Diorama Cinta (RaniAnggara)

Diorama Cinta (RaniAnggara)
Penyelamat Hidup


__ADS_3

Suara derasnya hujan masih terdengar di luar. Bahkan sesekali gemuruh petir menggelegar di langit. Rania membuatkan Reyhan minuman jeruk hangat. Dan juga beberapa makanan ringan yang dia miliki di lemari makanan di dapur.


Sore itu Rania sudah berjanji akan belajar bersama dengan Reyhan. Karena sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Rania sangat ahli dalam mata pelajaran matematika. Sedangkan Reyhan lebih menguasai bahasa Inggris. Jadilah mereka saling membantu satu sama lainnya.



Rania menengok derasnya air yang turun dari jendela dapur. Rania menghela napas panjang. Dia teringat akan sang bunda di saat seperti ini. Rania biasanya selalu membantu sang bunda membuat makanan ringan jika sedang hujan-hujan begini. Bundanya suka membuat camilan seperti pisang goreng, siomay goreng, ataupun martabak telur mini kesukaan Rania.


Air mata Rania pun menetes mengingat masa-masa itu. Rania terkadang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa bunda Risa telah berpulang kepadaNya. Rania masih sering merindukan sosok sang bunda dalam kehidupan sehari-hari nya. Namun, Rania tahu bahwa yang ada di tengah-tengah kehidupannya saat ini adalah adik kandung sang bunda, yaitu bibi Zahra. Keduanya memang hampir ada kemiripan.


"Non, air minumnya sudah siap,"ujar bik nah membuat lamunan Rania buyar seketika.


"Oh, iya, bik, terimakasih,"ujar Rania sedikit gugup. Bisa-bisanya dia melamun padahal ada Reyhan yang sedang menunggunya di ruang tengah untuk belajar.


"Mau bibik yang bawakan saja, non?"tawar bik nah karena dia tadi mengetahui kalau putri majikannya itu sempat menangis sambil menatap keluar jendela. Pasti nona mudanya itu teringat akan almarhumah bundanya.


"Ah, tidak perlu bik, saya bisa sendiri kok,"tolak Rania dengan halus. Rania pun membawa sendiri baki berisi minuman dan juga makanan ringan. Rania bergegas menuju ke tempat reyhan berada.


Bik nah melihat kepergian nona mudanya itu dengan wajah sedih. Bik nah merasa kasihan akan nasib sang nona yang harus menanggung beban hidup di usianya yang masih remaja.


"Wah, lama sekali baru datang. Aku sudah kehausan,"gerutu Reyhan yang sedari tadi menunggu kedatangan Rania yang tak kunjung tiba. Reyhan sudah merasa haus segera menyeruput air jeruk hangat yang dibawa Rania barusan.

__ADS_1


"Maaf ya lama,"ujar Rania merasa kasihan karena tadi dia melamun membuat Reyhan menunggu lama minumannya.


"Tidak masalah, sekarang rasa hausku sudah..."Reyhan menghentikan kata-katanya. Reyhan sekilas melihat wajah Rania yang tampak sayu. Reyhan mengelus pipi rania dan mengetahui sesuatu.


"Rey, apa yang kamu..."pekik Rania terkejut akan apa yang Reyhan lakukan padanya.


"Kamu habis menangis ya?"tanya Reyhan membuat Rania diam seketika. Dia memalingkan wajahnya dan menghindari tatapan mata dari Reyhan.


"Kamu ini apaan sih, sukanya kok menebak-nebak sembarangan. Sudahlah, ayo kita belajar kembali,"ujar Rania sambil mengambil kembali buku pelajaran miliknya. Kemudian berpura-pura menulis di depan Reyhan yang masih memperhatikan dirinya.


Reyhan tidak melanjutkan pertanyaannya. Dia tahu kalau dia meneruskan rasa ingin tahunya. Itu akan membuat Rania merasa bersedih. Reyhan tidak mau membuat Rania merasa bersedih kembali.


"Baiklah, ayo sekarang kita belajar bahasa Inggris,"kata Reyhan mengalihkan topik pembicaraan diantara mereka berdua.


"Eh, kamu ini jangan mencari alasan ya, aku ini berusaha membantu kamu agar nanti saat di Singapura kamu sudah fasih berbicara bahasa Inggris,"kata Reyhan dengan percaya diri.


"Ah, itu kan masih bisa dipelajari nantinya,"sahut Rania mencoba melobi kemauan Reyhan.


"Sudah, jangan membuat alasan, buka buku belajar kamu,"kata reyhan sambil membukakan buku belajar milik Rania yang tampak bermalas-malasan membukanya sendiri.


Rania tampak manyun mendengar perintah dari Reyhan tersebut. Reyhan menatap wajah Rania yang tampak fokus mengerjakan soal-soal yang ada di dalam buku latihannya.

__ADS_1


Maaf , aku masih belum bisa membantumu untuk bahagia kembali, Ran. Aku tahu kamu masih bersedih saat ini.


*


"Maaf, aku belum bisa menemukannya,"ujar Nicko yang berada di ruangan rawat inap rumah sakit. Anggara menghela napas perlahan. Memang tidak mudah menemukan seseorang yang bahkan namanya saja tidak diketahuinya.


"Sayang sekali, aku waktu itu belum sempat menanyakan namanya,"keluh Anggara merasa kecewa dengan dirinya sendiri.


"Aku akan mencoba mencarinya lagi, siapa tahu bisa bertemu dengannya,"ujar Nicko memberikan semangat kepada teman baiknya itu.


"Terimakasih, nic, sudah banyak membantu,"kata Anggara dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Sama-sama,"sahut Nickolas.


Siapa kamu sebenarnya? Aku ingin sekali berterimakasih kepadamu. Tanpamu, waktu itu mungkin aku sudah tidak tertolong lagi. Kamu adalah penyelamat hidupku.


***


Iklan Author


Budayakan klik tombol like dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Karena komentar kalian adalah penyemangat bagi author.

__ADS_1


Terimakasih 😄


__ADS_2