
Ranu Kuncoro mendengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumahnya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sepertinya itu adalah suara mobil milik Reyhan yang sedang mengantarkan Rania pulang.
Ranu Kuncoro menutup sebuah album foto yang suka sekali dia buka saat sedang merasa kesepian berada di rumah. Akan tetapi, jika Rania sudah berada di rumah, dia tidak akan melakukan hal tersebut. Karena Rania, putrinya itu selalu nampak sedih jika melihat dirinya mulai berkaca-kaca saat memandangi foto almarhumah sang istri.
"Sampai bertemu besok,"terdengar suara Rania sedang berpamitan dengan seseorang. Rania sepertinya sudah turun dari mobil Reyhan. Ranu bergegas mengembalikan album foto itu ke dalam lagi di sebuah almari dekat ruang tamu.
Rania sudah berjalan menuju ke dalam rumah . Terdengar langkah kakinya yang sudah semakin mendekat. Rania kembali lagi ke tempat duduknya di ruang tengah sambil menyalakan sebuah siaran di televisi. Hanya untuk meyakinkan sang putri jika dia sedang asyik menonton acara di televisi.
"Ayah, belum tidur?"sapa Rania yang melihat sang ayah masih menonton televisi saat dirinya sudah pulang.
"Eh, Ran, kamu sudah pulang,"sapa balik Ranu dengan raut wajah tersenyum.
Rania berjalan duduk di samping sang ayah. Sekarang ayahnya sudah tidak seperti yang dulu lagi. Kondisi kesehatannya yang semakin menurun membuat tubuh sang ayah semakin kurus saja. Rania sudah memaksa sang ayah untuk melakukan berbagai macam pengobatan. Tetapi Ranu Kuncoro tampaknya sudah merasa pasrah. Dia hanya ingin bahagia bersama dengan keluarganya sampai maut menjemputnya nanti.
"Ayah, sudah makan? Aku bawakan nasi goreng kesukaan ayah. Kata Reyhan, ayah suka sekali dengan nasi goreng di warung pojok dekat gang masuk rumah. Jadi aku sebelum pulang mampir dulu di sana,"ujar Rania sambil menunjukkan dua bungkus nasi goreng yang biasa ayahnya minta belikan kepada Reyhan.
"Wah, kamu tahu sekali, nak, kalau ayah suka dengan nasi goreng ini,"ujar Ranu dengan bersemangat. Dia memang suka sekali dengan nasi goreng di warung pojok dekat gang tersebut.
"Semua itu karena Reyhan yang bilang kepadaku, ayah,"sahut Rania.
__ADS_1
"Iya, biasanya Reyhan yang selalu membawakan nasi goreng itu buat ayah. Anak itu sungguh perhatian denganku,"jawab Ranu. Rania tersenyum mendengar ucapan dari sang ayah tersebut.
"Baiklah, aku akan ambilkan piring dan sendok dulu di dapur ya, ayah,"ujar Rania kemudian dia segera beranjak ke dapur mengambil peralatan makan tersebut.
Keduanya pun sekarang sedang asyik menikmati nasi goreng berdua sambil menonton televisi. Rania tampak begitu senang melihat sang ayah yang makan dengan begitu lahapnya. Sesekali keduanya juga tertawa karena melihat kelucuan acara yang ada di saluran televisi mereka.
"Ini air mineralnya, ayah,"ujar Rania memberikan segelas air mineral kepada sang ayah.
"Terimakasih, nak,"ujar Ranu Kuncoro sambil menerima segelas air minum tersebut.
Setelah memberikan air minum kepada sang ayah, Rania pun ikut duduk di sofa ruang keluarga mereka. Rania bahagia sekali bisa membuat sang ayah tampak senang malam ini. Meskipun, itu hanya dengan sebungkus nasi goreng saja.
"Iya, ayah, aku sudah berusaha mencari lowongan pekerjaan di sini. Dan aku juga sudah mengirimkan beberapa lamaran. Semoga saja ada yang memanggilku dalam waktu dekat ini, ayah,"ujar Rania.
"Kenapa kamu tidak ikut bekerja dengan bibimu di sana, nak,"ujar Ranu Kuncoro. Karena menurut Ranu, kehidupan Rania di sana lebih terjamin daripada rania berada di sini. Akan tetapi Rania tidak setuju dengan pendapat sang ayah tersebut.
"Aku sudah lama tinggal bersama bibi di sana. Dan kini aku ingin tinggal bersama dengan ayah, karena hanya ayah yang aku punya. Aku ingin berbakti dengan ayah,"ucapan tulus Rania tersebut cukup menyentuh perasaan dari Ranu Kuncoro yang mendengarnya. Dia tidak menyangka bahwa putri yang telah dia anggap pernah membawa sial bagi kehidupan keluarganya itu justru orang yang begitu peduli kepadanya.
"Tuh, kan, ayah mulai bersedih lagi,"ujar Rania sambil memanyunkan bibirnya melihat kedua mata sang ayah yang mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Maaf, nak, maaf,"ujar Ranu Kuncoro sambil mengusap kedua matanya.
"Ayah, selalu merasa bersalah karena selama ini tidak bisa membesarkan dirimu dengan baik. Bahkan ayah kini yang justru merepotkan dirimu,"ujar Ranu Kuncoro mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini dia pendam sendiri.
Ranu tidak menyangka jika sang adik ipar mampu mendidik putrinya dengan baik seperti ini. Ranu sungguh sangat berterimakasih dengan Zahratusifa yang sudah bersusah payah membesarkan Rania. Bahkan membiayai seluruh kebutuhan hidup Rania sampai dia tumbuh dewasa seperti ini.
"Ayah, jangan berpikiran yang macam-macam lagi, ya. Aku tidak pernah menyalahkan ayah dengan apa yang telah terjadi. Semua itu adalah takdir Yang Maha Kuasa. Kita umatNya hanya bisa menjalankan apa yang sudah digariskan olehNya. Aku bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk membahagiakan ayah. Jadi, mulai hari ini, ayah jangan menyalahkan diri ayah lagi, ya. Aku akan sangat sedih jika ayah terus menerus menyalahkan diri ayah atas apa yang sudah terjadi. Yang lalu biarlah menjadi masa lalu. Aku ingin kita bersama-sama menyambut masa depan,"ujar Rania dengan penuh semangat dan harapan dihadapan sang ayah.
Ranu Kuncoro tersenyum sambil menepuk pundak sang putri. Ternyata putrinya kini sudah begitu dewasa dalam berpikir. Ranu Kuncoro tidak boleh lagi membuat putrinya bersedih.
"Iya, nak, ayah tidak akan lagi membuatmu sedih, ayah berjanji."
***
...Terimakasih sudah mampir membaca cerita ini. Terus dukung cerita ini dengan cara klik like, vote dan tulis komentar kalian sebanyak-banyaknya. Sambil menunggu cerita ini update, silakan mampir di cerita saya yang lain....
Salam cinta dari author ❤️
__ADS_1