
Aku sangat senang saat melihat air pasang surut di kaki ku, bahkan rekomendasi tempat lebih baik daripada danau hijau. Aku lupa, kapan terakhir kali mengunjungi pantai, sudah lama sekali aku tidak pernah berlibur selain ke danau hijau yang selalu aku kunjungi di kala sedih atau banyak masalah.
Aku tertawa lepas seperti anak kecil, berjalan di bibir pantai dan kaki ku tersapu ombak membuat pikiranku damai dan juga tentram.
"Aku benar kan!"
Aku mendongakkan kepala menatap wajah tampan Ariel, menganggukkan kepala menyetujui perkataannya. "Kamu benar, ini luar biasa."
Di sisi lain, Ariel sangat senang melihat kebahagiaan terpancar sekali lagi di wajah Iren. Wanita cuek dan jutek seketika berubah menjadi wanita imut dan menggemaskan, dia segera meraih ponsel dari saku celananya dan mengabadikan foto wanitanya yang sangat ceria.
"Kamu curang, memotretku tanpa meminta izin terlebih dahulu dan itu melanggar." Gertak Iren, sedangkan Ariel berkeringat berharap wanitanya tidak memaksa melihat jasil jepretannya, takut ketahuan kalau dia mengambil pose Iren yang tertidur dengan air liur membanjiri wajah.
Aku tersenyum karena berhasil menggertak Ariel, berjalan mendekat dan merebut ponselnya. Aku langsung mengambil foto selfie berdua dan kembali memberikan ponsel itu pada pemiliknya.
"Anggap itu sebagai hadiah dariku, sebagai ucapan terima kasih karena sudah membawaku ke tempat ini."
"Sama-sama. Melihat reaksimu sepertinya kamu cukup lama tidak pergi ke pantai, apa aku menerkanya dengan benar?"
"Hem, sudah lama aku tidak ke pantai."
__ADS_1
Aku melihat Ariel yang terdiam, dan aku tidak ingin dia bertanya banyak. Aku kembali bermain menendang air dan melompat agar air asin itu terciprat.
"Aku punya hal yang lebih seru daripada ini, mau mencobanya?"
Kedua alisku saling menyatu, mendengar tawaran Ariel. "Kamu ingin bermain banana boat?" terkaku.
Dengan cepat Ariel menggeleng. "Itu tidak seru, apa kamu menyukai tantangan?"
"Aku suka tantangan."
"Oke, aku putuskan kita akan naik jet sky. Setuju?"
Aku sempat berpikir, setelahnya aku mengangguk karena aku ingin menikmati hidup yang selama ini aku jalani dengan rutinitas yang sama berulang kali, menyebabkan aku bosan.
Aku sudah bersiap duduk di bagian belakang, membiarkan Ariel mengambil alih kemudi karena ini idenya.
Aku hendak memasang jaket pelampung, Ariel yang sudah siap lebih dulu dan membantuku.
"Kamu sudah siap?"
__ADS_1
"Heum, sudah."
Ariel memegang kedua tanganku dan melingkarkan ke pinggangnya, tidak ada jarak kembali membuat jantungku berdetak lebih cepat tidak beraturan.
"Saat menjauh dari bibir pantai, kita berteriak bersama."
"Apa itu harus?"
"Tentu saja, ikuti apa yang aku katakan. Lihat, keajaiban apa yang kamu rasakan nanti."
"Oke, aku akan berteriak."
"Good girl." Sekarang gantian Ariel yang mengatakan itu seraya mengelus pucuk kepala ku.
Aku berpegangan dengan sangat erat, membiarkan Ariel yang menjadi pembimbingnya menaungi ombak dan bermain-main di atasnya dengan skill yang dia miliki. Sekali lagi aku terpukau dengan kelebihan pria muda itu, dia juga handal menggunakan jet sky bagaikan sang ahli.
"Ayo berteriak!" pekiknya agar suaranya terdengar olehku.
"Ayo."
__ADS_1
"Aarghh … aarghh … aarghh." Pekik kami serentak, mengeluarkan semua kekesalan dan beban.
Aku tertawa setelahnya, tidak aku sangka kalau hidup bisa seindah ini. Kenapa dulu aku bisa berpikiran sempit mengakhiri hidup, andai saja Ariel datang lebih cepat, mungkin aku tidak akan menjadi kepribadian pendiam dan agak tertutup.