Diorama Cinta (RaniAnggara)

Diorama Cinta (RaniAnggara)
Maafkan Ayah, Nak


__ADS_3

Ranu berjalan gontai saat namanya dipanggil untuk menemui sebuah kunjungan dari keluarganya. Ranu Kuncoro melihat sang adik ipar sudah menunggu kedatangannya.


Ya, hari itu Zahratusifa datang berkunjung menemui dirinya. Maksud kedatangan Zahratusifa hari itu adalah ingin mengucapkan salam perpisahan sebelum dirinya pergi ke Singapura bersama dengan sang keponakan tercintanya.


Zahratusifa tersenyum ketika Ranu duduk dihadapannya.


"Mas, bagaimana kabarmu?"tanya Zahratusifa membuka percakapan diantara mereka berdua.


"Baik,"jawab Ranu Kuncoro dengan singkat. Zahra memang harus menerima kenyataan bahwa sang kakak ipar yang sekarang tidak lagi sama dengan yang dulu. Sejak kehilangan sang istri yang juga merupakan kakak kandung dari Zahra membuat Ranu Kuncoro menjadi dingin kepada siapapun.


"Syukurlah kalau keadaan mas Ranu baik-baik saja, aku senang mendengarnya,"ujar Zahra dengan senang hati.


"Ya,"lagi-lagi sebuah jawaban singkat yang meluncur dari bibir seorang Ranu Kuncoro.


"Ada apa kemari?"tanya Ranu Kuncoro seolah-olah dia tidak terlalu menyukai kehadiran dari sang adik ipar.


"Oh, iya mas, aku sebenarnya datang kemari untuk berpamitan kepada mas Ranu. Lusa nanti aku akan kembali ke Singapura. Dan tentu saja aku akan membawa Rania bersama denganku ke Singapura. Seperti yang pernah aku katakan kepada mas Ranu jika aku akan merawat Rania sampai dia dewasa nanti,"ujar Zahratusifa bersungguh-sungguh.

__ADS_1


Ranu Kuncoro hanya terdiam mendengar perkataan dari sang adik ipar. Memang seperti itulah seorang Ranu Kuncoro sekarang. Dia lebih banyak diam dan menjawab sesuatu dengan singkat.


"Oya, mas, ini aku bawakan foto kelulusan putri mas, Rania,"ujar Zahratusifa sambil memberikan sebuah foto dimana Rania sedang membawa tropi kejuaraannya.


Ranu Kuncoro menerima foto dari Zahra tersebut dan hanya melihatnya sekilas. Ranu tidak melihatnya secara detail. Zahra hanya tersenyum melihat respon yang diberikan oleh sang kakak ipar tersebut. Satu hal yang membuat Zahra merasa begitu kasihan dengan sang keponakan. Dengan melihat apa yang dilakukan sang ayah kepada dirinya.


"Rania lulus dengan nilai terbaik dan dia juga diijinkan oleh memberikan sebuah pidato kelulusannya di hadapan semua teman-temannya. Rania begitu cerdas mas, dan dia juga berbakat, sama dengan almarhumah mbak Risa,"ujar Zahra dengan bangga memuji kehebatan sang keponakan yang mengingatkan dia dengan sosok sang kakak yang juga hebat semasa dia sekolah dulu.


Ranu Kuncoro menjadi teringat akan sosok sang istri begitu adik iparnya barusan menyebutkan nama sang istri.


"Aku mau istirahat,"ujar Ranu Kuncoro kepada sang adik ipar seolah mengusir Zahra dari hadapannya. Padahal Zahra masih ingin menceritakan tentang sang keponakan kepada kakak iparnya. Tetapi perkataan Ranu menunjukkan jika dia tidak terlalu suka akan kedatangannya.


"Ya, terimakasih,"ucap Ranu dengan singkat kemudian di berjalan meninggalkan sang adik ipar kembali. Dia pergi meninggalkan Zahratusifa lebih dulu. Dia kembali menuju ke sel tempat dia ditahan akibat kasus penggelapan uang perusahaan yang dia lakukan.


Zahratusifa hanya menghela napas melihat sikap dan perilaku sang kakak ipar saat ini. Dia tahu jika memang tidak mudah bagi dirinya sekarang. Tetapi Zahra akan selalu berjuang demi sang keponakan, Rania. Dalam posisi apapun, Rania justru yang paling kasihan.


Ranu kembali ke ruang sel tahanannya. Ranu duduk di sudut ruangannya. Dia melihat kembali sebuah foto kelulusan dari sang putri, Rania Kuncoro. Gadis remaja itu sudah tumbuh cantik sekarang ini. Bahkan dia sudah mirip seperti Risa meskipun Risa bukanlah ibu kandungnya.

__ADS_1


Tetapi entah mengapa wajah dari Rania bisa hampir mirip dengan raut wajah almarhumah Risa, istrinya.


Entah mengapa tiba-tiba Ranu Kuncoro teringat akan kebersamaan mereka bertiga dan keindahan masa-masa itu. Ranu yang sekarang bahkan tidak pernah lagi mau peduli akan keadaan sang putri. Bahkan bertanya akan bagaimana kondisi Rania pun Ranu sudah melupakan hal itu.


"Maaf kan ayah, nak...."ujar Ranu Kuncoro dengan berderai air mata sambil melihat foto kelulusan Rania. Tidak terasa putrinya kini sudah mulai beranjak dewasa. Ranu menjadi merindukan sosoknya yang ceria tersebut.


Tentunya tidak mudah bagi Rania untuk menanggung apa yang sedang terjadi. Untung ada Zahra yang mau dengan sendirinya menampung putrinya.


"Maafkan ayah, nak, ayah tidak bisa menjaga mu dengan baik,"ucap Ranu Kuncoro dengan sepenuh hati.


"Ayah...ayah...juga merindukanmu,"ucap Ranu Kuncoro masih dengan air mata yang jatuh tanpa bisa dia tahan kembali.


***


Iklan Author


Budayakan klik like setelah membaca dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Dukung terus author ya.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2