
"Syukurlah kamu sudah bisa pulang, nak,"ujar Maya Handoko yang merasa sangat senang setelah mendengar dokter sudah memperbolehkan putranya untuk keluar dari rumah sakit.
"Bunda akan mengurus anak-anak yang telah melakukan pengeroyokan kepadamu itu,"sahut sang bunda dengan nada penuh amarah.
"Sudahlah, Bun, aku bisa mengatasinya sendiri,"sahut Anggara dengan tenang. Bunda Maya tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh putra sulungnya itu.
"Memang apa yang ingin kamu lakukan? Balik mengeroyok mereka? Kamu ingin bermasalah? Sudahlah, biar bunda yang mengurusnya dengan cara bunda,"tukas Maya Handoko dengan memaksa. Dia tidak ingin nanti justru anaknya yang dilaporkan ke pihak yang berwajib oleh orang tua dari anak-anak yang telah mengeroyok anaknya tersebut.
"Tapi ini adalah masalah pribadiku, bunda,"sahut Anggara masih tidak mau mengalah. Dia ingin menyelesaikan permasalahannya sendiri. Anggara tidak mau ibundanya sampai ikut campur permasalahannya.
"Tidak, Anggara, kali ini bunda akan ikut campur. Mereka sudah sangat keterlaluan. Mereka harus menerima hukuman yang setimpal. Beruntung kamu masih hidup sampai saat ini. Kalau sesuatu terjadi kepadamu. Bunda akan benar-benar tidak mengampuni mereka,"sungut bundanya dengan nada berapi-api. Anggara terdiam sudah setelah mendengar perkataan sang bunda.
Memang tindakan mereka itu sungguh keterlaluan. Mereka sudah hampir menghilangkan nyawa Anggara waktu itu. Andai saja gadis itu tidak cepat menolong dirinya.
"Lalu bagaimana dengan gadis yang menolong kamu tempo hari? Apakah kalian sudah tahu nama dan alamatnya?"tanya Maya kembali. Namun, Anggara hanya menggelengkan kepalanya.
"Kami tidak tahu siapa dia dan juga dimana alamat rumahnya. Aku berhutang nyawa kepadanya. Tetapi dia seakan menghilang begitu saja,"ujar Anggara dengan nada sedih.
"Sayang sekali, padahal bunda juga ingin berterimakasih kepadanya. Dia sudah berani menyelamatkan dirimu saat itu. Padahal dia hanya seorang diri. Andai bunda bertemu waktu itu dengannya. Pasti bunda bisa menemukan keberadaannya sekarang,"ujar bunda Maya.
"Menurut Nicko, keluarganya keburu datang menjemputnya sebel Nicko tahu identitas gadis itu,"kata Anggara.
__ADS_1
"Dia pasti berasal dari keluarga baik-baik. Karena dia bisa memiliki hati yang begitu baik,"sahut bunda Maya.
"Aku juga berusaha untuk menemukannya, bunda,"kata Anggara.
"Tunggu, bukankah waktu Nicko tahu tentang keberadaan kamu di rumah sakit itu karena dihubungi oleh dia. Apakah Nicko tidak tahu nomor handphone dia?"tanya bunda Maya merasa mendapatkan sedikit informasi tentang gadis tersebut.
"Yang dia gunakan adalah handphone ku, bunda. Dia menghubungi Nicko karena aku memberikan handphone ku kepadanya. Dan meminta dia menghubungi Nicko,"jawab Anggara. Dan sang bunda Maya hanya bisa menghela napas panjangnya.
"Itu artinya tidak mungkin bagi kita menghubunginya, bukan,"sahut bunda Maya mengerti.
"Ya, semoga suatu saat aku bisa bertemu dengannya kembali. Meskipun aku hanya samar-samar mengingat wajahnya,"sahut Anggra berharap.
"Baiklah, Bun,"jawab anggara.
Kamu ada dimana? Aku ingin sekali bertemu denganmu kembali.
*
"Bibi, bagaimana kondisi ayah disana?"tanya Rania ketika bibinya pulang dari menjenguk ayahnya di Lembaga Pemasyarakatan.
"Dia baik-baik saja,"sahut bibi Zahra dengan senyuman di wajahnya. Dia tidak tega untuk mengatakan secara detail kepada keponakannya tersebut. Dia nanti pasti akan sedih memikirkan nasib ayahnya.
__ADS_1
"Apakah bibi sudah menunjukkan video kepada ayah? Lalu bagaimana reaksi ayah melihatnya?"tanya Rania antusias. Karena dia masih belum cukup umur maka tidak diperbolehkan bertemu dengan ayahnya. Maka Rania membuat video singkat untuk ayahnya.
Bibi Zahra hanya menganggukkan kepalanya.
"Ya, ayahmu senang melihatmu baik-baik saja. Dia juga khawatir kamu terus menerus bersedih dan itu menjadi beban pikiran ayahmu,"ujar bibi Zahra.
"Maaf, bi, aku tidak tahu kalau ayah menjadi terbebani oleh itu. Baiklah, aku akan berusaha tidak lagi bersedih agar ayah tidak lagi banyak berpikir,"kata Rania setelah mendengar keluh kesah sang bibi dengan kondisi ayahnya disana.
"Baguslah, nak. Kamu bisa mengerti apa yang bibi maksud. Sudahlah, sekarang kita makan siang bersama. Bibi beli makanan kesukaan kamu. Ayahmu yang berpesan untuk membelikan bibi masakan ini,"ujar bibi zahranya. Rania begitu senang mendengar ucapan bibinya. Rania bahagia karena ayahnya sangat memperhatikan dirinya.
"Baiklah, bi, aku ganti baju dulu ya, laku kita makan bersama,"sahut Rania dengan wajah bahagia lalu bergegas menuju kamar tidurnya. Zahratusifa begitu senang melihat ekspresi kebahagiaan yang ditunjukkan oleh keponakannya tersebut.
Maaf, nak. Bibi telah berbohong kepadamu. Tetapi ini semua bibi lakukan karena bibi tahu kamu sangat menyayangi ayahmu. Dia masih berduka dan tidak mau berbicara apapun kepada bibi. Bibi tidak ingin membuatmu sedih sehingga bibi mengarang semua cerita ini.
***
Iklan Author
Budayakan klik tombol like dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Karena komentar kalian adalah penyemangat bagi author.
Terimakasih 😄
__ADS_1