatapnya dengan wajah datar. 

__ADS_1


"Iren, aku mencintaimu dengan tulus. Mengapa kamu tidak pernah melihatku sebagai seorang pria? Apa karena usiaku yang jauh di bawahmu? Atau kamu mencintai pria lain?" 


"Apa itu penting? Aku sudah katakan tidak akan menikah dengan siapapun, lebih baik aku sendiri." 


"Tidak ada yang bisa hidup sendiri, semua orang membutuhkan cinta dan kasih sayang agar hidup lebih berwarna." 


"Tidak perlu mencemaskan aku, biar aku sendiri yang menjalankan kehidupanku sendiri." Nafasku naik turun menahan emosi di hati, juga terkejut saat bibirku di kecup oleh Ariel. "Berhenti menciumku, dasar tidak sopan! Aku tidak memberikanmu hak menyentuhku!" ucapku memperingatinya dengan nada tinggi serta menunjuk wajahnya. Aku menghapus bekas kecupan itu, sangat menjengkelkan kalau aku selalu saja kalah darinya. 


"Kamu hanya milikku, Iren." 


Aku marah, aku kesal padanya. Kesalahpahaman yang tidak dijernihkan terlebih dahulu, mengapa dia tidak mengatakan kalau semua itu hanya kesalahpahaman saja, seolah di tuli dan juga buta mengenai masalah yang kuanggap sangatlah serius. 


Ariel terbawa suasana, mengepung dan memblokir tubuh Iren dan menatapnya dalam. Dia sangat tertarik dan mencintai wanita dewasa itu dengan tulus juga sepenuh hati, tapi sepertinya cintanya tak berarti di mata wanita yang berdiri di hadapannya. 


Aku terkejut melihat keberanian Ariel yang berusaha menakut-nakuti, sontak aku refleks menutup kedua mataku saat bibirnya hampir saja mendarat di bibirku. 


"Apa? Kamu mau aku menciummu bukan?" goda Ariel yang menarik pinggangku hingga tidak ada jarak di antara kami, bahkan untuk memberontak saja dia tak memberiku celah. 

__ADS_1


"Dasar bocah tengil, lepaskan aku!" pekikku yang berusaha melepaskan diri. 


Cup


Sial, dia kembali mencium ku di saat situasi seperti sekarang. Aku menggunakan seluruh tenaga dan ingin menyikut benda keramat milik pria itu, tapi gerakan juga refleks nya sangat-sangat bagus. 


"Kamu membuatku tidak tahan." 


"Lepaskan aku, bajingan!" 


Ariel memblokir dan mengunci pergerakanku, membawaku masuk ke dalam mobil yang entah kemana dia membawaku pergi. 


"Hei, mau kemana kamu membawaku pergi!" pekikku yang tidak terima. 


"Ke hotel." 


Mendengar kata hotel membuat aku merinding, bagaimana bisa bocah itu memikirkan hal itu? 

__ADS_1


__ADS_2