
Malam ini di kediaman Kuncoro sedang banyak tamu yang datang dan ini adalah sebuah pembicaraan serius yang sedang mereka bahas.
Ranu Kuncoro duduk bersebelahan dengan sang putri, Rania Kuncoro. Lalu disebelahnya juga duduk sang bibi yang telah datang dari luar negeri, bibi Zahra.
Keluarga Reyhan pun sudah bersiap dengan apa yang dia bawa dan maksud kedatangannya ke rumah keluarga Kuncoro pun sudah dia utarakan. Reyhan begitu bahagia malam ini. Pada akhirnya sang pujaan hati bisa dia dapatkan. Setelah sekian lama dia menanti dan berjuang untuk meluluhkan hati Rania. Malam ini gadis pujaan hatinya itu mau bersedia menjadi tunangannya.
Reyhan menghela napas panjang merasa lega. Setelah sebuah cincin tersemat di jari manis sang kekasih yang pertanda bahwa gadis itu sudah menjadi tunangannya. Dia sudah lama menantikan hal ini terjadi.
Rania juga tampil cantik malam ini dengan dress batik selutut yang begitu cantik. Pakaian couple yang dikenakannya bersama dengan Reyhan menambah nuansa romantis diantara mereka berdua.
Kedua keluarga begitu bahagia menyaksikan kebahagiaan yang terpancar dari wajah kedua putra putri mereka.
Zahra menatap ke arah sang kakak ipar. Dia melihat wajah Ranu Kuncoro yang tampak berkaca-kaca. Dia tahu bagaimana perasaan sang kakak ipar tersebut. Melihat putri tunggalnya itu akhirnya bisa bersanding dengan lelaki yang selama ini dekat dengannya. Tentu ada perasaan bahagia yang terselip dan juga kesedihan karena nantinya akan terpisah dengan sang putri jika sudah berumah tangga.
"Jadi soal pernikahan, bagaimana?"tanya ayah dari Reyhan.
Ranu dan Zahra saling bertatapan. Sebagai orang tua dari calon mempelai wanita tentu mereka tidak ingin terlalu lama menunda pernikahan setelah lamaran. Semakin cepat semakin baik. Bukankah niatan yang baik itu harus segera dilakukan. Tidak perlu menunda-nunda lagi. Tetapi mereka juga butuh persiapan.
__ADS_1
"Bagaimana jika dua bulan lagi setelah acara lamaran ini. Karena kami juga membutuhkan persiapan untuk acara pernikahan,"ucap Ranu Kuncoro.
"Baiklah, jika itu yang dimau, kami ikut saja,"jawab Ayah dari Reyhan.
"Kalian berdua bagaimana?"tanya bibi Zahra kepada Rania dan juga Reyhan. Kedua orang itu justru saling pandang dan tersenyum. Rania mengangguk perlahan ke arah Reyhan.
"Kami setuju dengan keputusan kalian,"ucap Reyhan mewakili suara Rania juga.
Keluarga keduanya pun saling tersenyum dan mengucapkan syukur atas jawaban dari kedua anak mereka.
...----------------...
Sedangkan di salah satu rumah sakit Singapura.
Keadaan di ruangan itu begitu hening. Semua menunggu kondisi Anggi yang masih tertidur pasca operasinya. Abimanyu duduk di samping brangkar sang istri sambil memegang tangan kanan. Begitupula dengan sang bunda, Maya Handoko. Yang duduk di sebelah kiri putrinya sambil tak henti meneteskan air mata dipipinya. Dia sungguh tidak percaya akan kehilangan seorang cucu yang sudah dinantikannya selama ini.
Anggara sendiri duduk di sofa ruangan tersebut. Dia menatap kasihan kepada adik perempuannya yang masih tergolek lemah tak berdaya di atas brangkar. Anggara mengusap wajahnya kasar. Dia tidak menyangka akan seperti ini pada akhirnya.
__ADS_1
"Eemmmm...."
"Anggi..."
"Sayang..."
Ketiga orang yang ada di ruangan itu seketika menuju ke ranjang pasien mendekati tubuh Anggi yang masih tergolek lemah. Perlahan wanita cantik membuka kedua matanya.
"Bunda...."
Maya Handoko seketika mendekati tubuh sang putri.
"Iya, nak, ada bunda di sini,"jawab Mira sambil menggenggam tangan lemah putrinya.
...****************...
...Terimakasih sudah setia menunggu setiap updatean nya. Salam cinta dari Author ❤️...
__ADS_1