Diorama Cinta (RaniAnggara)

Diorama Cinta (RaniAnggara)
Pertemuan tidak terduga


__ADS_3

"Dek, tunggu!"panggilan itu entah ditujukan kepada siapa. Rania semakin mempercepat langkahnya. Dan panggilan itu kembali terdengar.


"Dek, tunggu dulu!"entah mengapa perasaan Rania sepertinya tidak enak. Apakah itu panggilan yang ditujukan kepada dirinya. Dan yang membuat Rania terkejut adalah sebuah tepukan di bahunya membuat Rania menoleh dan melihat siapa yang memanggilnya tersebut.


Rania membelalakkan matanya melihat pemuda yang sedari tadi memanggilnya tersebut. Bagaimana dia bisa bertemu dengan dia kembali secara kebetulan seperti ini.


"Tunggu, kamu berjalan cepat sekali, kamu masih ingat denganku, bukan?"ujar Anggara dengan napasnya yang ngos-ngosan karena mengejar langkah Rania.


"Eh..."Rania tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pemuda itu ternyata masih mengingat dirinya.


Tiba-tiba rintik hujan mulai turun membuat Rania seketika mendongak menatap langit yang sudah berwarna abu-abu. Dan rintik-rintik itu seketika berubah menjadi butiran-butiran air hujan yang mulai membesar.


Rania begitu terkejut saat pemuda yang pernah ditolongnya itu tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya menuju emperan toko terdekat untuk berteduh.


Dan benar saja hanya selang beberapa detik saja hujan deras seketika mengguyur di tempat mereka berada tersebut. Rania tidak menyangka bahwa hujan deras akan turun secepat itu.


"Kamu tidak apa-apa?"tanya anggara melihat Rania yang tampak mengusap-usap tubuhnya yang sempat basah karena guyuran air hujan.


"Ah...tidak,"jawab Rania dengan singkat. Sebenarnya Rania tidak begitu menyukai pertemuan dengan pemuda ini. Tetapi apa boleh buat jika semuanya sudah terjadi.


"Kamu masih mengingatku, bukan? Aku orang yang pernah kamu tolong saat dikeroyok kemarin,"ujar Anggara menyakinkan Rania karena dari wajah Rania tampaknya dia enggan untuk bertemu dengan Anggara.


Rania melihat ke arah Anggara yang menunggu jawaban darinya. Rania tidak bisa mengelak lagi jika sudah bertemu seperti ini.


"Iya, aku ingat kok,"jawaban dari Rania tersebut membuat Anggara tersenyum senang mendengarnya.


Akhirnya dia bisa bertemu dengan seseorang yang pernah menyelamatkan nyawanya tersebut. Karena dia sempat berputus asa menemukan gadis ini ternyata tanpa dia sangka mereka akan dipertemukan secara kebetulan seperti ini.


"Anggara,"ujar Anggara sambil mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan dengan Rania. Melihat hal tersebut Rania tidak bisa menolaknya lagi bukan. Rania pun menyambut uluran tangan dari Anggara tersebut.


"Rania,"ujar Rania pada akhirnya menyebutkan juga nama dirinya. Dan Anggara entah mengapa menjadi begitu senang karena bisa mengetahui identitas dari gadis penyelamat nya itu.


"Aku sepertinya tidak bisa lama-lama,"ujar Rania seperti menghindari dirinya berlama-lama dengan Anggara.

__ADS_1


"Eh, tunggu, tapi ini masih hujan juga, kamu mau kemana?"ujar Anggara mencoba mencegah Rania untuk pergi. Karena hujan juga sedang mengguyur dengan derasnya.


"Aku bawa jaket, kok,"ujar Rania sambil mengeluarkan jaket dari dalam tasnya. Dia sudah enggan berada di dekat salah satu keturunan dari keluarga Handoko tersebut.


"Eh, tunggu, tunggu dulu,"cegah Anggara tidak mau Rania pergi begitu saja dari hadapannya. Dia menemukan gadis tersebut dengan susah payah. Kenapa begitu bertemu sepertinya gadis itu enggan untuk bersama dengan dirinya.


Rania menatap tangan Anggara yang memegang lengannya dengan erat. Anggara pun segera melepaskan pegangannya tersebut. Dia tidak sadar telah memegang diri Rania seperti itu.


"Maaf, maaf, aku hanya tidak ingin kamu pergi buru-buru,"ujar Anggara mencoba bernegosiasi dengan Rania yang merasa tidak nyaman berada di sisinya. Entah mengapa gadis itu bersikap demikian.


