
"Aku mencintai Rania, paman,"jawab Reyhan dengan sorot mata yang tegas. Tampak sedikit kekhawatiran di raut wajah Reyhan karena dia takut pernyataannya ini nantinya akan ditolak oleh sang ayah dari Rania. Akan tetapi pemikiran Reyhan itu salah.
Ranu Kuncoro seketika tersenyum selang beberapa detik Reyhan memberikan pernyataan.
"Seperti yang sudah aku duga sebelumnya,"gumam Ranu Kuncoro dengan senyum simpul.
"Apakah aku salah, paman?"tanya Reyhan takut-takut karena mengira jika ayah Rania telah salah paham dengannya.
"Tidak, nak, aku menyetujui hubungan kalian berdua,"ucap Ranu Kuncoro dengan senyum mengembang.
Entah mengapa perasaan Reyhan kala mendengarnya begitu lega. Ini adalah sebuah restu yang dia harapkan sedari dulu. Dia ingin bisa menyunting gadis pujaannya tersebut.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak paman,"ucap Reyhan sambil mencium tangan ayah Rania.
Reyhan merasa sangat bahagia karena dia pada akhirnya mendapatkan juga restu dari ayah Rania.
"Iya, iya, nak. Sekarang tinggal kamu yang mengutarakan perasaanmu kepadanya. Dia seorang wanita tentu menunggu terlebih dahulu pernyataan darimu,"kata Ranu Kuncoro menasehati. Reyhan mengangguk-angguk mengerti.
"Baik, paman, aku akan mengatur waktu yang tepat untuk melamar putri paman secara pribadi. Sebelum nantinya aku akan membawa keluargaku untuk melakukan proses lamaran secara resmi,"ucap Reyhan dengan sungguh-sungguh.
"Bagus anak muda, tidak salah aku merestui hubungan kalian,"ucap Ranu Kuncoro dengan nada bangga.
"Tapi untuk sementara rahasiakan ini dari Rania dulu ya, paman. Aku ingin membuat sebuah kejutan untuknya,"ujar Reyhan meminta bantuan dari sang ayah Rania.
__ADS_1
"Oke, beres,"ucap Ranu Kuncoro sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.
"Eh...kalian sedang membicarakan masalah apa. Kok aku dengar ada seperti kesempatan begitu?"tanya Rania yang tiba-tiba muncul dari dalam rumahnya.
Ranu Kuncoro dan juga Reyhan mendadak mengubah sikap mereka menjadi dingin kembali seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Rania yang melihatnya pun merasa ada yang aneh dengan kedua orang dihadapannya ini.
"Ih, kalian berdua ini kenapa lho? Giliran ada aku pada diam semua. Hayo pada ngomongin apa tadi di belakang aku, jujur,"tanya Rania kepada ayah dan juga sahabatnya tersebut.
Rania memicingkan matanya menatap kedua lelaki itu yang merasa tenang-tenang saja.
"Sudahlah, kalian berdua bisa terlambat bekerja kalau masih saja berdebat di sini,"putus Ranu menyuruh kedua anak muda itu untuk segera berangkat bekerja.
"Ah, ya, paman benar, kami berangkat dulu ya, paman,"pamit Reyhan sambil meraih tangan Ranu Kuncoro.
"Ihhhh, sebenarnya ada apaan sih, Rey?"tanya Rania yang masih penasaran dengan apa yang baru saja kedua orang itu perbincangan saat dia masih di dalam rumah tadi.
Rania pun menghela napas panjang karena pada akhirnya dia tidak berhasil mengorek informasi apapun dari sang ayah dan juga sahabatnya itu.
"Aku pamit dulu ya, Ayah,"ucap Rania sambil mencium punggung tangan sang ayah.
"Kami berangkat dulu ya, paman,"ujar Reyhan ikut berpamitan.
"Iya, kalian hati-hati di jalan. Jangan ngebut, Rey,"pesan Ranu Kuncoro.
Ranu Kuncoro melihat kepergian keduanya dengan tatapan bahagia dan juga merasa lega.
__ADS_1
"Kamu pasti juga merasa senang di sana kan, Risa,"gumam Ranu Kuncoro sambil tersenyum tipis menyebut nama sang istri tercinta.
...----------------...
Anggara menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia meletakkan handphone nya begitu saja di atas meja kerjanya. Anggara benar-benar tidak habis pikir dengan sang adik yang begitu keras kepala. Bahkan seorang Aurora bisa menjadi seperti sekeras batu sekarang ini.
Anggara merebahkan tubuhnya dikursi empuk kerjanya. Dia memijit perlahan pangkal hidungnya. Dia merasa penat dan pusing sekarang tidak hanya memikirkan pekerjaan tetapi permasalahan di dalam keluarganya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!"ujar Anggara dan segera duduk kembali dengan benar.
Pintu ruangannya pun dibuka dari luar.
"Selamat siang, pak,"ucap Nicko memberikan salamnya saat memasuki ruangan sang atasan.
"Ya, ada apa?"tanya Anggara saat melihat asisten pribadinya itu masuk ke ruangannya.
"Sebentar lagi ada meeting di restoran dengan klien dari Singapura,"ucap Nicko mengingatkan.
Anggara melirik jam tangannya. Ya, sebentar lagi pukul 18.00.
"Baiklah, kita berangkat sekarang,"ucap Anggara kemudian beranjak dari tempat duduknya dan mengenakan jasnya kembali. Nickolas pun mengikuti langkah sang atasan yang berjalan di depannya tersebut.
...****************...
__ADS_1
...Terimakasih sudah setia menunggu setiap updatean nya. Salam cinta dari Author ❤️...