Diorama Cinta (RaniAnggara)

Diorama Cinta (RaniAnggara)
Kesalahpahaman Masa Lalu


__ADS_3

"Jadi apa yang sebenarnya ingin anda katakan?"tanya Rania setelah kini keduanya sedang dalam perjalanan menuju ke kediaman Kuncoro.


Busyettt, ini cewek kagak ada basa-basi nya ya, langsung ke inti permasalahan aja, batin Anggara sambil fokus menyetir.


"Tuan muda,"panggil Rania sekali lagi karena tidak mendapatkan jawaban dari Anggara.


"Tolong jangan panggil aku tuan muda. Aku bukan majikan kamu. Lagipula usia kita juga tidak terpaut jauh,"ucap Anggara karena dia merasa risih mendengar sapaan yang digunakan oleh Rania kepadanya.


"Saya akan usahakan, jadi apa sebenarnya yang ingin anda bicarakan dengan ayah saya?"tanya Rania kembali. Dia penasaran dengan apa yang ingin Anggara bicarakan dengan sang ayah.


"Aku sebenarnya ingin meminta maaf."


"Meminta maaf? Untuk apa?"tanya Rania.


"Ya, minta maaf untuk semua kesalahpahaman yang pernah terjadi. Aku tahu kejadian itu membuat banyak perubahan untuk keluarga mu. Ijinkan aku untuk bertemu dengan paman Kuncoro,"ucap Anggara dengan nada memohon.


Rania sekilas menatap ke arah Anggara dan lelaki itupun juga sedang balik menatapnya. Rania segera memutuskan kontak mata diantara mereka berdua.


"Baiklah, tapi tolong jangan membahas hal lain yang membuat ayah menjadi terguncang. Kondisi kesehatannya tidak seperti dulu lagi,"ujar Rania.


Anggara tentu saja senang karena dia bisa menemui paman Kuncoro yang notabene dulu adalah orang kepercayaan ayahnya tersebut.


"Saya ingin menanyakan sesuatu,"kata Rania.


Anggara yang sedang menyetir pun menoleh.


"Tanyakan saja,"ujar Anggara singkat.


"Saya ingin tahu apakah benar anda yang merekomendasikan saya untuk masuk ke perusahaan Daniswara group?"ini adalah sebuah pertanyaan yang sejak awal mengganjal di benak Rania. Karena dia mendengar desas-desus yang kurang enak tentang bagaimana dia bisa diterima sebagai sekretaris pribadi di perusahaan tersebut.


Anggara tersenyum tipis mendengar pertanyaan yang memang dia yakini akan ditanyakan kepada dirinya.

__ADS_1


"Apakah ada masalah?"tanya Anggara.


"Saya mendapatkan desas-desus itu di perusahaan,"sahut Rania.


"Tidak perlu mendengarkan gosip yang hanya akan membuat dirimu sendiri terbebani,"tutur Anggara.


"Apakah benar anda yang membuat saya bisa masuk ke perusahaan?"tanya Rania kembali.


"Aku mengenal paman Steven Daniswara sejak kecil. Aku dengar putranya itu begitu pemilih. Dia mencari sekretaris pribadi yang tidak bertindak macam-macam. Aku memang merekomendasikanmu, tetapi urusan penerimaan itu sepenuhnya penilaian mereka. Aku sama sekali tidak ikut campur,"ujar Anggara menjelaskan.


"Bagaimana anda tahu jika saya melamar pekerjaan ke perusahaan Daniswara group?"tanya Rania kembali.


"Aku sempat mendengarkan percakapan temanmu saat ada meeting bersama,"ujar Anggara.


"Teman?"tanya Rania tidak mengerti siapa yang dimaksud oleh Anggara.


"Reyhan."


"Dia kekasih saya,"jawaban Rania cukup membuat Anggara terkejut.


Entah kenapa hatinya merasa berdenyut nyeri saat mengetahui berita ini.


"Oh, maaf, aku tidak tahu, selamat kalau begitu, kapan kalian akan menikah?"tanya Anggara meskipun dengan berat hati dia mempertanyakan hal tersebut.


"Secepatnya,"jawab singkat Rania.


Anggara hanya beroh ria mendengar jawaban yang cukup membuat hatinya mendadak nyeri itu.


Kenapa aku tidak rela jika mereka bersama ya.


......................

__ADS_1


"Tuan muda Anggara?"ucap Ranu Kuncoro terkejut saat lelaki muda yang ada di depannya tersebut memperkenalkan dirinya.


"Iya paman, saya putra sulung dari almarhum Irwan Handoko,"kata Anggara.


"Oh...tuan muda, maaf saya tidak tahu,"ucap Ranu dengan nada sopan karena bagaimanapun lelaki muda itu adalah anak dari sahabat sekaligus bos nya dahulu.


"Maafkan saya, jika baru sekarang saya menemui paman. Bagaimana kabar paman sendiri?"tanya Anggara menanyakan kondisi lelaki yang dulu menjadi orang kepercayaan ayahnya tersebut.


"Kabar saya baik, tuan muda. Bagaimana kabar nyonya? Apakah baik-baik saja?"tanya Ranu Kuncoro.


Anggara tersenyum,"baik, paman. Kedatangan saya kesini juga sebenarnya ingin meminta maaf kepada paman karena selama ini sudah banyak kesalahpahaman diantara keluarga kita. Karena kehilangan yang terjadi di keluarga membuat bunda menjadi bertindak seperti itu. Saya tahu jika ini semua menyakiti kedua belah keluarga. Saya dengan sepenuh hati meminta maaf dengan semua ini. Saya harap kedepannya diantara keluarga kita berdua tidak ada masalah kembali."


Ranu Kuncoro tersenyum mendengar ucapan putra sulung almarhum sahabatnya tersebut. Dia bangga mendengar pemikiran Anggara yang begitu bijaksana tersebut.


Rania datang menyajikan minuman untuk tamunya tersebut.


"Silakan diminum,"ujar Rania dan disambut senyuman oleh Anggara.


"Terimakasih."


Anggara dan Rania saling bertatapan sekilas. Senyuman yang diberikan Anggara cukup menjadikan perhatian Ranu Kuncoro.


"Nak, duduklah di sini,"ajak Ranu Kuncoro kepada putrinya, Rania, agar ikut duduk bersama mereka berdua.


Rania pun duduk di sofa yang bersebelahan dengan Anggara duduk. Hanya saja dia memilih tempat yang agak jauh dari Anggara.


"Saya sudah tidak memikirkan masa lalu tuan muda. Saya tidak menyalahkan nyonya, memang semua itu terjadi karena keteledoran saya sendiri. Saya tidak bisa menjaga tuan Handoko saat itu. Saya menyesal juga atas kepergiannya. Tetapi kehadiran tuan muda saat ini membuat saya begitu senang karena tuan muda tidak membenci saya dan keluarga saya,"ucap Ranu Kuncoro.


"Saya tidak ingin memperpanjang dendam masa lalu, paman. Setelah saya mengetahui kenyataan jika memang peristiwa itu terjadi karena ada yang mendalanginya. Saya tahu paman selama ini adalah orang kepercayaan ayah. Jadi paman tentunya tahu siapa saja orang yang pernah bermasalah dengan ayah?"tanya Anggara dengan nada serius.


Memang itulah sebenarnya yang ingin Anggara tanyakan selain permintaan maafnya.

__ADS_1


...****************...


...Terimakasih sudah setia menunggu setiap updatean nya. Salam cinta dari Author ❤️...


__ADS_2