"Memangnya ada masalah apa lagi?"tanya Rania kepada Anggara.


"Oh, aku ingin berterimakasih padamu soal yang kemarin,"ujar Anggara dengan polosnya. Karena memang jika tanpa Rania menolongnya saat itu maka tentu Anggara tidak akan selamat.


"Aku sudah menerimanya, jadi aku permisi dulu, ya,"sahut Rania dan hendak bersiap-siap menerobos hujan dengan menggunakan jaket miliknya.


"Eh, tunggu, tunggu dulu, Rania,"ujar Anggara kembali memegang lengan Rania dan menahan gadis manis itu menerobos derasnya hujan. Melihat perilaku Anggara yang selalu menghalangi dirinya pergi itu membuat Rania kesal juga.


Anggara mengerutkan keningnya. Dia tidak tahu kenapa raut wajah gadis ini tampak tidak menyukai dirinya. Apakah dia pernah berbuat salah kepada dirinya. Ah, tapi niat anggara di sini adalah untuk membalas kebaikan dari Rania yang sudah pernah menolongnya tersebut.


"Kamu mau pulang?"tanya Anggara melihat sikap Rania yang kekeh ingin pulang tampaknya.


"Iya, aku sudah terlambat pulang, takut orang rumah sibuk mencariku,"ujar Rania memberikan alasan. Padahal itu hanya alasan dirinya saja untuk menghindari berlama-lama dengan Anggara.


"Kamu pulang naik apa?"tanya Anggara.


"Nanti juga ada angkot yang lewat,"sahut Rania.


"Aku antarkan kamu pulang,"putus Anggara sambil menggenggam tangan Rania.


"Eh, kamu mau apa? Tidak perlu, aku bisa..."Rania memutus ucapannya karena melihat reaksi Anggara yang mengambil jaket miliknya yang sedari tadi dia pegang.


"Tunggu, apa mau mu?"tanya Rania namun Anggara justru dia saja.

__ADS_1


"Maaf, karena cuma dengan begini kamu tidak akan terlalu kebasahan,"ujar Anggara lalu dia menjadikan jaket Rania tersebut untuk meneduhi bagian kepala Rania.


"Eh, kamu mau apa?"tanya Rania masih bingung dengan apa yang akan dilakukan anggara selanjutnya.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan menculikmu, kok. Aku membawa mobil, aku akan mengantarkanmu pulang,"ujar Anggara dengan senyum manisnya. Dan senyuman itu membuat Rania seketika terpana dengan ketampanan putra sulung keluarga Handoko tersebut.


Salah satu tangan Anggara memeluk bahu Rania dan satunya lagi memegang jaket untuk menghalau tetesan air hujan yang akan menyentuh wajah gadis manis itu.



Rania sempat mendongak melihat wajah Anggara yang serius menatap ke depan sambil melindungi diri Rania dari derasnya hujan tanpa memperdulikan dirinya sendiri yang menjadi basah kuyup dibuatnya. Kenapa pemuda ini begitu menarik perhatian dirinya.



Sedangkan Anggara sendiri juga bingung kenapa dia memperlakukan Rania seistimewa ini. Bahkan dia berani memeluk diri si gadis tersebut. Padahal ini adalah pertemuan mereka yang pertama kali setelah kejadian pengeroyokan dirinya tersebut.


Anggara memasukkan Rania lebih dulu ke dalam mobil sedangkan dirinya baru memasuki mobil setelahnya. Anggara tidak memperdulikan dirinya sendiri yang benar-benar basah kuyup dengan guyuran hujan deras saat itu.


Anggara melihat Rania tampaknya juga kebasahan meskipun tidak separah dirinya. Rania tampak mengelap-elap tangannya dengan jaketnya yang sudah basah tersebut. Anggara ingat jika di bangku belakang


ada kotak tisu. Dia bergegas mengambil beberapa tisu dan hendak membantu Rania mengeringkan dirinya.


"Eh, aku bisa sendiri,"ujar rania menanggapi perbuatan Anggara barusan. Melihat penolakan Rania tersebut membuat Anggara menjadi sadar diri dan canggung dibuatnya. Kenapa juga dia bersikap tidak sopan seperti barusan. Bagaimana kalau gadis itu nanti menjadi takut dengan dirinya.


"Haist, kenapa kamu lancang sekali,"rutuk Anggara dalam hati.


***


Iklan Author


Budayakan klik like setelah membaca dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya.


Terimakasih 💞

__ADS_1


__ADS_2