Diorama Cinta (RaniAnggara)

Diorama Cinta (RaniAnggara)
Kerinduan Ini


__ADS_3

Ranu Kuncoro sedang duduk di ruang bersantai di rumahnya sambil menikmati secangkir kopi bersama dengan Reyhan Pramono. Keduanya sedang asyik mendengarkan isi email yang dikirimkan oleh Rania Kuncoro kepada sang ayah dan juga teman sejak kecilnya, Reyhan.


Aku sangat merindukanmu, ayah. Aku akan segera pulang setelah aku selesai di wisuda. Aku sudah mempercepat ujian kelulusanku. Tetapi entah kapan acara wisuda ini tiba. Waktu di sini terasa lama sekali bergerak. Sudah tidak sabar rasanya aku untuk kembali ke Indonesia. Aku sangat merindukan suasana di rumah. Aku juga sangat merindukan bunda.


Oya ayah, nanti aku akan mentraktir ayah makan yang enak-enak. Aku di sini ikut bekerja dengan bibi Zahra. Jadi, aku sedikit-sedikit memiliki penghasilan☺️ Lumayan untuk belajar bekerja agar tidak diam sendirian di apartemen bibi Zahra.


Ayah, jaga kondisi ya. Jangan suka begadang. Makan yang teratur. Jangan sungkan memberitahuku jika ayah membutuhkan sesuatu. Jaga kesehatan ayah ya. Aku sangat menyayangi, ayah. Baik-baik ya di sana. Aku akan segera kembali dan menjaga ayah di rumah. Aku janji akan membuat ayah bahagia.


Oya buat reyhan, makasih ya sudah menjadi merpati pos emailku. Nanti aku ganti dengan traktiran makan enak begitu aku sampai di sana. Aku janji😉


Oya ini adalah fotoku saat aku sedang mengikuti bibi Zahra di tempat usahanya. Aku cantik sekali bukan😆



Yang selalu merindukan kalian berdua.


Rania.


Reyhan berhenti dan menghela napas panjangnya setelah membaca isi pesan email dari Rania. Kenapa juga Rania selalu sedikit menuliskan sebuah pesan kepadanya. Dan lagi-lagi sebuah foto yang membuat Reyhan semakin merindukan sosok teman kecilnya yang sekarang sudah beranjak dewasa dan sangat cantik itu. Reyhan sudah tidak sabar rasanya bertemu kembali dengan Rania.


"Dia sungguh secantik ibunya,"ujar Ranu Kuncoro setelah melihat foto yang dikirimkan oleh Rania. Ya, memang Rania sungguh cantik dan manis sekali, batin Reyhan yang melihat sekali lagi foto Rania tersebut.


"Iya, paman benar,"sahut Reyhan yang tersenyum hanya dengan memandang fotonya saja. Ranu Kuncoro bukannya tidak tahu apa yang sedang dirasakan oleh pemuda di sampingnya itu. Dia juga senang jika pemuda itu nantinya dapat menjaga putrinya.

__ADS_1


"Balaslah pesan darinya. Sampaikan jika aku baik-baik saja. Dia tidak perlu mengkhawatirkan diriku. Biar dia fokus dengan pendidikannya di sana,"ujar Ranu memberikan pesannya agar disampaikan oleh Reyhan.


"Baiklah, paman,"ujar Reyhan begitu bersemangat membalas pesan yang dikirimkan oleh Rania tersebut. Ranu Kuncoro senang melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Reyhan. Mengingatkan dirinya saat masih muda dulu. Selalu bersemangat jika menghadapi orang yang dia cintai.


Ranu Kuncoro hanya bisa menghela napas saja. Dia memandang foto dirinya dan sang istri yang sedang menggendong Rania. Sungguh Ranu Kuncoro tidak menyangka jika dia akan berpisah secepat ini dengan Risa.


Andai saja dia tidak sebodoh waktu itu sehingga membuat Risa merasa terbebani. Mungkin Risa tidak akan keburu pergi meninggalkan dirinya. Ranu Kuncoro banyak merenungkan apa yang sudah dia lakukan sehingga keluarganya menjadi seperti sekarang ini.


"Paman, aku sudah menuliskan sebuah balasan pesan untuk Rania. Paman, bisa cek terlebih dahulu,"ujar Reyhan dengan sopan meminta ayah Rania mengecek pesan yang sudah dia tulis untuk Rania.


"Tidak perlu, paman percaya padamu,"ujar Ranu menolak permintaan Reyhan. Karena Ranu tahu Reyhan tentu akan menuliskan dengan baik pesan yang dia minta tadi.


"Baiklah, paman, kalau begitu email ini langsung dikirimkan ke Rania saja ya,"ujar reyhan kembali.


Reyhan selalu menyempatkan waktunya untuk menemani hari-hari Ranu Kuncoro selama baru bebas dari penjara. Reyhan menemaninya bermain catur, memancing, dan juga membalas email yang dikirimkan oleh Rania, seperti saat ini.


Dari situ Ranu Kuncoro sudah mengetahui jika Reyhan begitu peduli kepadanya karena Rania begitu menyayangi dirinya. Oleh sebab itulah, Ranu Kuncoro selalu menerima kehadiran Reyhan dengan baik.



Reyhan menyelipkan sebuah foto dirinya yang sedang berada di rumah Rania sebagai latar belakangnya. Reyhan tersenyum saat pesan email itu sudah terkirim kepada Rania. Semoga gadis itu segera membacanya, bayi Reyhan.


Tiba-tiba Reyhan teringat jika dia ada janji dengan temannya. Maka Reyhan pun buru-buru mematikan laptopnya.

__ADS_1


"Ah, paman, sepertinya aku harus pulang. Aku lupa jika ada janji dengan teman,"ujar Reyhan dengan nada sopan.


"Astaga, Reyhan, kurangi sifat pelupa mu itu, nak,"ujar Ranu sambil menggelengkan kepalanya. Reyhan hanya tersenyum nyengir mendengar nasehat ayah dari gadis yang disukainya.


"Aku pamit dulu ya, paman. Besok aku akan mampir kembali,"ujar Reyhan. Ranu Kuncoro hanya mengangguk saat Reyhan berpamitan kepadanya.


"Hati-hati di jalan, Rey,"pesan Ranu kepadanya.


"Iya, paman,"sahut Reyhan.


Ranu Kuncoro melihat kepergian Reyhan sampai tidak terlihat lagi. Ranu menghela napas kembali. Seperti inilah hari-harinya setelah bebas dari penjara. Terasa sepi setelah tidak ada lagi Reyhan yang menemani. Dan di saat seperti inilah Ranu selalu merindukan sang putri yang kini sedang berada jauh di negeri orang lain.


"Ayah, merindukanmu, nak,"ujar Ranu Kuncoro sambil menatap foto Rania yang terpajang di ruang keluarga tersebut.


***


Lemon Tea Author


Netz: Cepetan update tor


Auth: (Ngebut jari 10 digunakan ngetik)


Netz: Ceritanya langsung udah pada Gedhe dong

__ADS_1


Auth: Oke diturutin dah😉


__ADS_2