
Betapa bahagianya aku mendengar kabar ini, semangatku kembali bangkit bersamaan dengan harapan yang sebentar lagi akan terwujud. Aku sangat menyayangi ibuku lebih daripada diriku sendiri, hanya dia yang aku miliki saat ini.
Di kantor, mood ku sangat cerah secerah mentari. Beberapa karyawan yang melihatku menatapku bingung dan tercengang karena kali pertamanya mereka melihatku tersenyum saat menyapa mereka. Hal itu tak luput dari perhatian asistenku, dia ikut senang.
"Nona terlihat sangat bahagia sekali."
"Tentu saja, makan siang nanti aku mentraktirmu."
"Wah, jarang-jarang Nona mentraktirku. Aku setuju!"
"Dasar kamu." Aku menggelengkan kepala sambil merenungi kalau perkataannya benar adanya.
Makan siang bersama, aku masih tersenyum memikirkan kondisi ibu yang mempunyai harapan sembuh. Aku yang melamun membuat asistenku penasaran apa yang sedang aku alami.
"Boleh aku tahu, mengapa Nona hari ini bahagia sekali?"
"Kamu mau tahu?"
"Hem, aku hampir mati berdiri karena penasaran. Tidak biasanya Nona begini, apa ini karena Nona menemukan seorang pria?"
"Kamu tahu sendiri, kalau aku tidak akan menjalin hubungan dengan pria manapun."
"Aku akui tebakanku salah, jadi apa alasan di balik senyuman itu?"
"Ibuku sebentar lagi pulih, aku sangat bahagia dengan kabar itu." Lanjutku yang menyuapi mulutku dengan makanan.
"Selamat Nona."
__ADS_1
Aku menganggukkan kepala dan kami melanjutkan makan, namun aktivitas ku sedikit terganggu saat ponselku bergetar menandakan ada pesan singkat yang masuk lewat aplikasi hijau.
"Ariel? Apa dia tidak punya pekerjaan lain saja?" Aku merengut kesal karena hampir setiap hari aku berurusan oada pria itu. Aku Tak ingin berbasa-basi, langsung menghubunginya.
"Ada apa menghubungiku?"
"Aku merindukanmu."
"Lagu lama, katakan ada apa? Aku sedang makan, apa kamu ingin aku tersedak." Protes ku yang sebenarnya merindukan pria yang usianya 10 tahun dariku. Entah mengapa perasaan dan juga hatiku selalu saja tidak sejalan, aku kesal tapi rindu bila tidak bertemu. Jangan katakan untuk mengakui perasaanku, dia yang selalu menempel membuat jantungku berdebar-debar.
"Begini saja, kirimkan lokasi kamu dan aku menyusul."
"Terdengar tidak menarik."
"Ayolah, aku mohon."
Aku yang tidak tegaan dengan terpaksa mengiyakan permintaannya, dengan tidak enak hati sekali lagi aku merepotkan asistenku.
"Aku ada urusan mendadak, bisa kamu handle selama aku tidak ada?"
"Jangan sungkan, Nona pergi saja dan aku yang akan menyelesaikan urusan di kantor."
"Good girl, kamu memang sangat tepat menjadi asistenku."
Aku menepuk pelan bahu asistenku dan membayar bill makanan, dengan langkah terburu-buru aku berlari menuju mobil.
Aku mendelik kesal seraya mengumpatinya, dia menyebalkan tapi selalu lolos membuatku jatuh cinta padanya. Apa? Aku jatuh cinta? Apa benar aku mencintainya? Karena ini baru pertama kalinya aku mempunyai perasaan.
__ADS_1
"Tidak Iren, itu bukan cinta tapi pikiranmu yang penuh imajinasi karena dia selalu berada di dekat mu." Ucapku yang terus bermonolog sendiri. Aku tidak ingin anggapan orang-orang yang buruk mengenai aku, menjalin hubungan dengan daun mudah sangatlah konyol.
Sesampainya di lokasi, aku melihat seorang pria yang mengenakan kemeja putih dan celana panjang berwarna mocca. Dia menoleh dan terlihat senyuman manis yang menyambut kehadiranku.
"Ayolah, aku punya tanggung jawab di kantor." Aku mendengus kesal sambil ku gerakkan kaki ini menghampirinya.
"Bunga ini khusus untukmu." Setelah mencium bunga dengan aroma yang unik, lalu menyerahkannya padaku.
Lantas aku terkejut karena tidak bisa berdekatan dengan bunga segala warna bunga mawar, aku alergi bunga mawar.
Hachi … hachi
Tanpa sengaja aku bersin dan terciprat ke wajah tampannya, aku ingin sekali tertawa melihat ekspresi wajahnya seperti menahan BAB.
"Aku alergi bunga mawar. Hachi … hachi."
Ariel langsung melempar sekuntum bunga mawar berwarna putih dan kuning, dia sangat khawatir dengan kondisiku yang tidak alergi.
"Aku bawa kamu ke rumah sakit terdekat!"
Ayolah, ini hanya alergi yang bisa hilang dalam tiga puluh menit ke depan, tapi reaksinya sangatlah berlebihan.
"Hei, tidak perlu cemas, alergiku bisa__."
"Jangn banyak bicara Iren, aku akan membawamu ke rumah sakit."
Aku berusaha untuk menjelaskannya, tapi kepanikan Ariel selalu memotong perkataanku. "Dasar payah "
__ADS_1