Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Mabuk


__ADS_3

Ingin sekali aku pulang, tapi situasinya saat ini tidak mendukung. Hari yang kian larut, hujan deras mengguyur semua yang ada di hadapannya. Aku menatap keluar jendela dan melihat pemandangan di luar, aku tidak ingin tidur karena belum mengantuk. Aku takut kalau tidur satu ranjang, Ariel pasti mengambil kesempatannya. 


Aku menghembuskan nafas kasar, dengan sengaja aku membuka jendela dan membiarkannya mengenai wajahku. Aku menutup kedua mataku dan merasakan ketenangan, permasalahan dari masa lalu sekilas terlintas. Aku takut memejamkan mataku, melihat fakta ibuku yang depresi berat saat ayahku membawa ibu dari Biru dan Putih datang kerumah. Saat itu aku masih kecil, tidak tahu apapun mengenai persoalan orang dewasa, tapi ayahku datang membawa seorang wanita yang hamil besar dan memintaku untuk memanggil wanita itu sebagai ibu. Aku tentu menolaknya, karena ibuku hanya satu dan tidak akan pernah aku memanggil wanita lain sebagai ibuku.


"Kamu sedang apa?" Ariel tiba-tiba datang dan menutup jendela yang sudah aku buka, dia melihatku khawatir tapi aku tidak menggubris. "Apa yang kamu lakukan, kamu bisa sakit nanti." 


"Heh, demam tidak akan membuatku mati, jangan berlebihan." Jawabku tanpa menatapnya, ekspresi datar tercipta di wajahku yang kembali hambar.


"Kamu bisa menceritakannya padaku!" Ariel duduk di sebelahku, menyodorkan secangkir kopi yang sangat cocok di situasi dan suasananya. 


Aku menyeruput kopi yang dia berikan padaku, aku tersenyum paksa berterima kasih padanya. "Aku iri padamu, kamu mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari kedua orang tuamu." 


"Iri?" 

__ADS_1


Aku meringis melihatnya yang mengerutkan kening, sebagai penghibur. "Dari kecil aku sudah hidup mandiri, tanpa kasih sayang dari kedua orang tuaku." 


"Apa kamu percaya pada Tuhan?" 


"Bisa ya dan juga tidak."


"Mengapa?" 


"Pasti ada saatnya doamu di kabulkan." 


"Hem, aku tidak tahu." Aku kembali menyeruput kopi yang ada di dalam cangkir. "Aku ke dapur dulu!" 


"Ya." 

__ADS_1


Hujan semakin deras membuat perutku cepat sekali keroncongan, aku pergi menuju dapur untuk melihat apa saja yang bisa aku makan tanpa perlu memasaknya. Perhatianku teralihkan pada etalase yang di dalamnya tersusun minuman alkohol dari berbagai merk terkenal, aku tidak habis pikir ternyata bocah itu mengkonsumsinya. 


"Ternyata dia tidak seperti yang terlihat." Aku penasaran bagaimana rasanya minum alkohol, walaupun aku tahu berbagai jenisnya tapi tidak pernah menyentuh barang haram itu. 


Suasana hatiku sangat tidak baik sekarang dan berpikir apakah alkohol bisa menghilangkan bebanku ini. Entah mengapa aku tertarik pada wine, aku mengambilnya tanpa di ketahui oleh sang empunya, tentu saja mengambilnya dua gelas kecil saja agar dia tidak tahu aku mencuri minumannya. 


"Aku rasa dua gelas kecil wine tidak akan membuatku mabuk." Monologku seraya menuangkannya dan meneguknya dalam sekali tegukan, rasa yang begitu aneh di lidah tapi membuatku ingin mencobanya lagi dan lagi. Kepalaku terasa berat, aku berusaha agar kesadaranku tetap terjaga. 


Sementara Ariel yang penasaran apa yang di lakukan oleh Iren di dapur membuatnya segera menghampiri, kedua matanya terbelalak saat melihat wanita itu bernyanyi dengan nada fals dan sumbang tapi begitu penuh percaya diri. 


"Ya ampun … dia mabuk!" Ariel berlari menghampiri Iren, berusaha untuk menghentikan aksi wanita itu yang sungguh membuat telinganya sakit. 


"Jangan halangi aku, setidaknya untuk hari ini." Ucap Iren mendorong tubuh Ariel hingga terduduk di sofa, kemudian dia kembali bernyanyi dan penampilannya seperti kuntilanak kebentur tiang listrik. 

__ADS_1


__ADS_2