Diorama Cinta (RaniAnggara)

Diorama Cinta (RaniAnggara)
Pacar Bohongan


__ADS_3

"Ayolah Rania," ujar Anggara dengan sedikit merengek. Sikap Anggara membuat Rania risih karena menjadi pusat perhatian orang-orang saja.


"Baiklah- baiklah,"sahut Rania pasrah.


Anggara tersenyum bahagia mendengar jawaban Rania tersebut.


"Baiklah, ayo,"ujar Anggara sambil menarik tangan Rania untuk makan siang di cafe seberang kantor Rania tersebut. Anggara tampak senang karena rencananya berhasil. Sedangkan Rania tidak tahu saja kejutan apa yang sedang menanti dirinya di sana.


Rania terkaget-kaget karena dia merasa aneh saja. Kenapa dirinya mau mengikuti kemauan dari Anggara. Padahal selama ini hubungan diantara mereka berdua bisa dibilang tidak terlalu akrab. Bahkan Rania saja selalu menghindari Anggara karena masa lalu keluarga diantara mereka.


Tapi kenapa justru kini mereka seperti dua orang yang saling mengenal baik saja. Padahal Anggara juga bukan seseorang yang dekat dengannya seperti halnya Reyhan.


Astaga! Rania seketika menepuk jidatnya. Bagaimana bisa dia melupakan Reyhan dan justru memilih berjalan dengan lelaki ini.


Rania hendak melepaskan pegangan tangan Anggara namun lelaki itu sudah lebih dulu mengajak dia masuk ke dalam cafe mewah yang ada di depan kantor Daniswara group tersebut.


"Selamat datang tuan, nona,"sapa pelayan cafe tersebut dengan ramah.


Anggara dan Rania mengangguk menjawab sapaan tersebut. Setelahnya Anggara menyebutkan nomor meja yang sudah dipesan sebelumnya. Pelayan itupun menunjukkan letak meja yang dimaksud. Rania sempat mengerutkan keningnya saat dia melihat jika ternyata di meja yang dimaksud tersebut telah duduk seorang gadis muda cantik dengan dandanan yang menor seperti layaknya wanita sosialita kebanyakan.

__ADS_1


Otak Rania seketika berpikir untuk apa Anggara mengajak dia menemui seseorang yang dia pun saja tidak mengenalnya. Ada yang aneh sepertinya. Rania menarik tangan Anggara dan menghentikan langkah.


"Tunggu dulu,"ucap Rania menghentikan Anggara melangkah mengajaknya ke meja nomor delapan belas tersebut.


Anggara yang tahu akan apa maksud Rania menghentikan dirinya. Dia pun juga sudah menyiapkan jawaban yang tepat untuk mengatasi permasalahan ini.


"Apa maksudmu mengajak ku kesini? Dan siapa dia? Aku sama sekali tidak mengerti. Jelaskan padaku,"titah Rania dengan sorot mata yang tajam.


Anggara hanya membalas pertanyaan Rania dengan senyuman manisnya. Dia tahu jika Rania pasti akan menanyakan hal ini kepadanya.


"Baiklah, aku jelaskan secara singkat. Gadis yang duduk di sana adalah gadis yang ingin dijodohkan denganku. Aku tidak menyukainya jadi bantu aku membuat gadis itu tidak menyukaiku,"ucap Anggara dengan singkat dan jelas. Rania hanya menaikkan kedua alisnya mendengar penjelasan singkat Anggara tersebut.


"Oh, kalau itu maumu, maaf aku tidak bisa, kamu salah orang,"ucap Rania sambil membalikkan badannya berniat meninggalkan Anggara. Tetapi Anggara lebih dulu memegang lengan Rania. Dia menatap wajah Rania dengan tatapan memelas.


"Haiss...."diingatkan soal janji yang pernah dia ucapkan kepada Anggara membuat Rania setengah hati menuruti kemauan lelaki tersebut.


'Kenapa mulutku ini dulu pernah menjanjikan sesuatu kepada dia sih' gerutu Rania dalam hati.


"Aku mohon, Rania, setelah ini aku tidak akan menggangu mu lagi, aku janji,"ucap Anggara dengan tatapan memohonnya.

__ADS_1


Rania memicingkan sebelah matanya meminta kejujuran dari ucapan Anggara tersebut.


"Beneran, bantuin aku ya,"ucap Anggara dengan tampang imutnya.


"Issh...."Rania berdecak kecil kemudian menghela napas dalam sebelum dia memutuskan.


"Baiklah, tapi hanya sekali ini saja ya,"keputusan Rania tersebut membuat Anggara tersenyum lebar. Akhirnya, dia bisa juga membujuk gadis keras kepala dihadapannya ini.


"Terimakasih, Rania,"ucap Anggara dengan senyum lebarnya kearah Rania. Sedangkan gadis itu hanya menghela napas beratnya


"Terus aku harus apa di sini?"tanya Rania yang tidak tahu dia harus berbuat apa nanti di sana.


"Kamu cukup mengikuti apa yang aku perankan di sana nanti,"sahut Anggara dengan tersenyum simpul karena dia memang sudah menyiapkan trik yang tepat untuk menghadapi gadis yang duduk di meja nomor delapan belas tersebut.


"Peran apa maksudmu?"tanya Rania tidak mengerti arah pembicaraan Anggara.


"Peran sebagai pacarku,"ucap Anggara sambil menatap menggoda ke arah Rania yang terkejut mendengarnya.


"Apa!!!!?"

__ADS_1


...----------------...


...Terimakasih sudah setia menunggu setiap updatean nya. Salam cinta dari Author ❤️...


__ADS_2