
Sementara di sisi lain, Putih yang tujuan awalnya mengejar seorang duda beralih mengejar seorang polisi tampan yang menilang kakaknya. Ketampanan dan aura yang terpancar dari polisi itu membuatnya jatuh cinta entah pandangan ke berapa. Ya, dia selalu jatuh cinta pada pria lain dengan mudah tapi tak pernah satupun di antaranya menjadi kekasihnya. Sikap dan sifatnya yang masih plin-plan membuat mengejar yang baru dan melupakan yang lama.
Yang tidak di ketahui oleh Iren dan juga Biru, dia selalu mencari perkara pada polisi, tentunya ingin bertemu tambatan hati yang baru.
"Eh, bukankah kau adiknya wanita sinting itu?"
Suara yang di rindukan oleh Putih setiap saat, dia menoleh ke belakang dan tersenyum melihat pujaan hatinya ada di hadapan mata. "Semoga kak Iren dan kak Biru tidak tahu rencanaku ini," batinnya yang sebenarnya berharap cemas.
"Ahh ya, kita belum berkenalan. Aku, Putih!" ucapnya tersenyum malu sambil mengulurkan tangan, dia ingin berfantasi seberapa lembut tangan pria berseragam yang ada di hadapannya.
"Yoga." Sambut pria itu yang membalas uluran tangannya. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Gadis itu telah melanggar aturan tata tertib berkendara," ucap salah satu pria berkulit sawo matang dan sangat manis, tidak akan bosan melihatnya.
"Oh ya Tuhan, andai aku tahu semua ini dari awal. Jadi aku tidak perlu mengejar duda kampret itu!" batin Putih merungut menyalahkan dirinya sendiri.
"Kamu kenal dia?"
"Tidak terlalu. Kemarin aku bercerita mengenai wanita yang melanggar lampu lalu lintas, wanita hamil di sebelahnya dengan terpaksa aku menolong dan melupakan sejenak tujuanku yang menilangnya, dan sebagai upahnya wajahku memar hingga kadar ketampanannya berkurang." Jelas Yoga panjang lebar sambil melirik Putih yang tersenyum.
__ADS_1
"Dasar gadis aneh, orang berharap cemas kalau sudah melanggar aturan dan malas berurusan pada polisi tapi dia malah sengaja melakukannya." Ucap pria itu yang bernama Satria.
"Eh."
"Kenapa kamu sengaja melanggar? Apa motif dan tujuanmu sebenarnya?" selidik Yoga menatap Putih penuh penyelidikan.
"Hanya ingin bertemu denganmu."
Hal itu membuat kedua pria tampan dan berseragam matanya berkedut, alasan yang sangat bodoh. Tapi Yoga semakin percaya diri kalau pesonanya mampu menjerat gadis itu."
"ada berapa banyak anggota kalian?"
"untuk apa menanyakan itu?" tanya Satria yang mengharukan dahi sedangkan Yoga menunggu jawaban yang diberikan oleh putih.
"apa maksudnya dia berkata seperti itu?" tanya Satria yang berbisik pada Yoga.
"jangan tertipu oleh wajah cantiknya dia dan keluarganya sama-sama aneh." balas yoga yang juga berbisik.
Satria yang menangani kasus putih segera mengambil tindakan karena sudah melanggar tata aturan lampu lalu lintas, dia juga menelepon orang yang bertanggung jawab.
__ADS_1
"Aku ingin minta nomor telepon kakakmu."
"Buat apa kamu menanyakan kak Irene? Apa kamu menyukainya? Jika Iya, sayang sekali dia sudah punya tambatan hati yang sangat sesuai untuknya. Daripada mengharapkan hal yang tidak pasti, lebih baik mengharapkan yang ada di depan mata." Dengan sengaja putih mengerlingkan kedua matanya menggoda kedua polisi yang dapat mencuci otak dan juga pikiran.
"Apa untungnya aku minta nomor wanita gila itu, aku hanya ingin minta nomor pria yang sudah bertanggung jawab membogem wajahku hingga meninggalkan bekas memar."
"Apa? Aku tidak akan memberikan nomor kak Biru." Tolak Putih yang tidak ingin mendapatkan masalah, lebih baik dia memberikan nomor Iren yang masalahnya tidak akan rumit.
"Kamu harus memberikannya, ini perintah!" tekan Yoga yang serius.
hal itu terjadi cukup lama, hingga memakan waktu kurang lebih setengah jam lamanya dan membuat kedua pria berseragam sangat jengkel dengan kehadiran Putih, mereka akhirnya mengalah karena tidak ingin berurusan pada gadis yang dengan sengaja melakukan pelanggaran sungguh sangat konyol pemikirannya itu.
Putih pulang ke rumah Iren tanpa menekan bel terlebih dahulu, hatinya sangat gembira mendapatkan sebuah tambatan hati baru yang berseragam coklat hanya tinggal memilih siapa yang lebih pantas untuknya.
Baru saja dia ingin menyapa Iren, tapi terkejut dengan kehadiran Ariel yang sudah berada di dapur menyiapkan makanan, karena tidak ingin berpikir apapun, dia hanya duduk manis sambil menunggu masakan yang dihidangkan oleh pria itu untuk dimakan olehnya.
"Wah, kebetulan sekali perutku lapar." Celetuk Putih sembari menatap dua orang secara bergantian, dia heran mengapa Ariel bisa berada di sana dan menatap Iren penuh menyelidik.
"Apa kalian semalam tidur bersama?"
__ADS_1
Byur!
Iren yang baru saja menyeruput teh di dalam cangkir, mengeluarkannya setelah mengeluarkan pertanyaan yang diajukan Putih, karena pria itu harus menjawabnya sedangkan dirinya mencari aman.