
Pagi itu di kediaman keluarga Kuncoro sudah heboh dengan diri Rania. Kenapa seperti itu? Karena hari ini adalah hari kelulusan seorang Rania Kuncoro. Setelah tiga tahun menempuh pendidikan di salah satu sekolah swasta di kotanya. Akhirnya hari ini tibalah juga saatnya.
Zahratusifa sudah sibuk sedari pagi menyiapkan perlengkapan yang akan digunakan oleh sang keponakan. Begitu juga dengan bik nah yang ikut membantu majikannya. Upacara kelulusan kali ini begitu istimewa.
Kenapa dikatakan istimewa? karena seorang Rania Kuncoro hari itu akan memberikan sambutannya sebagai siswi dengan nilai kelulusan tertinggi. Zahra begitu bahagia melihat hasil kerja keras sang keponakan yang sudah berusaha ditengah kondisi keluarganya yang berantakan.
Zahratusifa begitu bangga dengan apa yang telah Rania lakukan. Bahkan Zahra tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis saat rania menyerahkan hasil nilai ujiannya. Disana jelas tertulis angka yang membuat mata Zahra terbelalak tidak percaya.
Zahratusifa memeluk Rania yang tampak bahagia menyerahkan selembar kertas yang menyatakan bahwa dirinya lulus. Bahkan kelulusan yang merupakan suatu kebanggaan bagi mereka semua.
"Wah non Rani cantik sekali,"puji bik nah saat melihat Rania menggunakan sedikit make up dan menggunakan seragam kelulusannya.
"Bukan begitu nyonya,"ujar bik nah meminta dukungannya kepada Zahra, bibi Rania.
"Bik nah benar, keponakan siapa dulu dong,"sahut Zahra menggoda penampilan Rania. Ya, memang apa yang mereka katakan itu benar adanya. Penampilan Rania sungguh berbeda dari biasanya. Dengan polesan sedikit make up tipis saja sudah membuat kecantikan Rania tampak lebih meyakinkan.
"Aduh, bibi Zahra dan bik nah ya, jangan mulai seperti itu. Aku malu tahu,"kata Rania merasa malu dengan apa yang mereka berdua katakan barusan.
"Sayang, kamu memang cantik sekali, kamu jangan malu, kamu harus percaya diri,"ujar Zahra memberikan semangat kepada keponakannya tersebut.
"Ah, bibi, aku sebenarnya bingung, aku belum siap memberikan sambutannya,"kata Rania sambil menghadap ke arah sang bibi Zahra meminta pendapatnya.
"Kenapa belum siap segala?"tanya bibi Zahra penasaran akan apa yang sedang dialami oleh sang keponakan.
"Iya, non, kenapa musti bingung, santai saja,"sahut bik nah ikut-ikutan membalas ucapan Rania.
"Iya...tapi bi...aku masih belum yakin bisa berbicara dengan lancar nantinya,"ujar Rania kepada sang bibi. Zahra tersenyum mendengar keluhan dari keponakannya tersebut. Dia tahu Rania tentunya merasa grogi untuk memberikan sambutanya di atas panggung nanti.
__ADS_1
"Kamu yang tenang saja sayang, kamu pasti bisa melakukannya. Kamu sudah berlatih beberapa hari ini dan bibi lihat kamu sudah bagus dalam membawakannya. Benar apa yang dikatakan oleh bik nah, dibawa santai saja. Jangan dibuat tegang, lebih rileks saja dan percaya pada kemampuan dirimu sendiri,"nasehat bibi Zahra dengan panjang lebar.
Rania mencoba menenangkan dirinya dan menarik napas panjang lalu menghembuskan nya secara perlahan-lahan. Memang agak membuat dia merasa legaan.
"Semangat ya sayang, kami semua akan selalu mendukungmu,"lanjut bibi Zahra memberikan ucapan penyemangat kepada keponakannya.
"Terimakasih bi, aku akan berusaha untuk tetap tenang saat melakukannya nanti,"ucap Rania memberikan janjinya kepada sang bibi.
Zahra memeluk tubuh Rania sekejap lalu mengelus wajah sang keponakan perlahan.
"Bibi bangga kepadamu, nak, sangat bangga,"ucap Zahra dengan setulus hati. Zahra mengusap air matanya yang masih sempat-sempatnya lolos melihat sang keponakan mengenakan seragam kelulusannya.
