Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Tinggal di rumahku


__ADS_3

"Kalian akan tinggal disini?" aku mengerjapkan mata beberapa kali mendengar keputusan Biru, dia mengangguk mengiyakan perkataanku. Aku sangat tidak menduga hal ini, semula rumahku sepi, tentram, dan juga damai. Kedatangan putih saja sudah membuatku pusing, bahkan aku pernah memintanya pergi setelah menginap dua hari, malah sampai sekarang dia semakin betah tinggal di rumahku. 


"Aku tidak punya pilihan lain, Mba kan tahu sendiri kalau Luna menunggu hitungan hari untuk melahirkan. Sementara aku tidak bisa meninggalkan usaha di Paris, jadi aku hendak menitipkan anak dan juga istriku di sini." 


Aku melongo sambil menatap adik tak tahu malu itu, setelah mempermalukan aku dengan kencan buta dari pria kenalannya membuatku ingin sekali menjitak kepalanya. 


"Emangnya aku gak punya pekerjaan lain apa." Tolakku secara terang-terangan. 


"Bisa saja aku menyewa jasa baby sitter di Paris, tapi Luna mau melahirkan di Indonesia. Itu sebabnya aku memohon pada Mba membiarkan istri dan juga anakku tinggal di sini untuk sementara waktu," bujuk Biru yang sebenarnya tidak ingin berjauhan dengan istrinya.


Aku menatap semua orang satu persatu tanpa terlewatkan, mereka semua adalah keluargaku walau kami beda ibu. Aku melihat Luna yang mengelus perutnya yang membesar, seketika itu pula hatiku terketuk. Aku yang tidak tegaan dan hatiku mudah tersentuh, akhirnya menyetujui permintaan mereka. 


"Baiklah, tapi berapa lama kamu akan menjenguk istri dan juga anakmu?" 


"Untuk sementara usaha di tangani oleh asistenku sampai Luna melahirkan, setelah lepas tali pusarnya baru lah aku pergi ke Paris seorang diri."

__ADS_1


"Tapi aku tidak bisa memantau Luna selalu, kamu harus menyewa jasa baby sitter dan juga seorang pembantu. Kamu tahu sendiri maksudku!" ucapku sambil melirik Putih yang tidak pernah membantuku membersihkan rumah, hanya tahu memakai saja. 


"Tidak perlu melirik ku begitu." Sewot Putih yang merasa tersindir. 


"Syukurlah kalau kamu sadar diri, dengan begitu aku tidak perlu berpura-pura lagi." Ucapku tersenyum kemenangan, sangat menyukai wajah cemberut dari adik perempuan ku itu. 


"Mba tenang saja, yang pasti aku tidak akan memberikan yang terbaik nanti." 


"Hem, tapi kapan hari kelahiran baby Boy?" 


"Menurut perkiraan akhir bulan, anak kedua biasanya maju lebih awal." Jelas Biru yang mengelus perut istrinya, memperlihatkan kemesraan mereka di hadapan kami. 


"Biar yang jomblo semakin iri." Kekeuh Biru membuat aku kesal, lain halnya dengan Putih yang tersenyum malu melihat keromantisan itu. 


"Hei, anak kecil seharusnya tidak melihat ini."

__ADS_1


"Anak kecil apanya, aku sudah lulus kuliah. Sebentar lagi aku mendapatkan pujaan hati dan menikah, tidak mau menjadi perawan tua." 


"Sial." Aku melempar bantal kecil yang dekat dengan jangkauanku ke arah Putih, tapi gadis itu sudah lari terlebih dahulu. 


Daripada aku pusing di rumah, aku memutuskan untuk pergi keluar menuju swalayan terdekat. Ada beberapa barang dan bahan yang hendak aku beli, juga ingin singgah ke toko khusus bayi. Ya, walaupun aku terlihat cuek tapi sebenarnya aku peduli pada mereka.


Setelah aku kembali dari swalayan, aku menuju toko bayi dan membeli semua kebutuhan bayi yang sejujurnya tidak aku pahami. 


"Bisa saya bantu Nona?" tanya salah satu pegawai toko.


"Aku ingin perlengkapan bayi, dan membungkusnya menjadi sebuah kado." 


"Sudah memilih?" 


"Belum, aku tidak tahu perlengkapan bayi." 

__ADS_1


"Baiklah, saya akan membantu dan merekomendasikan. Mari ikut saya, Nona!" 


"Tentu." Ucapku sambil melihat-lihat, aku sangat gemas dan ingin berlama-lama di sana, semua barang dan keperluan bayi menarik minatku.


__ADS_2