Diorama Cinta (RaniAnggara)

Diorama Cinta (RaniAnggara)
Tidak Ingin Diketahui Identitas


__ADS_3

"Baiklah, tunggu disana, aku akan datang secepatnya,"ucap Reyhan dan seketika sambungan teleponnya diputus. Reyhan bersiap-siap untuk menjemput Rania di rumah sakit.


"Dimana Rania, nak Rey?"tanya bibi Zahra dengan raut wajah cemas kepada Reyhan yang baru saja berbicara dengan Rania, keponakannya. Ketika bibi Zahra mendengar bahwa keponakannya tidak berada di rumah. Bibi Zahra langsung panik dan bergegas pulang ke kediaman sang kakak iparnya, Ranu Kuncoro untuk menanyakan apa yang terjadi sebenarnya dengan Rania.


"Bibi tenang saja, Ranran ada di rumah sakit...."kata Reyhan menjelaskan.


"Apa!?"teriak bibi Zahra langsung syok seketika mendengar bahwa keponakannya itu berada di rumah sakit. Zahra belum sempat mendengar perkataan Reyhan selanjutnya. Dia keburu memotong pembicaraan Reyhan yang belum selesai.


"Bagaimana bisa dia berada di rumah sakit? Apa yang terjadi pada Rania, Rey?"tanya bibi Zahra dengan paniknya. Reyhan mencoba menenangkan bibi Zahra karena kepanikannya mendengar kabar tentang Rania.


"Ranran bilang kalau dia baik-baik saja, bibi jangan cemas. Saya berangkat dulu ya bi, untuk melihat kondisi dan sekalian menjemput ranran,"pamit Reyhan lebih dulu karena dia juga penasaran dengan kondisi Rania di sana. Dan bagaimana bisa Rania sampai berada di rumah sakit segala.


"Hati-hati ya Reyhan,"ucap bibi Zahra ditemani oleh bik nah yang juga merasa cemas karena sang nona muda tidak kunjung tiba di rumah. Bik nah merasa bersalah karena tidak menemani nona Rania nya berbelanja tadi.


"Semoga Rania baik-baik saja,"ucap lirih Zahra berdoa akan keselamatan keponakan tercintanya, Rania Kuncoro.


*


Rania berhenti melangkah. Dia tidak sanggup menuju ke tempat dimana ada Nicko tadi. Rania takut untuk bertemu dengan wanita itu. Wanita yang sama pernah memarahi sang bundanya. Dan mengatakan bahwa dirinya bukan putri kandung dari sang bunda. Rania berjalan mundur secara perlahan. Rania mencoba mengerti kenapa wanita itu berada di depan ruangan yang sama dengan pemuda yang tadi ditolongnya tersebut.


Rupanya pemuda yang ditolongnya tadi adalah putra dari wanita itu. Rania begitu terkejut dan seketika dia baru teringat kenapa dia bisa merasa familiar dengan wajah pemuda tersebut. Ternyata pemuda adalah putra dari keluarga Handoko. Anggara Handoko.

__ADS_1


Rania segera berbalik badan dan pergi meninggalkan tempat putra keluarga Handoko itu dirawat. Rania bergegas pergi berniat untuk meninggalkan rumah sakit tersebut. Rania tidak ingin jati dirinya diketahui oleh keluarga Handoko. Rania tidak mau lagi berurusan dengan keluarga yang pernah menjadi atasan ayahnya dulu.


"Nona!"


"Nona!"


Dua kali panggilan itu membuat Rania merasa bahwa panggilan itu ditujukan kepada dirinya. Karena suara si pemanggil itu sama dengan suara pemuda yang mengaku bahwa dirinya bernama Nicko. Rania mempercepat langkahnya dan berpura-pura tidak mendengar panggilan dari pemuda bernama Nicko tersebut. Namun tiba-tiba sebuah tepukan di pundak Rania membuat dirinya berhenti seketika.


"Nona!"suara Nicko dengan napas ngos-ngosan sedang menahan langkah Rania. Sedangkan Rania sendiri hanya bisa diam tidak bersuara dan juga tidak bergerak.


"Ah, maaf menjadi menghentikan langkah nona, nyonya besar ingin bertemu dengan nona dan mengucapkan terima kasih kepada nona,"ucap Nicko setelah dia berhasil menata pernapasannya. Karena mengejar Rania yang berjalan begitu cepat.


"Saya....tidak perlu, saya harus cepat pulang. Keluarga saya sudah menunggu,"ujar Rania mencoba menolak ajakan dari Nicko untuk menemui nyonya besar yang dia maksud. Rania tahu bahwa itu adalah nyonya besar dari keluarga Handoko. Keluarga yang telah menjebloskan ayahnya ke dalam penjara.


"Maaf tapi saya...."


"Ranran..."


Rania menoleh ke asal suara yang telah memanggilnya. Rania melihat kehadiran Reyhan yang sudah menjemput dirinya ke rumah sakit.


"Reyhan,"Rania tampak senang melihat kehadiran Reyhan.

__ADS_1


"Ranran, kamu tidak apa-apa?"tanya Reyhan tampak cemas dengan mengecek kondisi Rania dengan teliti. Rania tersenyum melihat betapa perhatiannya teman kecilnya itu kepadanya.


"Aku tidak apa-apa ,Rey,"ujar Rania menenangkan Reyhan agar tidak mencemaskan dirinya berlebihan.


"Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja,"ucap Reyhan merasa lega setelah melihat kondisi Rania yang baik-baik saja.


"Rey, ayo kita pulang,"ajak Rania dengan suara pelan. Rania memberikan kode mata kepada Reyhan agar segera mengajaknya pulang. Reyhan menangkap kode mata dari Rania dan sempat melihat sekilas ke arah pemuda yang berdiri tidak jauh dari tempat Rania berdiri.


"Baiklah, ayo kita pulang,"ajak Reyhan langsung merengkuh tubuh Rania ke arah dirinya.


"Eh, tunggu nona, bolehkah saya..."Nicko hendak bertanya kembali kepada Rania tetapi Reyhan kali ini yang maju menghadang langkah Nicko.


"Maaf, mas, saya rasa lain kali saja bicaranya, dia juga butuh istirahat,"potong Reyhan lalu segera mengajak Rania pergi dari hadapan Nicko dan segera meninggalkan rumah sakit.


Nickolas merasa kecewa karena tidak bisa mendapatkan identitas dari gadis yang menolong tuan mudanya tersebut. Namun, Nickolas sempat mendengar bahwa lelaki yang menjemput gadis itu memanggilnya dengan sebutan Ranran. Nicko akan mencoba mencari tahu siapa jati diri yang sebenarnya dari gadis yang dipanggil ranran tersebut.


***


Iklan Author


Budayakan klik tombol like dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Karena komentar kalian adalah penyemangat bagi author.

__ADS_1


Terimakasih 😄


__ADS_2