Kak Risa, kamu pasti bangga bukan melihatnya di sana. Putrimu sungguh mengagumkan, kak. Kau harus tahu kak, dia begitu mirip denganmu. Dan setiap kali melihatnya, membuatku selalu merindukanmu.
**
Rania beserta sang bibi sudah hadir di sana dan menempati kursi undangan yang sudah di sediakan.
"Ranran,"panggil Reyhan yang juga sudah hadir di sana lengkap dengan seragam kelulusannya memanggil Rania agar duduk di sampingnya.
"Hei, Rey,"ucap Rania senang. Ya, siapa lagi teman dekatnya di sekolah selain Reyhan. Rania tidak semudah itu untuk bergaul dengan orang lain. Apalagi sejak kasus yang menimpa keluarganya. Rania benar-benar berhati-hati dalam berbicara dengan teman sekolahnya. Rania tidak mau kalah dia nantinya akan salah berbicara.
"Rey, aku sedikit gugup,"bisik Rania di telinga Reyhan. Mendengar ucapan Rania membuat Reyhan menghela napas. Selalu saja Rania ini merasa tidak percaya diri. Padahal dia itu pintar dan cantik. Apalagi yang membuat dia tidak percaya diri.
"Ran, kamu pasti bisa, kamu harus semangat ya saat memberikan pidato perpisahan nanti,"kata Reyhan memberikan semangat teman sejak kecilnya itu. Dan juga gadis yang dia sukai selama ini.
Rania menghela napasnya untuk mencoba menghilangkan rasa gugupnya itu. Dia harus bersemangat kali ini. Pidato ini juga cuma hanya ada sekali seumur hidupnya. Dia harus tunjukkan yang terbaik demi orang-orang yang selalu mensupport dia selama ini.
__ADS_1
"Baiklah, Rey, aku akan mencoba yang terbaik,"ucap Rania kepada Reyhan.
Reyhan pun tersenyum mendengar ucapan Rania tersebut. Dan tiba-tiba saja Reyhan memeluk bahu Rania.
"Nah, ini baru gadisku,"ucap Reyhan membuat Rania malu karena dipeluk seperti itu oleh Reyhan.
"Astaga anak ini, kamu apa-apaan sih Rey, kita dilihatin banyak orang neh,"pekik Rania namun justru Reyhan tertawa mendengar nada kepanikan dari Rania.
"Bodo amat, kalau iri bilang saja bos,"ucap Reyhan dengan pedenya. Rania hanya bisa menepuk jidatnya melihat sikap konyol dari Reyhan tersebut.
Dan memang ada beberapa mata yang sebal melihat kedekatan keduanya. Bahkan ada yang membicarakan tingkah laku mereka dengan nada tidak suka. Akan tetapi, Reyhan yang mendengarnya pun hanya merasa cuek saja.
Dan kini tibalah acara yang sudah ditunggu-tunggu sejak tadi. Saatnya Rania Kuncoro memberikan pidato kelulusannya atas prestasi yang sudah dia raih sebagai siswa dengan nilai kelulusan tertinggi.
Pidato Rania pun paling ditunggu oleh Zahratusifa. Dia mengabadikan beberapa momen saat Rania berada di atas panggung. Begitu juga dengan Reyhan yang sibuk memotret Rania dari berbagai sudut sampai yang melihat tingkah lakunya ikutan geram. Ya, karena merasa cemburu akan sikap Reyhan yang begitu memperhatikan Rania.
"...dan kelulusan ini saya persembahkan untuk kedua orang tua saya yang sangat saya sayangi. Yang sudah membesarkan saya sampai saya bisa meraih keberhasilan ini. Dan juga orang yang selama ini sudah mendukung saya, bibi saya tercinta. Dan teman terbaik saya yang selalu ada untuk saya, Reyhan. Terimakasih untuk semua perhatian, dukungan dan juga kasih sayang yang sudah kalian berikan kepada saya sehingga saya bisa seperti ini."
Semua yang hadir di acara tersebut memberikan tepukan tangan yang meriah setelah Rania menyelesaikan pidatonya. Zahratusifa juga tidak kalah bangganya melihat keponakan tercintanya bisa berdiri di panggung sebagai siswa lulusan terbaik. Suatu kebanggaan yang tiada tara baginya.
***
Iklan Author
Budayakan klik like setelah membaca dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Dukung terus author dengan cara vote dan klik 5 bintang nya ya.
__ADS_1
Terimakasih.