
Aku sungguh kesal, karena kejadian kemarin membuat ponselku ramai akan teror dari Biru dan juga istrinya. Tidak ada cara lain, aku terpaksa memblokir nomor kontak mereka agar tidak menghubungiku untuk sementara waktu. Namun hal itu semakin membuatku merasa di teror oleh nomor baru yang aku pastikan ulah dari adikku yang bernama Biru.
Aku melempar ponsel sembarang arah, memijat pelipis ku yang terasa pusing karena masalah kemarin. Aku bahkan tidak fokus pada pekerjaan dan melupakan kalau sekarang adalah pertemuanku dengan Daniel.
Terdengar suara pintu yang di ketuk, aku mempersilahkan untuk masuk yang ternyata adalah asistenku.
"Tuan Daniel sudah menunggu Nona."
"Hem, suruh dia masuk!"
"Baik Nona."
Tak lama aku melihat seorang pria tampan dan dewasa masuk ke dalam ruanganku, aku tersenyum menyambut kedatangan rekan bisnis.
"Maaf, aku membuatmu menunggu." Aku merasa sungkan karena dia malah menungguku.
"Tidak masalah."
Selanjutnya kami membahas kerja sama yang pastinya memberikan keuntungan, dan hal itu berjalan sekitar hampir dua jam lamanya. Setelah selesai membahas pekerjaan, kami memutuskan untuk bersantai.
__ADS_1
"Bagaimana dengan lukamu?"
"Seperti yang kamu lihat, kondisiku sudah membaik."
"Syukurlah."
Ponselku berdering, aku segera meraih di dalam tas kecil dan melihat siapa yang menghubungiku, ternyata Ariel yang menghubungiku.
"Mau apa dia menelponku?" Gumamku di dalam hati seraya berpikir, dan kemudian aku memutuskan sambungannya.
"Ponselmu kembali berdering, tidak ingin mengangkatnya? Siapa tahu penting."
"Hem, terserah kamu saja. Sebagai tanda terima kasih karena kamu sudah menolongku, bagaimana kalau kita makan siang bersama?"
Aku berpikir untuk beberapa saat, dan kemudian mengangguk dan menyetujui tawaran. "Ayo … kebetulan aku juga sudah lapar."
Kami segera pergi menuju restoran terdekat, dia memesan makanan sementara aku hanya mengikuti saja, sebagai sesama rekan bisnis kami membicarakan mengenai pekerjaan karena tidak ada topik lain, dan aku pun tidak ingin membahas masalah pribadi.
Sambil menunggu pesanan datang, aku pergi melangkah menuju toilet. Namun, setelah aku keluar dari sana seseorang datang mencegahku. Hal itu malah membuatku sangat terkejut karena mendapati Ariel yang sekarang tengah menatapku dengan serius.
__ADS_1
"Ternyata kamu pergi bersama si unta!"
Aku terkekeh saat Ariel mengatakan Daniel adalah unta. "Dia punya nama, rekan bisnis tidak masalah untuk makan siang di luar bersama. Tapi, bagaimana kamu bisa datang ke sini? Apa kamu mengikutiku? Seperti tidak punya pekerjaan lain saja."
"Aku tidak peduli namanya. Mulai sekarang kami harus menjauhinya."
Aku menyerngitkan dahi bukan karena penasaran, tapi merasa aneh pada perkataan Ariel yang memintaku menjauhi Daniel. "Kamu aneh sekali, tidak ada yang bisa melarangku."
"Dia bukan pria baik, sebaiknya kamu jauhi dia sekarang sebelum semuanya terlambat."
Aku tertawa dengan peringatan Ariel yang tidak masuk akal. "Kamu lucu sekali, apa dirimu adalah orang baik?"
"Dia tidak seperti yang terlihat, kamu tidak akan bisa lepas darinya setelah menargetkan mu."
Aku mendorong tubuh Ariel dan pergi meninggalkan tempat itu, tidak peduli seberapa keras dia berusaha untuk memberikan peringatan yang aku anggap itu sangat konyol.
Ariel mengacak-acak rambutnya karena tidak berhasil meyakinkan Iren. "Ya Tuhan … semoga saja Daniel tidak mengincar Iren." Gumamnya sembari mengangkat telepon dari orang yang sangat penting.
"Ada apa dengan Ariel? Melihat kedua sorot matanya, kalau dia tidak sedang berbohong. Ada apa dengan Daniel?" batin Iren tampak berpikir.
__ADS_1