
Iren menggunakan kemampuanya menyetir mobil menyalip beberapa kendaraan yang menghalangi jalannya, dia tidak peduli asal Luna bisa sampai ke rumah sakit. Andai saja Biru tahu kalau istrinya berada di dalam mobil dalam kecepatan tinggi, pasti dia sudah di ceramahi dan diomeli oleh adik laki-lakinya.
Luna yang kesakitan tidak peduli laju kendaraan yang di tumpanginya, rasa sakit yang menjalar di sekitar pinggang tak mampu di ucapkan oleh kata-kata. Dia kesal bukan suaminya yang mengantarkannya ke rumah sakit, tapi kakak iparnya.
"Berapa lama lagi sampai ke rumah sakit."
"Aku usahakan secepatnya!" Iren kembali menambah kecepatan laju mobilnya, tidak peduli telah melanggar lampu lalu lintas hingga mereka di kejar oleh dua orang polisi yang menggunakan motor.
Iren melirik lewat kaca spion, senyuman kecil terukir di wajahnya. "Menyusahkan saja."
Sesampainya di rumah sakit, Iren yang membantu Luna keluar dari mobil di tahan oleh salah satu polisi yang ternyata masih mengejarnya.
"Anda telah melakukan pelanggaran lalu lintas, dapat membahayakan pengendara lain. Ikut saya ke kantor polisi!" ucap pria tampan yang memegang lengan Iren.
Iren tak panik, dia menatap sinis pada pria itu yang berani menyentuh lengannya. Dia tersenyum diam-diam, memiliki rencana yang akan memudahkannya.
"Ya baiklah, kita urus itu nanti. Bantu aku angkat adik iparku yang mau melahirkan!"
__ADS_1
Perintah Iren sangat jelas, polisi tampan itu bingung atas sikap yang ternyata berbanding terbalik.
Keduanya kembali berdebat masalah pelanggaran, sementara Luna tidak sanggup menahannya lebih lama lagi, air rembesan ketuban terus mengalir di sela kakinya, dia sangat takut jika kekurangan air ketuban yang bisa membahayakan nyawa bayinya.
"Bisakah perdebatan ini di tunda! Kalian sangat berisik!" pekik Luna menarik nafas dan mengeluarkannya secara cepat, dia berteriak karena dorongan untuk mengejan. "Hei pak polisi, kamu mau saya melahirkan disini!"
Polisi tampan itu segera membantu menggendong Luna masuk ke rumah sakit, sedangkan Iren tersenyum karena pria berseragam itu bisa di andalkan.
"Dokter … suster! Tolong bantu adik iparku!" pekik Iren berteriak memanggil tenaga medis, dia yang tahu kalau Luna melahirkan dan sudah pembukaan lengkap.
Polisi tampan yang menggendong Luna, dia meletakkannya di atas kursi roda dan membiarkan tenaga medis yang bekerja.
"Berani sekali kamu menyentuh istriku!" Biru yang baru sampai itu tiba-tiba darahnya mendidih melihat pria lain yang membantu istrinya. "Dan kamu Iren, seharusnya kamu tidak membiarkan pria brengsek ini menyentuh Luna!"
Iren menghela nafas sambil memutar bola matanya deng jengah. "Harusnya kamu berterima kasih pada polisi itu, dia membantuku. Ck, seharusnya kamu yang menggendong istrimu, tapi kamu malah menyusahkan ku. Apa kamu pikir istrimu itu kurus dan tidak berat?" sindirnya mencibir.
Biru terdiam karena apa yang di katakan oleh Iren memang benar, seharusnya dialah yang mengantarkan sang istri. Tapi dia malah berlarian tidak jelas dan tidak langsung melarikan diri.
__ADS_1
Polisi tampan itu sangat kesal karena wajah tampannya memar akibat di pukul oleh pria asing. "Kalian jangan berdebat! Akulah korbannya disini!"
"Sepertinya memar itu tidak parah, terima kasih sudah membantuku!" ucap Iren yang sekaligus mengusir pria berseragam itu.
"Hai Nona, anda melakukan pelanggaran karena sudah__."
"Menerobos lalu lintas. Ck, aku tahu telah melakukan kesalahan. Tapi ini kasusnya darurat, bagaimana kalau adik iparku melahirkan di mobil?"
"Tetap saja anda melakukan pelanggaran, ikuti saya ke kantor polisi!"
"Baiklah." Iren pasrah di bawa.
Putih yang baru saja sampai melihat kakaknya bersama dengan polisi tampan, dan membuatnya tertarik pada pandangan pertama.
"Kak, kamu mau kemana?"
"Kantor polisi. Kamu mau ikut?"
__ADS_1
"Aku ikut."
"Ya Tuhan … kenapa aku terjebak di antara keluarga aneh ini? Aku berharap sekali saja bertemu dengan mereka, jika bukan karena tugas aku sangat malas berurusan dengan mereka. Sialan … pria itu menghancurkan asetku!" batin polisi tampan yang di jadikan umpan.